Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Roy Agresif


__ADS_3

Siang ini langit begitu mendung. Awan putih menggumpal, dengan kristal-kristal kecil yang sekejap mata akan menjadi tetesan hujan. Angin bertiup landai, seiring detik berubah cepat. Keadaan hari yang terik, kini tergantikan kelabu. Membawa pesan damai bagi siapa pun. Tapi tidak dengan semua penghuni mansion keluarga Liam, yang saat ini dijejali amarah dan kejengahan kepada seorang pemuda tidak tahu diri.


"Ezio... ini Daddymu, Nak. Kemarilah...," Roy berjalan mendekat sembari merentangkan tangan. Sedangkan Ezio, dia semakin menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan Maria. "Jangan takut sayang... Daddy hanya ingin memelukmu saja...."


"Om bukan Daddy-ku. Ezio tidak kenal dengan Om! Pergi sana, pergi...!!" pekik Ezio ketakutan.


"Tidak sayang... aku ini Daddy-mu, Daddy Roy!" Roy masih berusaha membujuk Ezio. Tidak peduli seberapa takut anak itu. Dia terus saja berjalan mendekat, meski teriakan Ezio semakin menggema.


"Jangan mendekat Om! Ezio takut pada Om!" Ezio menelusupkan wajahnya ke dalam tubuh Maria, meminta perlindungan. "Daddy Ezio cuman satu. Daddy Edward. Jadi Om pergi dari sini!"


"Apa kamu tidak bisa mendengarnya, pemuda gila? Anak kecil ini tidak ingin denganmu, dia sangat ketakutan!" hardik Maria


Ola semakin lama semakin tidak tahan melihat sang anak majikan tertekan seperti itu. Dia mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memukul mundur Roy dan pergi menjauh dari Ezio.


"Jangan ganggu Tuan muda Ezio!" Ola menghantam punggung Roy menggunakan sebuah kursi kayu. Roy murka, dia berbalik lalu memukul wajah suster Ola.


"Berani-beraninya kamu pembantu, sialan!" Roy menarik rambut Ola ke bawah dan bersiap untuk memberikan pukulan kedua kali.


Fiona berlari seraya mengacungkan sebuah teflon, dia memukul kepala Roy menggunakan benda tersebut. Kepala Roy berputar ke arah Fiona. Di saat dia lengah seperti itu, Ola sigap menendang bagian pusaka, hingga Roy mengaduh kesakitan. Dia mendorong dada laki-laki itu, lanjut berlari untuk menggendong Ezio dan membawa anak kecil itu ke dalam kamar.


Maria pun tidak ingin membuang kesempatan, dia turut memukul Roy menggunakan sebuah bingkai foto. Tidak peduli kalau pemuda yang dia pukul adalah keponakan suaminya, Richard. Namun, dia butuh meluapkan segala perasaan yang mengaduk-aduk hatinya.


"Dasar anak kurang ajar, bisa-bisanya kamu menghamili putriku. Dan sekarang tiba-tiba datang ingin merampas kebahagiaan cucuku. Anak bedebah, pergi kau dari sini. Pergi...!!!" Maria menyerang membabi buta, Roy hanya diam. Karena jauh di dalam lubuk hati, dia merasa bersalah dan menyesali setiap perbuatan terkutuknya. Namun, ego untuk memiliki keturunan, mengalahkan nurani dan otak warasnya.


"Baik ... aku hari ini mengalah. Tapi esok atau lusa, aku akan kembali ke sini, ke mansion ini bersama pihak pengadilan!" gertak Roy. "Dan Om Richard beserta Tante Maria, tidak akan bisa menghalangi aku lagi!" Roy pergi dari hadapan semua orang. Dia berjalan cepat sembari menggebrag daun pintu.


"Rona!"panggil Roy pada wanita yang berpapasan dengannya. "Kamu semakin cantik saja." Roy memindai tubuh Rona dari batas kaki hingga puncak kepala dan berakhir tepat di wajah Rona yang tengah melotot ke arahnya.

__ADS_1


"Jaga matamu, Roy!" geram Rona. "Kamu ada urusan apa datang ke kediaman papa mertuaku?" Rona menaruh curiga pada Roy karena selama ini dia tidak pernah menyambangi kediaman Richard.


Roy berjalan maju beberapa langkah lantas menyeringai. "Ini adalah mansion milik om Richard. Aku pikir, aku tidak perlu alasan untuk datang menemuinya."


Roy melengos kemudian melangkah seraya menubrukkan bahunya. Dia melirik sekilas lanjut memasang kaca mata hitamnya dan berlalu pergi dari hadapan Rona.


"Dasar laki-laki tidak jelas!" Rona menggerutu di dalam hati dan bergegas untuk masuk ke dalam mansion. Namun, alangkah terkejutnya dia karena melihat kondisi ruangan yang porak poranda dan beberapa barang tergeletak tidak pada tempatnya.


"A-ada apa ini, Ma? Ada apa ini Pa?"


"Apa yang sudah terjadi di sini, Fiona?" Rona bertanya pada semua orang. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang menimpali. "Suster Ola, mana? Ezio mana?" tanya Rona lagi lantaran matanya tidak menangkap keberadaan sang anak.


