
Setelah persidangan memutuskan Grace terbukti bersalah, wanita itu langsung diseret oleh dua petugas yang berwenang untuk digiring ke dalam sel tahanan. Grace yang tidak terima akan keputusan pengadilan, dia berulah dengan melakukan perlawan. Dia berhasil lolos dari cengkeraman dua pria yang mengenakan seragam lantas mengacak-acak segala sesuatu yang berada pada jangkauannya.
Matanya berkilat amarah, saat menyadari bahwa wanita yang membuat dia terpuruk berada tepat di hadapannya. Namun, seorang petugas keamanan berhasil mencekal tangannya. Crace belum menyerah, dia menggigit kencang petugas tersebut dan berhasil merampas senjata api miliknya. Dia berlari secepat mungkin dan kini tubuhnya berada tepat di belakang wanita yang tengah hamil muda.
Dia menodongkan senjata api pada pelipis wanita tersebut seraya mengeluarkan makian dan juga sumpah serapah. Semua orang berteriak histeris menyadari karena wanita itu dalam kondisi bahaya. Dia yang melihat seorang pria berjalan mendekat, lekas-lekas menarik pelatuk dengan tangan yang bergetar hebat.
"Jangan dekat-dekat ... atau kalau tidak, aku akan menghancurkan kepala istrimu ini!" ancam Grace pada pria tersebut. "Mundur! Ayo mundur!" bentak Grace pada laki-laki di hadapannya.
Pria itu menarik kakinya ke belakang dengan telapak tangan menjulur ke arah gadis di depannya. "Grace... tenang, kendalikan dirimu! Tolong jangan menyakiti istriku, karena dia tidak bersalah...."
"Istrimu jahat, kamu juga jahat! Kalian berdua pantas mati!" teriak Grace membuat tawanannya ketakutan setengah mati. "Lihat istrimu menangis, Daddy Edward! Dia takut padaku, dia takut pada kematian!" Grace tertawa lebar, mengolok-olok wanita yang tengah terisak.
"Dengarkan saya baik-baik Grace ... kalau sampai kulit istriku tergores seinci pun. Saya bersumpah, saya akan mematahkan seluruh jari tanganmu itu!" ancam Edward seraya berjalan selangkah ke depan. Grace menarik pelatuk dan melucurkan tembakan peringatan ke arah langit-langit ruangan. Membuat lampu hias yang berada di ruangan itu terjatuh di depan tubuh tawanannya.
"Rona...!" teriak Edward terkejut. Dia sangat takut kalau lampu itu akan mengenai istrinya. Namun, Tuhan masih melindungi Rona dan juga calon bayinya. Benda yang menggantung di atas langit-langit tersebut terjatuh di tengah-tengah. Di antara dirinya dan Rona yang menjerit karena kengerian.
Semua orang kembali histeris, hanya ada satu orang yang tertawa seraya bertepuk tangan. Meski dia meringis karena rasa sesak di ulu hati dan rasa sakit di dada kirinya.
"Bravo...! I-ni namanya putriku!" ujar Monic dengan napas tersengal-sengal. Wanita itu beringsut dari atas lantai kemudian menghampiri sang anak.
"Ma-Mami? Mami baik-baik saja?" tanya Grace terkejut. "Grace kira, Mami sudah...."
__ADS_1
"Mami tadi hanya acting, sayang. Biar si tua bangka itu kasihan sama Mami," ungkap Monic yang kini turut berdiri di samping anaknya. "Ayo Grace selesaikan tugasmu, sekarang juga!" titah Monic yang dibalas dengan anggukan.
"Setelah aku mengantarkan istrimu ke neraka, jangan khawatir ... aku juga akan mengantarkanmu ke tempat nista itu!" Terdengar suara pelatuk ditarik, sebuah tembakan menggaung di dalam ruangan. Bersahutan dengan suara pekikan orang-orang.
"Grace...!" teriak Monic saat tubuh putrinya terjatuh ke belakang. Saat ini satu peluru berhasil diluncurkan dan bersarang di dalam lututnya. Seorang petugas kepolisian berhasil melumpuhkan gadis itu dan menyelamatkan Rona dari kematian.
Sementara monic yang syok melihat tubuh sang anak terbujur di atas lantai. Dia mendapatkan serangan jantung yang kedua. Dan kali ini tubuhnya benar-benar terjatuh karena kehilangan kesadaran.
