Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Cari Sampai Lubang Tikus!


__ADS_3

...Hari Senin, ditunggu VOTE-nya ya Kak ;)...


...*****...


"Silakan kamu menunggu di luar," pinta dokter Willliam.


Dengan berat hati Edward keluar dari ruangan, meski ketakutan dan pikiran negatif membuncah dari dalam dirinya. Untung saja di saat kondisi panik seperti ini, otaknya tidak buntu untuk berpikir. Dia merogoh ponsel dari dalam kantong celana lantas menelepon asistennya.


Feliks


Kenapa bos?


Edward


Ada yang mencoba membunuh papaku


Kerahkan semua anak buah untuk mencari siapa pelakunya


Cari sampai lubang tikus sekalipun!


Feliks


Siap bos!


Edward


Saya beri waktu sampai besok malam. Kalau kamu gagal, kamu yang mati!


Feliks


Tega memangnya bos, melihat asisten yang lucu ini mati?


Edward


(Mendengus) Bukan saatnya bermain-main, Feliks!


Feliks


Si-siap bos


Perintahmu saya laksanakan!


Edward mengakhiri sambungan telepon, dia mengintip dari balik jendela. Nampak olehnya semua sibuk dengan peranannya masing-masing.


Dokter William yang dibantu dengan satu orang perawat, mengecek kondisi Richard dan melakukan beberapa tindakan penyelamatan. William menempelkan alat pacu jantung di atas dada sahabatnya. Beberapa kali dia mencoba mengembalikan denyut jantung Richard. Dan keajaiban Tuhan terjadi pada pria paruh baya itu untuk kedua kali. Tanda di monitor berangsur normal, Richard selamat.


"Syukurlah kita tidak jadi kehilangan pasien," ujar dokter William pada asistennya.


Melihat raut wajah lega Sang dokter, Edward turut menarik napasnya. Hati yang gusar sedikit mereda. Akan tetapi berganti dengan amarah saat dua orang security datang tergopoh-gopoh.


"Dasar manusia-manusia tidak berguna!" Edward meninju muka kedua security dengan umpatan-umpatan yang mengalir dari mulutnya. "Kerja kalian tidak becus! Penyusup datang bisa-bisanya kalian tidak tahu. Kalau sekali lagi kalian lengah, saya akan meminta direktur Rumah Sakit untuk memecat kalian!" ancam Edward yang membuat dua orang tersebut waswas.


"Ma-maaf Tuan, kami akan pastikan kejadian ini tidak terulang lagi," ucap salah satu security. "Tuan, lengan anda terluka, biar saya panggilkan perawat."

__ADS_1


Edward mengangguk. Dia hendak mendaratkan bokongnya di atas kursi, namun suara pintu terbuka menghenyakkan jantungnya. Dia menghampiri dokter William dan menunggu pria yang rambutnya dipenuhi uban tersebut membuka suara.


"Papamu selamat, denyut jantungnya sudah kembali. Namun napasnya saja yang masih lemah." William menghentikan sesaat ucapannya. "Tapi ada untungnya dengan kejadian ini. Tanda-tanda papamu akan bangun dari koma, sudah mulai terlihat." William menepuk pundak pemuda di depannya.


Edward mengusap wajahnya seraya mulut melafalkan doa dan ucapan syukur. Tidak lupa dia mengucapkan terimakasih pada sahabat ayahnya itu.


"Terimakasih Om Wil, sudah menyelamatkan papa. Terimakasih...," Edward membungkukkan badannya berkali-kali ke arah William. William hanya terkekeh dan kembali menepuk bahu Edward.


"Oh iya, Om menemukan berkas ini di dalam ruangan. Punya kamu?" William menyodorkan sebuah amplop cokelat. Edward meraih amplop yang disodorkan tersebut kemudian melihat isinya. Matanya memerah, menyadari siapa yang telah mencoba membunuh papanya.


"I-iya ini milik Edward, Om!" seru Edward. William mengangguk lalu pamit untuk kembali ke tugasnya yang lain. Setelah William pergi dari hadapannya, Edward menghubungi Feliks untuk kedua kali.


Edward


Saya sudah tahu siapa pelakunya


Feliks


Siapa bos?


Edward


Wanita iblis itu, Amber!


Feliks


Bukannya nyonya Amber sedang dipenjara?


Edward


Feliks


Siap bos!


Edward


Seret semua ke hadapanku!


