Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Edward Membingungkan!


__ADS_3

Cinta datang secara tiba-tiba. Bagaikan angin, terasa namun tak terlihat. Menembus kulit hingga ke pangkal hati. Seyogyanya batas antara cinta dan kebencian setipis ari sedekat hembusan napas, begitu dekat dan sangat dekat.


"Rona!!" pekik Edward. Dia langsung merengkuh tubuh ringkih dan menghujani puncak kepala gadisnya dengan kecupan. Namun Rona mendorong tubuh Edward.


"Ka- kamu baik-baik saja kan?" tanya Edward.


"Bibirmu berdarah!" ungkap Edward. Jemarinya mengikis sisa tetesan darah dengan perasaan cemas. Namun Rona menangkis tangan laki-laki itu dari wajahnya.


"Minggir!" bentak Rona. Dia menabrak bahu Edward dan meninggalkan pria itu dalam rasa bersalah yang membuncah.


"Maaf..." ucap Edward.


Rona menghentikan langkahnya lalu menghirup napas dalam-dalam. "Tidak perlu meminta maaf. Lagipula saya sadar akan posisi saya, hanya seorang wanita simpanan!"


Rona berjalan dengan tegap, dia tidak ingin terlihat lemah meski sebenarnya saat ini sangat terpuruk. Airmata yang menggenang dia tampung di sela kelopak mata. Tidak membiarkannya menitik barang setetespun.


"Feliks!" panggil Rona. "Kebetulan kamu ada di sini tolong antarkan aku pulang," pinta Rona.


Feliks yang tahu awal mula bagaimana Rona bisa berada di lantai ini, dia mengacuhkan Edward yang menyorot dengan sangkak hati. Dia melepas jas miliknya lalu menutupi tubuh Rona yang terbuka, memapah gadis itu dengan tangan merangkul tubuhnya.


Edward menggertakan gigi dan mengeratkan kepalannya. Antara marah, cemburu dan rasa bersalah menyatu menerjang hati beku miliknya. Dia ingin menarik lengan Rona dan membawanya ke dalam pelukan, namun dia tidak cukup berani. Yang bisa dia lakukan, menatap kepergian gadis itu dan memberi perhitungan pada Roy yang masih berdiam diri di dalam kamar.


"Bocah ingusan itu, aku akan membuatnya menyesal karena telah berani menculik gadisku!"


Brakkk!!!


"Edward!" pekik Roy.


Tanpa basa-basi, Edward melepaskan pukulan pada wajah Roy lalu mengangkat tubuh sepupunya dan membantingkan ke atas lantai dengan kasar. Roy berguling-guling menahan rasa sakit karena tulang yang patah.


"Berani-beraninya kamu menyergap wanitaku hah!" bentak Edward. Dia mengangkat tubuh Roy dan memukul bagian perut dengan kepalannya. Tubuh Roy kembali tumbang.

__ADS_1


Namun bukan Roy namanya kalau merasa bersalah dan jera atas apa yang dia lakukan. Dia terlalu tebal hati dan tebal muka. Apa yang dia dapatkan hari ini, memacu semangatnya untuk mendapatkan Rona kembali.


"Salah sendiri meninggalkan gadis cantik seorang diri," cibir Roy. "Makanya jadi laki-laki jangan rakus, yang itu diembat, yang ini diembat!" sungut Roy sinis.


"Kita berdua sama Edward, sama-sama bajingan. Tapi aku bukan pria bermuka dua sepertimu!" cerca Roy.


Edward mengangkat tangannya hendak menghajar Roy, namun kedatangan banyak orang di kamar itu menghentikan aksinya.


"Edward!" bentak Amber. Wanita tua itu memukul wajah putranya dengan sangat kasar.


"Memalukan. Hanya karena perempuan hina kamu sampai bertengkar dengan sepupumu sendiri!" berang Amber.


Arabella memanfaatkan momen ini untuk mendekati Edward, dia membelai lembut wajah yang terkena pukulan.


"Ayo ikut aku Edward. Aku akan mengobati luka lebam di wajahmu..." ajak Bella.


Wanita yang menyimpan taktik licik, menuntun Edward dan menggiringnya ke dalam kamar. Dia paham betul bagaimana kondisi pria yang terus menekuk wajahnya. Di saat seperti inilah, seorang pria mudah bertekuk lutut karena buaian dan godaan syahwat.


"Sebentar, aku bawa air untuk mengompres lukamu biar tidak bengkak," ujar Bella.


____


"Sakit?" tanya Bella yang tengah mengobati wajah Edward. Laki-laki itu hanya diam, membuat Bella semakin berani. Dia duduk di pangkuan Edward lalu bergelayutan manja. Dia melingkarkan lengannya ke atas leher dan mencium bibir yang mengatup.


