Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Dijemput Pangeran


__ADS_3

...Hari senin, kalau berkenan vote karya Author ini ya... Siapa tahu punya vote lebih. Hihihihi......


...******...


Hari yang berat untuk dilalui. Namun, tidak sedikit pun menyurutkan semangat untuk berjumpa malaikat-malaikat kecil. Dengan bertemu merekalah, kegundahan yang mengikat diri merenggang dan terlepas dari ingatan.


Derap langkah penuh semangat dan percaya diri menutupi jati diri. Membayangi kekarutan, meredam persoalan hidup yang tidak akan pernah usai.


"Selamat sore, Dok!" sapa salah seorang perawat seraya menganggukkan kepala.


"Selamat sore," jawab Rona ramah.


Sepucuk senyuman terukir tiada henti, menebarkan energi positif pada setiap orang yang menatapnya. Melihat orang-orang di sekitar turut memancarkan cahaya, kepuasan batin semakin didapatkan.


Kaki jenjang melangkah penuh gairah. Menghentakkan irama bersahutan dari sepasang sepatu. Menarik perhatian para pemburu senyuman. Simpulan tulus dan menentramkan.


Jemari lentik menarik tas selempang, lalu menaruhnya di atas meja. Mata jernih menangkap sebuah kotak yang berisi makanan dengan bunga lili yang tersemat di dalam vas bunga.


"Meat pie?"


Sepasang alis bertautan, ujung tangan membuka sebuah kartu ucapan. Tanpa suara, Rona membaca apa yang tersirat dalam deretan kalimat indah.


"Meski ragaku tak kamu inginkan, tapi biarkan makanan yang khusus aku siapkan ini menemani malammu. Habiskan ya... With love, EL."


"EL, siapa?" tanya Rona di dalam hati. "Edward Liam? Ahahaha... tidak mungkin!" gumam Rona seraya berpikir. Dia menggeleng-gelengkan kepala lalu menutup kembali kotak makanan dan memindahkannya ke atas lemari besi.


"Suster Gisella!" panggil Rona pada asistennya.


"Iya Dok, sudah siap menerima pasien?" tanya Gisel seraya berlari kecil.


"Tiga menit lagi ya...," pinta Rona. "Kamu tahu tidak, siapa yang mengirimkan pie daging sama bunga lili ini?" tanya Rona dengan telunjuk di arahkan ke benda yang menghiasi meja kerja.


"Saya tidak tahu Dok. Saya kira, Dokter sendiri yang memesan makanan," jawab Gisella sekenanya.


"Saya tidak memesannya." Rona tidak mau dibuat pusing dan mulai menyiapkan dirinya menemui tubuh-tubuh mungil yang akan dia periksa kesehatannya.


"Ezio?" sapa Rona pada pasien pertamanya.

__ADS_1


"Iya Dokter cantik ini aku..." jawab Ezio yang langsung berjalan ke arah bed pasien.


Sang nenek menghampiri Rona lalu berbisik, "Cucuku sehat Dok cuman pura-pura sakit ingin ketemu sama Dokter cantik katanya...."


Rona nyengir kuda, lalu menarik tubuhnya mendekati anak laki-laki yang tengah berbaring. "Anak pintar, sakit apa?"


"E- Ezio sakit ... em... sakit apa ya?" gumamnya dengan polos.


"Oh iya, batuk Dokter cantik. Uhuk... uhuk...!" sahut Ezio.


"Batuk? Coba sini Dokter periksa ya...," Rona membuka t-shirt Ezio kemudian menyentuh dadanya menggunakan stetoskop.


Rona merapikan lagi pakaian anak kecil yang tersenyum ke arahnya lalu seperti biasa mengangkat tubuh mungil itu dan memberikannya pada orang dewasa yang mengantar.


"Oma ... Ezio harus makan sayur sama buah-buahan setiap hari ya..." saran Rona.


Ezio menarik bibirnya ke bawah lalu menyentuh lengan sang nenek menggunakan jari. "Oma... Ezio tidak suka makan sayur."


"Yah, Dokter sedih jadinya kalau pasien Dokter tidak mau makan sayur." Rona memasang wajah memelas, dengan raut merengut.


Ezio melihat raut kesedihan dan kini hatinya tersentuh. "Oke deh, Ezio nurut sama Dokter cantik. Ezio akan makan sayur sama buah-buahan," celoteh Ezio yang diakhiri memperlihatkan gigi tikusnya.


"Sehat terus ya Ezio, ingat pesan Dokter. Makan sayur dan buah setiap hari," balas Rona seraya mengelus lembut kepala Ezio.


"Terima kasih banyak Dok ... maafkan cucu saya," ucap Maria.


