Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Aku Kembalikan


__ADS_3

"Rona kamu kenapa menangis?" tanya Feliks ketika istri atasannya masuk ke dalam mobil dalam kondisi terisak. Dia memutar kepalanya lantas memberikan tisu kepada wanita yang duduk di belakang kemudi.


"A- ak—"


"Panggil istriku dengan Nyonya Edward!" potong Edward seraya merundukkan kepala, duduk di sebelah sang istri.


"Maafkan atas kelancangan saya," ucap Feliks seraya mengganggukkan kepalanya satu kali. Dia memutar badannya dan bersiap untuk melajukan kendaraan.


"Tunggu Feliks, adikku belum naik!" tegur Edward karena Leona tertinggal jauh di belakang. Feliks menoleh ke arah kanan, terlihat Leona masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya. Feliks tiba-tiba merasa panas dingin, karena dua wanita yang sempat menjadi pujaan hatinya kini berada dalam satu mobil dengannya.


"Ayo jalan!" titah Edward pada asistennya.


"Mau diantar ke mana, Bos?" tanya Feliks pada atasannya.


"Ke mansion lah, mau ke mana lagi?" sahut Edward gereget karena asistennya itu kadang-kadang pintar, kadang-kadang lemot.


"Kali saja mau makan dulu gitu, Bos. Kebetulan perut saya lapar!" timpal Feliks yang dibalas dengan pelototan.


Feliks menelan air liurnya payah lalu menarik tuas gigi seraya menginjak pedal gas mobil yang akan dikendarainya. Tangannya memutar kemudi dan mulai melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang, menuju bangunan milik kediaman keluarga Liam.


"Hai Kak Feliks. Sudah lama ya kita tidak berjumpa?" sapa Leona lantaran Feliks mengacuhkannya. Dia berharap pemuda di sampingnya itu akan menyapanya terlebih dahulu. Namun, harapan hanya sekedar harapan.


"Em... i-iya, sudah lama kita tidak berjumpa," jawab Feliks gugup. "By the way ... bagaimana dengan pernikahanmu, bahagia?" Feliks yang tidak memiliki topik obrolan, bertanya sekenanya.


"Puji Tuhan, aku bahagia Kak... Kak Roland meskipun masih mengesalkan. Namun, dia sangat perhatian. Pada Leona juga pada bayi di dalam kandungan," jawab Leona mengelus-elus perutnya yang semakin membesar.


Feliks melirik sepersekian detik, kemudian bertanya kembali. "Sekarang berapa bulan usia kehamilanmu? Sebentar lagi aku akan menjadi Uncle nih!"


Leona terkekeh, "Uncle Feliks kapan mau menikah? Masa mau melajang terus-menerus! Habis nikah itu enak loh Kak, Leona juga ketagihan!"


Kening Feliks mengernyit, berusaha memahami perkataan perempuan di pinggirnya. "Ma-maksudnya ketagihan memasukkan bola ke gawang?"

__ADS_1


Leona tertawa lebar. Namun, dehaman Edward langsung mengatup mulutnya rapat-rapat. "Jaga sedikit bicaramu Leona! Tidak sepatutnya kamu berbicara hal seperti itu pada seorang laki-laki. Apalagi lelaki mesum macam Feliks!"


"Ah si Bos bisa saja. Saya sih tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama Bos yang lebih berpengalaman. Secara ... saya masih 100% perjaka!" celoteh Feliks membuat Rona juga Leona menganga.


Edward menoyor kepala Feliks sambil mengumpat asistennya itu yang terlalu banyak bicara. Tapi bukan Feliks namanya kalau mudah goyah dengan gertakan. Dia malah semakin menyengajakan membuat atasannya itu naik pitam.


"Bos... saya ingat betul, jaman Bos masih gila dulu. Saya setiap hari menonton adegan live di dalam mobil. Untung saja saya pemuda baik-baik, jadi tidak tergoda sama rayuan wanita penghibur yang sudah Bos sewa!" sindir Feliks cuek.


Edward memutar-mutar bola matanya seraya menggemeretakkan gigi. Dia tidak berani melihat ke arah sang istri yang pasti tersulut emosi pikirnya. Namun, di luar dugaan Rona merapat lalu mencengkeram kuat pipi Edward. Bibir suaminya itu tertarik ke depan, seperti bentuk mulut seekor bebek.


"Apakah seperti ini, Feliks?" Rona melumatt bibir suaminya lalu melahap dengan rakus. Feliks yang melihat adegan panas dari kaca spion, spontan melebarkan indera penglihatannya.


"What Fuckk!" Feliks memukul stir mobil karena dongkol. "Kalian ternyata sama saja. Suami istri sama gilanya!" umpat Feliks merasa gerah melihat Rona mencumbu suaminya begitu dahsyat.


Rona hanya cekikikan menanggapi luapan kekesalan yang diperlihatkan asisten suaminya. Sedangkan Leona menatap bingung, melirik ke arah Feliks lalu ke arah kakak iparnya.


"Kalian kenapa? Kok Leona tidak tahu apa-apa?! protes Leona yang tidak melihat adegan panas di belakang kursinya.


