
Kehidupan tidak selalu berjalan mulus dan indah, akan selalu terselip duri juga ujian. Langit biru maupun jingga, kerap kali tertutup awan hitam. Begitu juga dengan bunga-bunga, ada saatnya kuncup, ada waktunya berkembang dan ada masanya berguguran.
Di sebuah Rumah Sakit di pusat kota. Di mana seorang wanita yang dengan netra berwarna hazel, menarik langkah cepat menghampiri pria yang membuatnya tergila-gila. Pria matang yang berjarak usia sebelas tahun dengannya. Pria beristri yang daya pikatnya tetap abadi meski umurnya kian bertambah.
"Sir Edward...!" pekik Grace yang berlari kencang. Dia membungkukkan badan, memegang kedua lutut dengan napas yang terengah-engah.
Kening Edward mengerut, mengingat-ingat siapa yang telah menghadang langkahnya. "Siapa kamu?"
Grace menarik kepala memperlihatkan wajahnya. Seketika raut Edward berubah masam, matanya mendalam.
"Kakak dosen yang tampan, masa lupa sama aku? Apa Kakak juga lupa malam panjang yang sudah kita lewati hingga aku mengandung anakmu?" Grace berbicara omong-kosong.
Rona menatap Grace sekilas lalu memainkan kuku-kuku cantiknya, tak acuh. Kemudian memasang handsfree ke dalam daun telinga sembari menyandarkan kepala ke atas bahu sang suami.
Grace yang sadar kalau provokasinya tidak berhasil membuat Rona goyah, dia semakin menggila. Tubuhnya merapat hendak menyambar bibir dosennya, akan tetapi sebuah pertanyaan yang lolos dari mulut Edward menahan aksinya.
"Perutmu?" Tunjuk Edward pada bagian tubuh yang kini nampak rata. "Bukankah kemarin waktu di kampus, perutmu buncit seperti orang yang busung lapar?"
Grace gelagapan, dia lupa kalau saat ini tidak menggenakan perut palsunya. Bola matanya berkeliling mencari alasan, namun otaknya mendadak beku. Dia berdiri mengkeret dengan mulut terbungkam, menahan rasa malu.
"Sekiranya mau menipu pria sekelasku, pastikan dulu kalau kamu lebih cerdas. IQ-mu lebih tinggi, Grace!" Edward menoyor kepala mahasiswinya lalu menarik dagu Rona. Dia memagut bibir sensual sang istri di depan kedua mata perempuan penggoda. Grace menghentak lantai sembari mendengus kasar. Dia memilih pergi karena sudah kehilangan muka juga harga dirinya.
"Mana selingkuhanmu?" Rona melepas handsfree yang tertaut di dalam telinga. Kemudian menatap biji mata yang bergerak-gerak dengan sorotan menakutkan.
"Selingkuhan apa sayang?" Suara Edward bergetar.
"Itu... si mahasiswi yang badannya sintal dan segar. Yang katanya pernah menghabiskan malam panjang denganmu sampai hamil, mana?" ketus Rona cemburu.
Edward mendorong tubuh Rona dengan otot-otot dadanya, membuat istrinya terpojok. "Apa kamu meragukan kesetiaanku dan lebih mempercayai perkataan gadis bodoh itu?"
Rona menyalang dan menggulir kedua bola mata. Dan untuk kedua kalinya bibir berwarna merah kehitaman menyesap benda kenyal merah muda. Dia tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang berlalu lalang melewatinya. Rona memukuli dada Edward serta mendorongnya. Edward bergeming, bibirnya mengatup rapat bibir sang istri dengan pagutan dan lumatann.
__ADS_1
"Kegilaanmu tidak habis-habis Edward!" sungut Rona yang menyapu bibirnya karena terluka. Terlihat bercak darah di atas ibu jarinya.
"Aku bahkan bisa berbuat lebih gila dari ini, sayang." Edward mendekat dan memelankan suaranya. "Bahkan aku bisa saja berubah menjadi anjing jalanan yang menaiki pasangannya di sembarang tempat."
Rona tertawa miris. "Kalau begitu, nanti malam kamu tidur di luar!"
Edward menangkup wajah Rona yang nampak murka. "Ma- maaf sayang... kamu bercanda, kan? Ja- jangan dong masa aku tidur di luar! Sayang...."