"Ezio ada di kamarnya, Nak ... tidak perlu khawatir," sahut Maria. "Ada yang ingin kami bicarakan denganmu mengenai Ezio. Jadi duduklah." Maria menunjuk kursi kosong menggunakan kelopak mata, Rona menurut saja seakan tersihir.


Maria mendengus berat, dadanya terasa sesak. Impian untuk meraih kebahagiaan selepas pernikahan, yang terjadi malah sebaliknya. Dia mengetahui fakta menyakitkan mengenai putri juga cucunya. Fakta yang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa menerimanya.


"Kemarin ... sewaktu Ezio kritis, siapa yang dengan suka rela mendonorkan darah?" Maria tidak ingin bertanya langsung pada inti masalah karena dia ingin mendengar langsung dari mulut menantunya. "Mama mohon, jawab dengan jujur...."


"Ke-kemarin yang mendonorkan darah pada Ezio ..." Rona menjeda ucapannya beberapa detik. Dia melihat ke arah Maria dan Richard secara bergantian lalu tertunduk lesu. "Roy...."


"Jadi benar apa yang dikatakan bocah sialan itu, kalau Ezio adalah anaknya?" tanya Maria dengan suara bergetar. Kematian Marissa menyisakan banyak rasa sakit dan derita untuknya. Ibu mana yang tidak terluka saat tubuh sang anak telah di alam kubur. Namun, namanya masih diseret-seret akan masalah pelik nan rumit.


Rona mengangguk tanpa sepatah kata. Dia tidak ingin melukai lebih dalam perasaan Maria. Bertahun-tahun bangkai tersimpan, tercium juga pada akhirnya.


"Tolong jawab Mama, Nak. Jadi benar kalau Ezio adalah anak dari Marissa dengan laki-laki bajingan itu?" tanya Maria sekali lagi. Dia ingin Rona menjawab pertanyaan yang dilontar menggunakan mulut bukan anggukan kepala semata.


Rona menarik napas, mengatur gelegar di dalam dada. "Benar Ma ... Ezio memang anak Marissa dan —"

__ADS_1


"Dan aku!" Edward yang baru saja datang, memotong perkataan Rona. "Aku tegaskan sekali lagi, Ezio adalah anakku. Bukan anak laki-laki pengecut mana pun!" Edward berlalu begitu saja dari hadapan semua orang. Matanya berkilat api amarah, terlebih kepada sang istri.


Derap langkah terdengar menghentak, Edward menaiki anak tangga tanpa menoleh atau mengajak Rona untuk ke kamarnya. Suara bantingan pintu menghenyakkan hati siapa pun. Bisa dipastikan kalau pria matang itu tengah bergemuruh amarah.


"Rona pamit ke atas dulu ya Pa... Ma..."


Rona lekas-lekas beranjak untuk menghampiri suaminya ke kamar. Dia harus berjalan susah payah menaiki deretan tangga. Tangannya menahan pinggang yang mulai terasa cepat lelah. Tarikan napasnya semakin terasa sesak dan berat. Namun, dia tidak bisa membiarkan suaminya itu sendirian dengan kemarahan dan pikiran-pikiran negatif.


...***...


"Boleh aku masuk?" Rona menyembul dari celah pintu dan tersenyum semanis mungkin. Edward menoleh sekilas lantas membuang muka. Pria itu tengah menatap langit dari balik jendela.


"Aku malas melihat wajahmu, Rona. Lebih baik menjauh saja!" ketus Edward merajuk. Rona tidak menyerah begitu saja, dia masuk ke dalam kamar lalu mendekati suaminya. Tangan halus melingkar di atas pinggang suami, Edward mendengus kasar


"Kamu marah padaku, Edward? Salahku apa?" Rona menarik wajah suaminya dan meminta jawaban.


Edward menghempas tangan Rona dan kembali membuang muka. "Sebelum kamu menyadari kesalahanmu, jangan dekat-dekat dengan diriku!"


Sekuat tenaga Rona mengangkat kakinya sebelah dengan kedua tangan menarik kuping. "Maaf... aku tahu aku salah, Edward. Jadi tolong maafkan aku...."


"Aku akan memaafkan, kalau kamu tidak bertingkah konyol seperti itu!" tunjuk Edward pada kaki Rona yang diangkat sebelah.


Rona menurunkan kakinya kemudian berjalan merapat. "Kita tidak bisa lagi menutupi ini semua, Edward. Karena cepat atau lambat kita memang harus membahas mengenai jati diri Ezio. Apalagi saat ini, Roy sudah bergerak semakin licin!"


"Kamu tidak mau kan, anak kesayangan kita dirampas oleh laki-laki seperti Roy?" Rona mengusap-usap bahu Edward. Edward membalas memeluknya.


"Iya kamu benar sayang... Roy semakin agresif, kalau kita berdiam diri terus seperti ini. Kita bisa kehilangan Ezio begitu saja." Edward menatap kosong ke arah langit seraya merengkuh tubuh sang istri. Pikirannya mengawang, memikirkan langkah apa yang akan diambil untuk melawan sepupunya.

__ADS_1


...*****...


...Terima kasih banyak untuk dukungan dan doa dari teman-teman sekalian. Terima kasih juga untuk yang masih berkenan membaca karya Novel kedua Senja 🥰🙏...


__ADS_2