Pihak pengadilan sigap memanggil dua unit ambulan untuk mengevakuasi Grace dan Monic. Kemudian membawa kedua wanita tersebut ke Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan. Suara sirine terdengar amat memilukan, mengantarkan dua orang tersebut berpacu dengan maut.
...***...
"Kenapa kamu belum tidur juga sayang...?" Edward menatap lekat wajah sang istri yang diliputi kegusaran. Dia membelai lembut pipi Rona, lanjut mengecupnya.
Edward mengusap-usap pucuk kepala Rona lalu mendaratkan tiga kecupan. Dia menghembuskan napas, turut mengingat kejadian kelam tadi siang. "Anggap ini semua hanya mimpi buruk, sayang. Ketika kamu terbangun, semuanya tetap baik-baik saja."
"Ah..." desah Rona karena pergerakan ketiga janinnya di dalam perut. Dia tertawa lepas dan seketika kesedihan langsung sirna dari wajahnya.
"Kenapa sayang?" tanya Edward kebingungan sebab sang istri tiba-tiba tertawa. "Kamu masih waras, kan Rona?" Edward meletakkan telapak tangan di atas kening istrinya untuk mengecek suhu tubuh.
Rona menghempaskan tangan Edward lalu mendongak mencari wajah suaminya. "Aku masih waras, Edward. Aku tertawa karena rasa geli. Anak-anakmu menendang perut Mommy-nya secara bersamaan."
__ADS_1
"Mereka aktif ya? Sama sepertiku!" imbuh Edward seraya mengerdipkan sebelah matanya ke arah Rona. Dia melungsurkan tubuhnya, lalu mengecup perut buncit sang istri seraya mengelus-elusnya.
Gerakan cepat tangan Edward di atas perut Rona membuat dress tidur istrinya itu tersingkap. Matanya sontak melihat pemandangan indah, berupa paha mulus yang terekspos seolah disuguhkan khusus untuknya. Miliknya yang semula tertidur, mendadak mencuat menyesaki celana pendeknya. Berkali-kali dia menelan saliva, hasratnya yang mulai merangkak naik dia tekan sekuat tenaga.
"Kenapa sayang?" tanya Rona karena menyadari perubahan sikap Edward yang tiba-tiba diam. Sementara manik mata suaminya itu tengah melototi bagian tubuhnya yang terbuka dan seakan meminta untuk dijamah.
"Ti-tidak!" jawab Edward memalingkan muka.
"Yang benar?" sahut Rona menggoda. "Aku sedang ingin bercinta... aku ingin bersenang-senang denganmu, sayang..." ungkap Rona yang membuka tali tipis pakaian tidurnya hingga memperlihatkan dua gundukan yang semakin besar dan menggemaskan.
"Tapi kamu lelah sayang... lebih baik istirahat saja." Edward merapikan kembali pakaian sang istri dan berusaha membuang gejolak nafsuu yang sudah mengepul di atas kepalanya.
Rona bangkit dari posisi semula, lalu merangkak di hadapan Edward. Tanpa kesulitan yang berarti, kini dia menyesapi milik lelakinya. Membuat tubuh si empunya menggelinjang seraya melenguh dan mengerang karena rasa nikmat. Sesapan semakin kuat, wajah Edward mendongak serta matanya memejam. Erangannya semakin kencang, karena Rona menggigit gemas tubuh intinya.
"Kamu nakal, sayang!" racau Edward setelah Rona mengeluarkan bagian inti miliknya dari dalam mulut. "Kita lanjutkan permainan malam ini, hm?" tanya Edward memilin puncak dada istrinya yang mengeras.
Rona mengangguk lemah, karena saat ini dia membutuhkan pelampiasan yang bisa membuatnya lupa akan masalah besar yang sempat menerjang hidupnya. Dia menggigit tipis bibir bawahnya sembari meremass-remass tubuh atasnya. Memancing libido sang suami agar bersedia menyentuh tubuhnya.
"Baiklah kalau begitu, sayang. Aku akan bermain lembut kali ini. Dan membawamu terbang, ke dalam surga kenikmatan." Edward melucuti seluruh pakaian sang istri dan juga pakaiannya hingga tak bersisa. Mereka berdua saat ini sama-sama dalam keadaan tak berbusana. Dan bersiap untuk menyambut kesenangan yang tiada duanya. Kesenangan yang dihujani oleh desahann dan juga lenguhann.
...*****...
__ADS_1
...Maaf sangat terlambat, efek RL π₯Ίπ...