
...Hari senin ditunggu VOTE-nya ya teman-teman... Hihihi...
...*******...
Memang benar kata Agnes Monica dalam lirik lagunya kalau cinta kadang-kadang tak ada logika. Karena seorang Edward Liam yang memiliki sisi liar pun bisa bertingkah di luar nalar dan menggelikan hanya demi mendapatkan maaf dari wanita yang mulai mengisi kehampaan di hatinya.
Dia terus berusaha, meski lagi dan lagi hanya penolakan yang didapatkan. Tapi cinta memang harus diperjuangkan, bukan? Kalau menyerah sebelum berperang, itu namanya pecundang. Dan pada akhirnya hanya akan ada penyesalan tiada berujung.
"Edward, please bangun. Aku benar-benar malu!" bisik Rona dengan suara yang ditahan.
"Aku akan bangun kalau kamu mau memaafkanku!" balas Edward.
"Iya-iya, tapi bangun dulu. Apa kamu tidak lihat wajahku sudah seperti udang rebus, hah?" timpal Rona yang menggerak-gerakkan lengannya agar lepas dari cengkeraman. Wajah Edward sumringah, dia melepaskan pelukan lalu sama-sama bangun untuk berdiri.
"Jadi bagaimana, apa aku sudah dimaafkan?" tanya Edward penuh harap.
Semua orang menutup mulut tidak ada yang mengeluarkan suara. Suasana hening semakin hening ketika Rona berteriak, "Tidak! Aku tidak akan memaafkanmu Edward! Jangan ganggu lagi hidupku. Aku lelah, aku muak!!!"
Rona berbalik dan pergi meninggalkan Edward yang frustrasi. Sementara orang-orang memberi dukungan silih berganti. "Apa aku harus berguru pada Kahlil Gibran, tentang bagaimana caranya menaklukan perempuan?"
Seseorang menepuk pundak Edward. "Jangan menyerah Bos, wanita itu paling suka dikejar dan diberi kepastian!"
"Feliks! Sejak kapan kamu di—?"
"Ah, kamu menyaksikan semuanya?" tanya Edward kikuk.
"Yuhu... semuanya!" tukas Feliks yang menahan tawa.
"Kamu menertawakanku Feliks?" Edward memasang wajah bengis dan badan dibuat tegas. Namun, bayangan ketika dia berlutut, membuyarkan kesan itu semua.
"Kalau Bos memang benar-benar cinta sama Rona, aku saranin lamar dia jangan dilama-lama lagi. Sebelum aku yang melamarnya!" seloroh Feliks yang membuat Edward melotot.
__ADS_1
"Selamat menikmati dan menyiapkan hati saja deh Bos. Karena membujuk wanita yang sudah marah, lebih sulit dari pada membujuk singa untuk makan!" ujar Feliks seraya kembali menepuk pundak Edward.
Feliks berlalu pergi meninggalkan Edward yang masih termangu mencerna kata-katanya. Pemandangan yang dia saksikan tadi sangat mengguncang perasaan, dia sadar kesempatan untuk mendapatkan hati Rona semakin terbatas. Dan dia memilih menyerah dan mengalah, demi Edward. Janji setianya sepanjang hidup pada keluarga Liam bukan isapan jempol semata. Karena dia benar-benar menerapkan dalam kehidupannya, meski terkadang lelah.
...***...
Ban berputar dengan sangat kencang, mobil menerobos keramaian kendaraan yang berlalu lalang. Menancap gas, melesat cepat. Menyalip dan melaju bagai kepungan angin di antara debu.
"Jadi, coba katakan kenapa kamu bisa disekap seperti ini?" tanya Roland yang menatap Arabella dari kaca spion. "Dan siapa yang sudah melukaimu?" tambahnya lagi.
Arabella memutar bola mata. Dia berpikir dengan keras karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Itu hanya akan merugikan dia sendiri.
"Aku tidak tahu Kak, aku tiba-tiba saja dihadang lalu dibekap. Sadar-sadar sudah berada di sana."
"Lalu soal kakimu?" tanya Roland mengintimidasi.
"Aku juga tidak tahu Kak, orang itu mengenakan penutup kepala," killah Arabella menutupi fakta. Dia terpaksa berbohong karena kalau dia jujur Roland pasti akan membalas perbuatan Edward. Bagaimana pun juga dia sangat mencintai lelaki itu.