Amber dan cecunguk-cecunguknya


Feliks


Gampang Bos!


Edward


Kepalamu taruhannya!


...***...


Tempat yang paling nyaman saat masalah mengelilingi kepala, adalah rumah. Di mana ada pasangan hidup yang menjadi pelipur lara dan anak yang menjadi hiburan di kala hati resah.


Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk Edward. Dia membutuhkan belaian lembut istrinya. Dia memerlukan pelampiasan dari apa yang mendera hari-harinya. Tempat kembali dan tempat melerai seluruh keluh kesah.

__ADS_1


"Aku pulang..." ucap Edward lesu. Rona menyambutnya dengan gembira. Namun matanya langsung menangkap lengan yang ditutupi perban.


"Tanganmu kenapa Edward?" Rona memegang lembut tangan yang terluka.


"Nanti aku ceritakan. Sekarang aku ingin mandi, bisa siapkan air hangat?" pinta Edward. Tangannya melingkar ke pinggang Rona dengan kepala yang bersandar.


"Kamu berat Edward..." rengek Rona. Edward terkekeh lalu menarik hidung istrinya.


"Ih... aku gemas sama kamu sayang!" seru Edward. Dia seketika lupa akan masalah pelik yang menyapanya dari siang hingga malam. Yang dia inginkan saat ini, kucuran kasih sayang dari belahan jiwanya.


10 menit kemudian


"Air hangat sudah siap sayang...," Rona memberikan handuk bersih pada Edward. Edward merentangkan tangannya ke samping.


"Buka seluruh pakaianku sayang," pinta Edward tanpa nada bercanda. Rona melucuti pakaian yang melekat di tubuh suaminya dan hanya menyisakan kain terakhir yang menutupi bagian inti. Kerongkongan Rona naik turun melihat tubuh indah suaminya.


Edward yang sadar ditatap dengan sorotan menerkam, hanya terkekeh nakal. Dia mengaitkan handuk ke atas pundak lalu berjalan bak seorang model pakaian dalam menuju kamar mandi.


Rona menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Dia merapikan pakaian kotor milik Edward, setelah itu mendaratkan tubuhnya di atas sofa panjang yang berada di samping jendela. Sambil menunggu suaminya selesai membersihkan badan, dia meraih buku yang sudah disiapkan sebelumnya lalu membacanya.


Waktu begitu cepat bergulir, kini Edward sudah berdiri di hadapan Rona dengan handuk putih yang melilit di atas pinggang. Rona mengendus wangi sabun, wajahnya mendongak. Sinyalnya begitu kuat mendeteksi sesuatu yang menggiurkan. Kedua mata indahnya terpaku pada dada bidang lalu perut yang masih terjaga kebugarannya. Terakhir pada milik suaminya yang menyembul dari balik handuk.


Tatapan Rona naik ke atas, berpindah ke paras tampan suaminya. Edward memasang wajah mengejek, Rona merengut.


"Kamu lihat apa sayang, kok sampai menganga begitu?" sindir Edward. Rona yang malu tertangkap basah tengah menikmati pemandangan indah di depannya langsung saja tersipu dan menutup mukanya.


"Buka tanganmu, lihatlah aku!" titah Edward yang menari striptis. Dia menggoyang-goyangkan pinggulnya lalu mempraktikkan goyangan erotis. Berharap istrinya akan terangsang, yang ada malah terbahak-bahak.


"Kepalamu habis kepentok ya sayang?" Rona tergelak dan memegangi perutnya menahan geli. Dia tertawa dengan mata yang terpejam. Saat Rona berhenti terpingkal, dia membuka mata. Mulutnya terkunci seketika karena wajah suaminya berada tepat di depan wajahnya.


"Masih ingin menertawakanku, hm?" Aroma daun mint dari pasta gigi menghembus lembut ke seluruh wajah. Rona gelagapan, sudah tidak bisa lari lagi dari jeratan gairah yang menguasai suaminya.


"A-aku...."


Belum juga Rona selesai berbicara, Edward lebih dulu menyambar bibir istrinya. Melumatt lalu mengunyahnya seperti bubble gum yang manis dan legit.


...*****...


...Terimakasih untuk semua dukungan teman-teman, semoga dibalas dengan kebaikan yang berlipat-lipat ganda....


...Mohon maaf tidak terscreen shoot semua....







__ADS_1


__ADS_2