
...Kuteguhkan pijar yang memercik raga...
...Menembus bayang kelam...
...di sebuah persimpangan...
...Anganku kabur...
...Terhujam beribu angin...
...yang kasat di tengah fartamorgana...
...Luluhkan pikiran yang semestinya tak beranjak...
...Bagai bukit tanpa batu...
...Begitu sulit untuk kupijak...
...Mengingat logikaku...
...Menepis sembilu...
...Menerpa keyakinanku...
...Bersama badai lara yang begitu dingin...
...Runtuh......
...(Feliks Kyler)...
...******...
Berjalan penuh semangat menggapai senyuman yang selalu terpatri. Langkah terasa ringan seperti hendak melayang. Mengumandangkan syair cinta yang akan sampai pada pemiliknya, diiringi irama nada dari balik dada.
Harapan pupus saat senyum indah terukir bukan untuknya. Namun, pada pria yang telah menyakiti dan memperlakukan dirinya bak jalangg. Terkadang nasib tidak adil bagi orang yang bersikap baik karena sering kali berada di posisi tersakiti juga tertindas.
"Feliks, sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Rona yang baru menyadari kedatangan Feliks.
"Baru saja kok, kamu sedang asyik mengkhayal jadi aku tidak mau mengganggu," sarkas Feliks. Dia menyodorkan Barbequed Snags lalu duduk di samping Rona. Matanya tak lepas dari bibir mungil yang berputar-putar tengah menikmati makanannya.
Feliks beberapa kali menelan saliva seraya menyapu bibirnya menggunakan lidah. Semakin diperhatikan, bibir Rona semakin seksi dan menggoda. Pantas saja Edward dengan mudah jatuh hati pada gadis di sampingnya karena Rona memiliki daya tarik yang terpancar dari hati.
"Kok tidak dimakan, apa kamu tidak suka?"
Belum sempat Feliks menjawab, Rona sudah lebih lebih dahulu bertanya kembali. "Kalau tidak suka, buat aku saja ya?"
__ADS_1
Feliks menganggukkan kepala dan Rona menarik makanan dari genggamannya, dia kembali asyik menikmati setiap gigitan. Dan Feliks dia membayangkan bila bibirnya yang tengah digigit Rona.
"Ah kacau-kacau!" racau Feliks sembari menepuk-nepuk kepalanya. Rona terheran-heran melihat tingkah laku absurd dari asisten Edward.
"Kamu kenapa?" Rona mengangkat kedua alisnya ke atas dengan raut wajah melongo. Pipi Feliks memerah karena salah tingkah diperhatikan dan ditatap sangat intens oleh Rona. Bola matanya menyipit melihat noda saus di bawah bibir Rona. Feliks merentangkan tangan lalu membelai bibir Rona menggunakan ibu jarinya.
"Terima kasih Feliks, kamu sudah seperti adegan di drakor saja," sindir Rona. Feliks menggaruk kepala dan tersenyum miring, kemudian menyandarkan tubuhnya ke batang pohon. Dia menatap langit malam yang sangat cerah, dengan bintang-bintang dan bulan purnama sebagai hiasan. Menambah rasa syahdu meski hatinya tercabik dan sedikit mati rasa.
"Rona, coba tengok ke atas!" titah Feliks. Gadis itu mendongakkan kepala lalu berseri-seri. Mata indahnya bersinar menangkap keindahan yang sangat jarang dia temui.
"Langit malam ini indah sekali Feliks!" Rona turut menyandarkan tubuhnya dan terus memandangi lukisan Tuhan. Namun, dering dari suara ponsel menghenyakkan lamunannya.
"Edward?"
Rona
Ya, Edward?
Edward
Kamu di mana Rona? Cepatlah pulang!
Rona
Aku sedang di Street Food
Edward
Rona
Iya-iya aku pulang, bawel!
Rona menutup telepon lalu mendengus kesal. Dia merasa hidupnya tidak sebebas dahulu. Saat ini dia terkekang di bawah kendali pria yang baru saja dikenalinya.
Dengan lunglai, Rona mengangkat tubuhnya dan menautkan tas selempang ke atas pundak. Mulutnya komat-kamit menggerutu dan mengeluarkan umpatan. Sedangkan Feliks dia meringis memperhatikan kelakuan gadis di depannya.
"Ayo pulang!" bentak Rona yang melihat Feliks masih saja duduk diam. Laki-laki itu terkesiap lalu bangkit dengan bersigera.
"Lenglet sih!" umpat Rona.
Feliks kembali menggaruk puncak kepalanya karena merasa menjadi sasaran kekesalan Rona. Dia hanya bisa pasrah lalu berjalan mengikuti Rona dari belakang.
"Ayo cepat Feliks!" suruh Rona. Feliks sedikit berlari untuk menyejajarkan posisinya, seraya turut merutuk di dalam hati.