"Tidak tahulah Kak," sahut Arabella.
"Baik, aku akan mencari tahu sendiri kalau begitu!" seru Roland. Arabella tertegun karena kakaknya bukan orang sembarangan. Dia dulu seorang anggota Defence Force. Namun, karena keegoisan Arabella dia terpaksa harus membunuh satu keluarga dan berakhir dengan dipecat secara tidak hormat. Dia juga mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama.
"Tidak usahlah Kak, aku tidak mau Kakak kesusahan lagi gara-gara aku," lirih Bella berharap Roland luluh. "Lebih baik sekarang bawa aku ke Rumah Sakit yang terbaik, aku tidak mau hidup menjadi orang cacat!"
Roland mengangguk, tetapi dengan isi kepala yang berputar. Karena dia yakin kalau adiknya sedang merahasiakan sesuatu. "Kamu tidak pandai berbohong Bella, aku tahu ada yang kamu sembunyikan."
...***...
Mata Edward menyalang karena gerbang pintu terbuka tanpa penjagaan. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, lalu berjalan dengan tergesa-gesa. Nampak ketiga anak buahnya terbujur sudah tak bernyawa dengan tiga bilah pisau yang menancap di tubuh mereka masing-masing.
"Arabella!" gumam Edward. Dia meradang dan menatap ke arah ruangan di mana Bella disergap. Lalu membuka pintu dengan satu kali tendangan.
__ADS_1
Sklera mata Edward memerah, rahangnya menegang dengan kepala yang memanas. Karena dia tidak mendapati tawanannya di sudut mana pun. Belum lagi bau amis darah dari anak buahnya, menambah amarah kian memuncak.
"Aghrh... Arabella, aku salah sudah meremehkanmu!" geram Edward. Dia menaruh jari telunjuk di depan hidung Anton dan masih terasa sapuan napas. Edward menarik belati yang disimpan di atas meja, lalu menancapkannya ke atas jantung Anton.
"Dasar anak buah tidak berguna!" geram Edward. Kini pria yang tengah tergeletak di atas ranjang, sudah tak bernyawa. Edward tidak main-main dengan ancamannya.
Edward menghubungi anak buahnya yang lain. Dia memerintahkan untuk membuang semua mayat ke dalam jurang dan membersihkan noda darah yang berceceran. Dia tidak ingin terseret masalah hukum karena kematian empat orang pesuruhnya.
"Semoga pelajaran yang aku berikan, berguna untukmu Arabella. Tapi kalau masih ingin bermain-main, hukuman selanjutnya akan lebih menyiksa!"
...***...
Salah satu hal yang menenangkan pikiran adalah dengan menatap air hujan yang turun dari atas langit. Tetesannya bagai irama merdu, tiupan angin menyejukkan kalbu.
Rona berdiri di depan penyangga balkon apartemen seraya menghirup wangi tanah dan udara sejuk. Matanya terpejam dengan telinga mendengarkan nada-nada indah yang diciptakan Tuhan.
"Makan malam di luar yuk Ron, sudah lama nih kita tidak hang-out..." ajak Nath dengan tangan merangkul pundak Rona.
"Em... boleh, kebetulan aku lagi suntuk dan butuh hiburan!" balas Rona dengan merangkul pundak Nath. Kedua sahabat saling merangkul tanpa terbesit perasaan apa pun.
Di belakang mereka berdiri Claire dengan menatap cemburu karena akhir-akhir ini Nath seolah canggung bila di dekatnya.
"Ehm..." deham Claire. "Berduaan saja nih!" tegur Claire dengan raut cemberut.
"Cie... cie... cie... ada yang cemburu nih roman-romannya?!" ledek Rona pada sahabatnya.
"Apa sih!" jawab Claire seraya mengulum senyum. Sementara Nath nampak asyik menikmati wajah Claire yang sedikit merona. Pria yang mendapat julukan play boy selalu salah tingkah kalau di dekat Claire, berbeda bila bersama wanita lain. Dia akan menggila seketika, menebar pesona lalu menyebar benih.
...*******...
...Terimakasih semuanya yang berkenan membaca Novel karya Author remahan ini. Semoga ceritanya akan terus disukai, aamiin.....
__ADS_1
...Kalau yang berkenan dan mempunyai vote lebih, Senja tunggu ya 🙈, terimakasih.......