Edward merajuk, sementara Rona mengabaikan rengekan suaminya. Dia menghampiri seseorang yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Suamimu masih... saja gila, Rona!" Claire mencium pipi kiri dan kanan sahabatnya, lalu menarik kursi di sampingnya. "Duduk di sini." Claire menepuk-nepuk kursi yang disediakan untuk wanita yang berdiri di sampingnya.
"Terimakasih My unyuk-unyuk." Rona mencubit gemas pipi Claire sembari mendaratkan panggulnya.
"Kamu habis dari dokter kandungan?" Claire menyodorkan buku daftar menu, Rona mengangguk.
"Ya... seperti yang kamu lihat!" Rona menarik kedua pundaknya ke atas. Claire nampak berpikir dan tak lama setelahnya memekik senang.
"Kita kapan baby?" Feliks berbisik di samping telinga, Claire meremang.
"Wait... wait, ka-kalian?" Rona menodongkan jari telunjuk memandang paras sahabatnya meminta penjelasan.
Claire mengangguk dengan kepala menunduk. Rona menyambut kabar bahagia dengan riang gembira. Karena akhirnya sahabat terbaiknya menemukan cinta sejati.
"Selamat ya Claire, aku turut bahagia." Rona memeluk tubuh sahabatnya, Claire membalas pelukan dengan erat. Feliks beringsut dan turut memeluk kedua gadis di depannya, sayangnya jari seseorang hinggap di atas daun telinga.
"Kesempatan dalam kesempitan ya!" tegur Edward tidak suka. Rona melirik ke arah Edward kemudian mencebik. Dia memeluk Feliks dengan mesra, biji mata Edward dan Claire seolah ingin terlepas dari tempatnya.
"Rona!!" pekik Edward dan Claire bersamaan. Rona terkekeh lantas memajukan bibirnya, dengan tangan yang tak ingin lepas dari tubuh Feliks.
"Maaf... bayi di dalam perutku yang menginginkannya. Kalian mau kalau bayiku ileran nantinya?"
__ADS_1
Edward dan Claire menggelengkan kepala serentak. Feliks berbinar seolah mendapat durian runtuh. Dia menikmati pelukan hangat dari gadis yang menjadi incarannya dulu. Sedangkan kekasihnya, harus menelan rasa cemburu yang menguras hati.
...***...
Di dalam ruangan sempit dan seolah tidak ada kehidupan. Wanita yang semasa hidupnya bersikap seolah tak akan pernah mati, menangis dan meratap. Luka dalam karena pukulan dari benda tumpul, melumpuhkan kedua kaki dan sebelah tangannya. Mulutnya meracau, keringat dingin bercucuran di atas kulit keriputnya. Tubuhnya menggigil dengan suhu badan yang tinggi.
"Haus... aku haus... ambilkan aku minum!"
"Ah... tubuhku panas sekali. Tolong... aku membutuhkan seorang dokter!"
Seorang sipir wanita datang dan memukul jeruji besi. Suara bising terdengar amat memekikkan telinga.
"Ini air minummu!" ucap sipir tersebut, menyimpan sebuah botol berisi cairan bening. Kemudian meninggalkan wanita tua yang berteriak dengan suara parau.
"Heh... apa kamu tidak dengar kalau aku membutuhkan seorang dokter? Aku sedang sakit, aku demam!" bentaknya dengan tangan memeluk deretan besi.
Sipir tersebut kembali dan menampilkan senyuman sinis. "Kamu tidak perlu dokter. Karena dokter sehebat apapun, tidak akan sanggup menyembuhkan penyakitmu, Nyonya! Banyak berdoa saja dan meminta pengampunan dosa pada Tuhanmu!"
"Cuihhh... omong kosong!" Amber membuang ludah. "Tuhan? Siapa Dia? Aku tidak kenal," timpal Amber sombong.
Sipir wanita tersebut mengangkat kedua bahunya dan meninggalkan Amber yang tengah berbicara sendiri. Melayani orang sakit mental seperti Amber hanya akan membuatnya tertular sakit mental.
"Jangan pergi, brengsekk!" teriak Amber pada wanita yang mengacuhkannya. "Aku butuh dokter, kumohon...."
Tubuh Amber melangsur dengan tangan menopang pada besi-besi kokoh. Bahunya naik turun, pada akhirnya jiwa yang angkuh terisak karena rasa sakit yang teramat sangat.
...*****...
...Mohon maaf terlambat Up, efek sepulang RL hujan-hujanan di jalan, jadi sinyal di kepala agak melemah 🤭...
...Terimakasih untuk semua dukungan yang diberikan pada karyaku ini. Terimakasih banyak 🙏...
__ADS_1