...***...
__ADS_1
Terdengar suara bel berbunyi, laki-laki yang tengah menunggu wanitanya langsung membuka pintu dan menyambut dengan sumringah. Rona masuk ke dalam apartemen seraya menatap ke sekeliling yang sudah dipasang ornamen-ornamen dan dekorasi warna-warni. Balon di setiap sudut ruangan, bunga-bunga indah dan tidak ketinggalan tart ulang tahun.
"Selamat ulang tahun..." ucap Edward antusias. Dia mengecup pipi Rona kiri dan kanan secara bergantian, lalu menuntunnya menuju ruang keluarga. Nampak Leona tengah menunggu dengan setumpuk hadiah yang tertata di atas meja.
Edward mengangkat tart yang dikelilingi oleh lilin-lilin kecil, lalu menyalakan api. Leona ikut beranjak dengan Feliks yang merapat. Rona melihat semua orang dengan wajah bingung dan linglung.
"Ayo make a wish," pinta Edward. Namun, Rona masih saja terdiam.
"Kenapa diam Rona ayo make a wish terus tiup lilinnya." Leona yang mulai tidak sabar, menegur dengan suara yang sedikit meninggi.
"Ta- tapi aku tidak sedang berulang tahun," jawab Rona pias. Dia menatap ke arah Edward yang juga tengah menatapnya. Rona lalu mengeluarkan kartu identitas untuk meyakinkan orang-orang yang memberinya kejutan.
"Lihat ini, ulang tahunku masih dua bulan lagi..." tutur Rona. "Tapi terima kasih banyak untuk kejutan yang membuatku sangat terharu...."
Edward merasa malu dan kecewa, dia menaruh kembali kue tart yang sudah dipegang lalu berjalan menuju balkon. Dia berdiri di depan pagar dengan tangan mengerat kesal. Terlihat urat-urat hijau merentang di sela-sela tangannya. Maksud hati ingin mengambil hati Rona, yang ada malah dia yang dibuat malu.
"Kakakku kalau kecewa ya begitu, Rona. Tolong hibur dia ... Kakakku menyiapkan ini semua seorang diri, padahal kondisi badannya belum pulih...."
Rona menyimpan tas selempang dan melepas kacamatanya. Dia menarik langkah untuk menghampiri Edward yang tengah berdiri seorang diri. Sementara Feliks, dia merasa bersalah karena informasi yang dia berikan, data palsu.
"Hai... terima kasih ya kejutannya." Rona berdiri di samping Edward lalu menatap pemandangan kota, nampak lampu berkerlipan sejauh mata memandang. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Edward, lalu mengangkat tangan menunjuk sesuatu yang jatuh dari langit.
"Lihat Edward, ada bintang jatuh!" tunjuk Rona. "Ayo kita make a wish!" Rona menelungkupkan kedua tangan di atas dada seraya memejamkan matanya. Sedangkan Edward menolehkan kepala sepintas lalu kembali ke posisi semula.
"Itu mitos, Rona. Aku tidak percaya hal di luar nalar seperti itu!" balas Edward. Mata Rona menyipit dan melirik ke arah Edward dengan sudut mata. Lalu meneruskan permohonan-permohonan yang terucap di dalam hati.
"Meski mitos, tetapi aku percaya setiap doa yang terucap, terdengar oleh Sang Maha Pencipta."
Edward memiringkan tubuhnya dan kini berdiri menghadap gadis yang tengah memandangi langit. Wajahnya mendekat, satu kecupan pada pipi kanan membuat gadis itu berhenti berbicara dan tubuhnya menegang. Rasa hangat dari wajahnya menjalar ke seluruh tubuh. Dia tidak berani menoleh karena wajah Edward masih berada dekat dengan pipinya.
"Lihat aku!" pinta Edward. Rona menggelengkan kepala. Karena kalau dia menolehkan wajah, bibir mungilnya akan beradu dengan bibir merah milik Edward. Karena itu dia memilih diam terpaku meski hatinya dagdigdug berarakan.
Edward yang tidak sabar, menarik wajah Rona dan langsung mencumbunya. Gadis itu membulatkan mata sedangkan Edward terpejam, menikmati bibir dingin gadisnya yang kembali menghangat. Sedangkan Feliks merasakan sesak dan nyeri di ulu hati melihat adegan yang menyakitkan di depan mata.
"Uh... so sweet," gumam Leona. Feliks memalingkan wajah lalu memilih keluar dari ruangan. Dia tidak ingin terus tergores oleh perasaan yang mulai menyiksanya.
...******...
...Terimakasih untuk semua, Senja tidak akan pernah bosan mengucapkan terimakasih. Dan jangan bosan juga membaca ucapan terimakasih ya......
...Enjoy your day...
...and Happy Holiday...
...Mampir di karya temanku juga yuk,...
__ADS_1