Wanita tidak tahu malu langsung berdiri dan melepas gaunnya, hanya menyisakan G-stringg tipis dan tembus pandang. Mata Edward langsung melirik ke arah bagian tubuh yang menggantung dan lekukan indah yang tidak ingin dia sia-siakan.


Bella meliuk-liukkan tubuhnya sesensual mungkin, dia berjalan dengan perlahan lalu kembali duduk di pangkuan Edward. Mengarahkan aset miliknya ke depan mulut pria itu. Kucing mana yang tahan bila disuguhi ikan segar di depan mata. Tanpa pikir panjang, Edward menikmati apa yang Bella berikan padanya. Membuat gadis itu mendesahh dan terus melenguh. Karena Edward mempermainkan tubuhnya dengan kasar, dan Bella menyukai itu.


Nampak kini bekas gigitan di seluruh bagian dada dan leher. Hasrat Edward benar-benar terpancing. Dia telah melupakan bahwa ada gadis yang dia permainkan perasaan dan nasib hidupnya.


Pria yang lupa daratan dia mengangkat tubuh Bella dan menindihnya. Kembali bersenang-senang dengan tubuh yang disodorkan secara cuma-cuma. Tubuhnya melungsur, Edward membenamkan wajah di tengah bagian vital seorang wanita. Bella menjerit-jerit saat jari tengah turut memberi kenikmatan. Ketika gadis itu akan mendapat pelepasan pertamanya, Edward tiba-tiba menghentikan perlakuan liarnya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin berhubungan dengan wanita yang tubuhnya dijajakan kepada banyak laki-laki!" geram Edward.


"Aku tidak bodoh Bella, kehormatan itu kamu tidak memilikinya. Dan aku hanya ingin menikahi wanita terhormat bukan wanita bekas dicicipi pria lain!"


"Bagaimana bisa kamu menginginkan wanita terhormat, sedangkan kamu sendiri pria hina yang sering bergonta-ganti pasangan. Jangan kamu kira aku tidak tahu bagaimana sepak terjang seorang Edward Liam. Aku tahu semua tentangmu, dan aku pun tahu rahasia di antara kamu dengan wanita itu," murka Bella.


Edward meremas kedua pipi Bella dengan kuat dan memberi ancaman sebagai gertakan karena berani ikut campur akan hidupnya.


"Dengarkan aku baik-baik Arabella Natasha. Sedikit saja kamu berani mengusikku, aku akan menghancurkan hidup dan reputasimu!"


Edward mencampakkan wajah Bella dan gadis itu mengerang. Rahangnya mengeras dengan netra mata membulat. Gadis yang selalu mendapatkan setiap keinginan dengan kekuasaan yang dimiliki orang tuanya.


"Persetan dengan semua ocehanmu!" cela Edward. Dia meninggalkan Bella yang masih bersungut-sungut karena merasa sangat terhina atas sikap Edward terhadapnya.


.


.


Di sepanjang perjalanan, Rona terbungkam memikirkan nasibnya yang terus menerus didera kesialan. Selama hidupnya dia tidak pernah berbuat jahat ataupun menyakiti oranglain. Namun tidak tahu mengapa, keadaan mempermainkan hidupnya sedemikian rupa.


Airmata yang menggenang, perlahan berderai membasahi kedua pipi. Dia membiarkan deretan tetesan silih berganti menghiasi wajah sendunya. Menyirami hati yang kian merapuh.


"Rona, kamu baik-baik saja?" tanya Feliks. Dia menghentikan laju kendaraannya lalu menyodorkan lembaran tisu. Dan Rona meraihnya.


"Terimakasih Feliks," ucap Rona.


Pria yang memegang kemudi hanya mengangguk dan menginjak pedal gas kembali. Melajukan mobil milik bosnya ke arah kediaman Rona. Dia sudah tidak peduli kalaupun Edward memecatnya. Baginya sudah sangat cukup mengabdi pada keluarga Liam. Mungkin ini waktunya dia pergi dan menikmati hidup yang tidak pernah dia rasakan.


Sudah 20 kali panggilan telepon masuk, namun Feliks mengabaikannya. Dia benar-benar kecewa pada Edward, laki-laki itu sangat keterlaluan memperlakukan wanita seenak hati bak boneka. Selama ini dia selalu diam, namun Rona dia tahu bukan gadis sembarangan. Bukan gadis penjual tubuh demi sesuap nasi. Rona gadis terhormat yang hanya terjebak dalam tempat dan situasi yang salah.


...*******...

__ADS_1


...Terimakasih dukungannya dari teman-teman semua. Semoga cerita Dokter Rona bisa terus dinikmati dan diterima di hati para pembaca semua....


__ADS_2