"Terima kasih kembali, Nyonya. Ah tidak apa-apa, malah saya senang bertemu Ezio..." jawab Rona.


Satu per satu pasien berdatangan dan Rona menangani tanpa bekeluh kesah. Wajah ramah serta ceria tidak luntur sedikit pun. Memberi kebahagiaan pada jiwa-jiwa yang ingin sembuh dari sakitnya.


Hari berganti malam, suasana Rumah Sakit semakin tenang. Pasien terakhir sudah selesai diperiksa, tinggal memanjakan perut sendiri yang sedari tadi menagih bagiannya.


"Em... pie ini lezat sekali," gumam Rona menikmati makanan kesukaannya.


"Dok, saya pulang duluan ya," pamit Gisella.


"Makan malam dululah, saya punya banyak meat pie," tawar Rona.

__ADS_1


"Terima kasih Dok tawarannya, tapi kekasih saya sudah menunggu di lobby utama," jawab Gisella malu-malu.


"Ya sudah, hati-hati ya..." balas Rona ramah. Gisella keluar dari ruangan sedangkan Rona melanjutkan makan malam yang sempat tertunda.


"Kekasih, aku kapan punya kekasih ya? Yang ada malah terjebak dalam hubungan tanpa status dengan pria tua gila."


...***...


Rona menuruni anak tangga setahap demi setahap. Sebenarnya dia sudah lelah. Namun, sayangnya lift di Rumah Sakit itu sudah tidak berfungi. Jadi terpaksa dia harus melalui tangga darurat.


Kondisi Rumah Sakit ketika malam lumayan mencekam karena lampu-lampu banyak yang dimatikan. Belum lagi jarang sekali orang berlalu lalang, membuat keadaannya semakin sepi dan hening.


Gadis itu berjalan dengan juntai seraya memilin tengkuk yang terasa berat. Tas di pundak menjadi semakin berat, ingin rasanya cepat merebahkan tubuh letih di atas ranjang yang hangat.


Rona merenggangkan urat lehernya, menarik ke arah kanan dan ke kiri secara bergantian. Namun, tubuhnya menegang saat mendapati pria yang tidak ingin dia temui tengah bersandar ke pintu mobil sembari melipat kedua tangan di atas dada. Pria itu tersenyum manis. Namun, Rona membalas dengan tersenyum kecut. Rona mendekat dan Edward membukakan pintu mobil untuknya. Akan tetapi, gadis itu mematung.


"Ayo masuk, aku antar kamu pulang..." tawar Edward.


Rona tetap bergeming dan mengacuhkan ajakan Edward. Pria itu menghembuskan napas kasar lalu berjalan dengan gusar. Rona memalingkan mukanya, jengah melihat wajah pria arogan yang selalu bersikap seenaknya.


Tiba-tiba tubuh Rona melayang karena Edward mengangkat gadis itu dan membawanya menuju mobil. "Kamu ringan sekali Dokter Rona. Keputusan yang tepat aku menggaulimu tanpa pengaman," seloroh Edward tanpa rasa canggung.


"Ma- maksudmu?" bentak Rona.


"Kalau orang hamil memangnya bagaimana?" Edward balik bertanya seraya menurunkan tubuh Rona ke atas jok mobil. Dia memasangkan seat belt tanpa peduli kalau jantung gadis itu berdetak sangat kencang saat ini.


Edward mengitari mobil lalu masuk dan mendaratkan tubuhnya di belakang kemudi. Malam ini dia menjemput Rona dan menyetir mobil sendiri tanpa ditemani Feliks. Dia bersikap tidak seperti biasanya, apakah tersadarkan oleh perkataan Feliks tadi siang?


Tidak ada yang bisa menyelami hati seseorang. Apalagi orang seperti Edward yang tingkah lakunya selalu berubah-ubah sesuai kehendak. Tidak perlu merasa berbesar hati apalagi mulai menaruh hati karena kekecewaan yang akan dirasakan pada akhirnya. Karena itu Rona tidak menganggap apa yang Edward lakukan adalah sebuah keistimewaan. Dia tidak ingin terus-menerus terluka dan tersakiti oleh perlakuan Edward yang kerap membingungkan.


...******...


...Selamat hari senin untuk semuanya. Semoga ada yang berkenan memberikan Author semangat dengan memberikan vote (ngarep)....


...Kalaupun tidak ada, dengan menjadi pembaca setia, sudah membuat Author sangat bahagia. Apalagi meninggalkan like, comment, favorite, hadiah dan rate 5 bintang. Lebih bahagia. Hihihihi......


...Mampir di Chat Story temanku yuk......

__ADS_1



__ADS_2