
Tidak ada kata pantang menyerah di dalam kamus seorang Edward Liam. Dia akan terus memperjuangkan bila memang patut untuk diperjuangkan. Seperti halnya yang tengah dia lakukan saat ini. Memperjuangkan sesuatu yang membuatnya bahagia, sesuatu yang sedikit demi sedikit merubah hidupnya kembali berwarna.
"Cantik..." puji Edward seraya merebahkan tubuh Rona ke atas seat mobil. Dia menarik tuas handle jok agar gadisnya bisa berbaring senyaman mungkin. Ditatapnya wajah yang nampak lelah dengan bulatan hitam di sekitar mata. Edward meringis lalu menyelipkan anak rambut yang mengurai di atas pipi wanitanya.
"Maafkan aku Rona...."
Edward memasangkan sit belt pada tubuh gadisnya. Lalu dia menarik diri dan menyalakan mesin mobil. Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang dan penuh kehati-hatian. Dia tidak ingin Rona terbangun dari tidurnya.
Sepanjang perjalanan, Edward tidak bisa fokus menyetir. Kepalanya sesekali menoleh ke arah sang kekasih yang tertidur pulas lalu kembali menatap jalanan. Ntah, ada daya tarik apa yang dimiliki Rona hingga membuat dirinya dengan mudah bertekuk lutut dan tergila-gila seperti sekarang ini.
Rona menggeliat lalu mengerjapkan mata, dia mengadaptasikan penglihatan yang sedikit silau karena sorotan cahaya matahari lalu menegakkan badannya yang saat ini setengah berbaring.
"Edward?" panggil Rona seraya menarik tuas jok ke atas.
"Sudah bangun, Rona?" tanya Edward lembut.
"Menurutmu?" Rona berbalik bertanya dengan ketus.
Edward mengusap dadanya sendiri seraya bergumam, "Sabar... sabar...."
Rona melirik sekilas ke arah Edward lalu mendelik. Dia mengaitkan tas selempang miliknya kemudian berbicara dengan suara memekik. "Turunkan aku di sini!"
Edward menghentikan laju mobil lalu memakirkan di sembarang tempat. Dia keluar dari mobil berjalan memutar ke arah di mana Rona masih berdiam diri. Dia menarik handle lalu membuka pintu.
"Turun!" titah Edward. Rona turun dari mobil lalu Edward menuntun tangannya seperti anak kecil. Membawa sang gadis pujaan ke sebuah kedai es krim yang terkenal di kota itu.
"Kamu suka es krim?" tanya Edward.
"Hm..." jawab Rona.
"Mau rasa apa? Cokelat, stroberi, vanilla, green tea, chococino, blueberry atau—"
"Terserah..." potong Rona.
Edward mendenguskan napas kasar lalu memesan dua porsi eskrim rasa cokelat. Karena dia pikir yang namanya wanita pasti suka cokelat.
"Dua cup ice cream rasa cokelat ya..." pinta Edward sembari menyodorkan beberapa lembar uang dollar.
"Oke, wait a minute..." jawab si penjual. Pria yang bertubuh tambun dan memiliki tatto gambar bunga mawar di lengannya dengan cekatan menyiapkan pesanan yang diminta. Dalam sekejap mata, dua cup ice cream sudah siap tersaji.
"Thankyou, Brother..." ucap Rona sembari menganggukan kepala.
"Your welcome, darling..." balas si penjual dengan mengedipkan matanya. Edward yang melihatnya langsung memperlihatkan tatatapan maut disertai kepalan tangan. Si penjual itu hanya menggerdikan bahu tidak peduli.
"Ikut aku!" ajak Edward seraya menarik tangan Rona. Gadis itu kewalahan menyamakan langkah karena Edward berjalan sangat cepat.
__ADS_1
"Mau bawa aku kemana sih? Aku mau pulang!" sentak Rona. Namun, Edward terus saja menarik tangan Rona dan membawanya ke suatu tempat indah yang baru dilihatnya.
Hamparan ilalang yang luas di ujung sebuah bukit, nampak sinar keemasan dari sang surya yang akan tergelincir dan kembali peraduan, membentang indah menghiasi langit dan mega.
"Apa kamu suka?" tanya Edward yang mendapati Rona tengah terpukau dengan apa yang dilihatnya.
"Tidak, biasa saja. "Rona duduk di atas bangku taman sembari menikmati eskrim cokelat ditemani langit senja. Dia terus saja melahap makanan di tangannya tanpa menghiraukan mulut Edward yang sedari tadi berkicau tiada henti.