"Tuh Kakak iparmu yang cantik nan jelita! Main sedot-sedot bibir si Bos. Aku kan jadi kepingin," ungkap Feliks membayangkan kalau dia yang berada di posisi Edward.


"Terserah deh, terserah... mentang-mentang kalian sudah menikah! Tidak peka pada nasib pejantan tangguh ini!" omel Feliks meratap.


...***...


Kediaman Keluarga Brooks


Semua orang menatap heran melihat Roland menarik kasar lengan Arabella memasuki bangunan yang telah dia tinggalkan beberapa bulan yang lalu. Padahal sangat jelas terlihat bahwa gadis itu dalam keadaan berbadan dua.


"Tuan muda... kasihan Nona Arabella jangan diseret-seret begitu," ucap seorang maid menyusul Roland lalu menghentikan langkah anak majikannya.


"Jangan ikut campur dengan urusanku, Dominic!" hardik Roland menghalau tubuh wanita tua itu.

__ADS_1


"Tapi Nona Arabella sedang hamil, Tuan. Bagaimana kalau dia keguguran," lirih Dominic yang menyadarkan kesilapan Roland.


Pria beristri itu mengusap wajahnya merasa bersalah, lantas melonggarkan cengkeraman tangannya di atas pergelangan tangan Arabella. Dia merotasi kepalanya, terdengar helaan napas ketika biji mata menatap ke sekeliling bangunan yang tidak ingin dia pijak kembali. Akan tetapi, bagaimana pun kelamnya rumah itu, rasa rindu akan kehangatan yang pernah dia rasakan, merasuk begitu saja ke dalam kalbu.


"Mami mana?" tanya Roland pada Dominic.


"Nyonya ada, Tuan muda. Silakan masuk!" Dominic melebarkan pintu rumah dan melayani Roland layaknya seorang tamu asing. "Tunggu sebentar, Tuan. Saya panggilkan Nyonya Alin dahulu...," Dominic undur diri untuk memanggil sang majikan ke kamarnya. Dan tidak berselang lama, wanita tua dengan rok span sebatas paha, menghampiri Roland dengan langkah terbirit-birit.


Iris matanya berembun, dalam relung hati ingin rasanya dia mendekap erat kedua anaknya itu. Akan tetapi, egonya sebagai orang tua menepis semua perasaan rindu dan kehilangan yang dibalut dengan kemurkaan.


"Mau apa kalian ke mari, membutuhkan uang?" Alin bertanya sinis. Dia tetap berdiri, dengan gestur tubuh penuh keangkuhan. Matanya menyipit, memandang remeh kepada anak-anaknya.


"Saya ingin mengembalikan gadis ini!" Edward berdiri lanjut menarik tubuh Arabella dan mendorongnya ke arah Alin. "Dia putri keluarga Brooks. Jadi sudah semestinya dia berada di sini, bukan di jalanan!" Roland mundur beberapa langkah kemudian menunggu respons ibunya.


"Saya sudah tidak ada urusan dengan gadis tidak berguna ini. Kalau pun dia mati, saya tidak peduli!" sahut Alin tidak berperasaan.


"Oh, benarkah begitu? Coba kita buktikan!" Roland mendekati Arabella lanjut memelintir tangan sang adik dan menariknya ke belakang pinggang.


Alin nampak terkejut dengan apa yang dilakukan putranya. Namun, dia tutupi dengan raut seolah acuh. "Apa sih? Saya bilang, saya tidak peduli!"


Roland berkali-kali menampar wajah Arabella, menampakkan luka memar di salah satu sudut bibirnya. Arabella terisak, fisik dan hatinya tersakiti oleh kakaknya sendiri.


"Kalau Arabella masih tidak diterima di keluarga ini, biarkan saya mengantarkan nyawanya sekarang juga!" Roland mengeluarkan sebuah pisau lipat yang dia sembunyikan di dalam kantong celana. Benda tajam tersebut diarahkan ke arah leher sang adik. Satu sayatan melukai ceruk leher, Arabella meraung sedangkan Alin menjerit.


"Hentikan Roland, apa-apaan kamu?! Apa kamu tidak merasa iba pada adikmu itu?" Alin menarik Arabella, menjauhkan tubuh putrinya dari kakaknya yang sudah gila.


Roland tersenyum puas. Sikap ibunya baru saja, tidak secara langsung mengatakan kalau dia begitu menyayangi putrinya.


"Roland titip Arabella ya Mi ... tolong jaga dia. Bella membutuhkan kasih sayang Mami dan juga papi," kata Roland berjalan mundur menuju pintu ruang tamu. "Dia butuh perhatian kalian. Dan satu lagi ... didik Arabella dengan lebih baik. Kalau sampai terdengar kabar miring mengenai adikku, rumah ini akan menjadi abu, begitu pun juga dengan adikku!"


Roland keluar dari rumah yang sudah memberinya banyak kenangan. Meski terasa berat dan ingin tetap tinggal. Namun, dia tetap harus meninggalkan tempat di mana dia dilahirkan dan juga dibesarkan.

__ADS_1


...*****...


...Terimakasih untuk semua dukungannya ya, semoga sehat selalu......


__ADS_2