Rona masih menyimpan rasa kesal, kecewa dan amarah yang tidak akan semudah itu reda meski Edward terus saja berusaha meluruhkan hatinya. Dia ingin melihat kesungguhan pria yang pernah mengucapkan cinta kepadanya.
Hari semakin petang, angin bertiup bertambah kencang. Rona mengusap-ngusap lengannya karena merasa kedinginan. Edward yang peka dengan sigap melepas jas miliknya dan hendak menyelimuti tubuh Rona, akan tetapi gadis itu menolaknya.
"Tidak perlu repot-repot, lebih baik kita pulang." Rona beringsut berdiri tanpa menunggu Edward menjawab. Sikapnya sangat dingin lebih dingin dari es yang tadi mereka nikmati.
...***...
"Akhirnya kita sampai..." ucap Edward sembari memutar wajahnya ke arah Rona.
Rona hanya mengangguk dengan raut wajah datar seraya melepas seat belt kemudian keluar dari mobil tanpa sepatah kata ataupun ucapan selamat malam.
"Tolong buka blokiran teleponmu..." pinta Edward. Rona tidak menjawab hanya menatap Edward sekilas kemudian berlalu dari pandangan laki-laki yang tercabik hati karena ulahnya sendiri. Edward menyusul Rona dan memeluk gadisnya dari belakang. Namun, Rona menarik paksa kedua lengan Edward. Dia kembali berjalan setelah itu menghilang tertelan dinding-dinding dingin dan bisu.
Edward kembali ke tempat di mana dia memarkirkan kendaraan lalu menyandarkan tubuh ke body mobil. Dia melipat kedua tangan di atas dada seraya mata tertuju pada satu kamar yang lampunya kini menyala.
Rona tengah asyik dengan buku di tangannya, kebiasaan sebelum dia tidur malam. Namun, saat ini dia merasa gelisah dan sesekali melihat ke arah jendela seolah tengah diperhatikan oleh seseorang. Dia menutup buku lalu berjalan ke arah jendela mengintip dari balik tirai tipis dan terlihat Edward masih berdiri di tempat yang sama. Rona meraih teleponnya sembari membuka tirai lalu menelepon Edward.
Rona
Kenapa belum pulang?
Edward
Masih rindu
Rona
Hm... pulanglah, ini sudah malam. Aku tidak mau kamu sakit
Edward
Kiss me!
Rona
Ayolah jangan membuatku semakin muak!
__ADS_1
Pulanglah!
Edward
Baiklah, Nyonya Edward!
Rona menutup telepon dan Edward memberinya kiss bye. Gadis itu menutup tirai jendela dan memadamkan lampu utama kamar tidurnya. Edward tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Dia sudah cukup puas hanya dengan melihat Rona dari kejauhan.
...***...
Kejadian tabrak lari beberapa hari lalu masih dalam penyelidikan. Edward menyadari kalau yang terjadi malam itu adalah sebuah kesengajaan. Diam-diam dia memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencari tahu mengenai tragedi malam itu.
"Bagaimana, apa kamu menemukan petunjuk?" tanya Edward pada pria yang berdiri di depannya.
"Rekaman CCTV pelataran apartemen ada yang menghapusnya Bos. Tapi—"
"Tapi apa?" sahut Edward tidak sabar.
"Ada rekaman CCTV tersembunyi yang kami pasang satu bulan yang lalu," jawab orang kepercayaan Edward.
"Bagus... saya puas dengan hasil kerjamu. Kalau begitu mana rekamannya?" tanya Edward dengan menengadahkan telapak tangan sembari menggerak-gerakkan jarinya.
"Ini Bos, di video itu terlihat jelas mobil tersebut memang sengaja ingin menabrak wanita yang bersama Bos!"
Edward manggut-manggut dan tersenyum miring lalu mengibaskan tangan menyuruh pria tersebut untuk keluar dari ruangannya. "Kita lihat, siapa yang sedang bermain-main denganku?!"
Edward memasukkan flashdisk ke dalam USB port laptopnya dan memutar video rekaman CCTV, nampak sangat jelas wajah si pengendara berikut nomor plat kendaraan, urat di wajah Edward menegang dengan rahang yang mengeras. Dia menggebrag meja seraya berteriak, "Ah... wanita sialan. Lihat saja, aku akan memberimu pelajaran!"
...*******...
...Sedang berlibur dan menikmati tahun baru dengan keluarga ya Kak. Rona akan selalu menanti kehadiran teman-teman semua, seperti Edward yang setia menunggu......
...Semoga berkenan untuk men-tap gambar hati...
...Memberi like...
...Meninggalkan comment...
...Memberi vote...
...dan memberi rate bintang 5...
...Terimakasih...
...Haturnuhun...
__ADS_1