
Bagaimana pun juga seorang ibu tetaplah seorang ibu. Dia yang mengandung selama 9 bulan, hingga kita terlahir dan bisa menatap indahnya dunia. Sebesar apa pun kesalahan seorang ibu, tidak mengurangi posisinya sebagai wanita nomor satu.
"Apa kabar Mom?" tanya seorang anak perempuan yang merindukan belaian lembut seorang ibu. Dia menyodorkan satu kotak makan siang yang berisikan masakan kesukaan ibunya.
Wanita yang dipanggil mom, menatap sinis disertai gestur tubuh meremehkan. Dia melipat tangannya di atas dada dan memperhatikan perut putrinya yang kian membesar.
"Benih si brengsekk Nath masih saja ada di dalam perutmu. Mom kira kamu sudah membuangnya!" ketus Amber pada anaknya. "Itu anak haram, Leona. Harusnya kamu gugurkan saja!" tambah Amber dengan kalimat yang tidak pantas.
Leona menarik sebelah bibirnya dan menatap tajam ke arah wanita paruh baya tersebut. "Leona masih punya hati, Mom. Tidak seperti Mom yang begitu tega melukai anaknya sendiri demi ambisi!"
Amber bertepuk tangan lantas menggeram seram dan mendekatkan tubuhnya. "Sudah berani kurang ajar ya pada ibumu ini? Apa kamu lupa siapa yang sudah melahirkan dan mengurusmu hingga kamu menjadi wanita sukses?"
Amber mencengkeram wajah Leona hingga gadis itu mengerang kesakitan. "Dengarkan Mom, baik-baik. Mom sangat menyesal karena telah melahirkan anak yang tidak berguna seperti kamu! Jujur saja, Mom sangat menikmati, saat sebilah pisau melukai leher indahmu waktu itu."
Leona mendongak, menguatkan hati menatap sang ibu dan memperlihatkan bahwa dia tetap tegar, kalau dia bukan anak yang lemah. "Sebenci apa pun Mom pada Leona, Mom tetap seorang ibu yang harus Leona hormati. Sejahat apa pun Mom pada Leona, Leona akan tetap menyayangi Mom sampai kapan pun."
Amber berdecak sebal dan berbicara dengan nada malas. "Ya, ya, ya... simpan saja omong kosongmu itu. Mom sudah muak! Sudah pulang sana, lama-lama Mom ingin muntah melihat wajah sok naifmu!"
"Ya sudah... Leona pulang kalau begitu. Sehat-sehat ya Mom di dalam penjara." Leona bangkit dari tempat duduknya, berusaha bersikap tenang dan menunjukkan kepada ibunya kalau dia baik-baik saja.
"Heh...!" panggil Amber. "Bawa sekalian lunch box ini, Mom tidak sudi memakannya!" Amber mendorong kotak makanan yang diberikan Leona, Leona membawanya kembali.
"Baiklah, kalau Mom tidak mau ... biar pie daging ini Leona berikan pada anjing di jalanan. Karena mereka lebih bisa menghargai pemberian orang." Leona mengangkat wadah yang berisikan makanan tersebut dan menatap Amber tanpa ekspresi.
"Dasar anak kurang ajar," geram Amber setelah Leona menarik langkah dari hadapannya. Umpatan Amber terdengar jelas di telinga Leona. Namun, gadis itu berusaha mengabaikannya dengan terus berjalan menuju pintu ke luar.
__ADS_1
Sementara di luar ruang kunjungan, Roland tengah menanti sang istri dengan sangat sabar. Dia bisa melihat ada kabut kesedihan di wajah istrinya meski ditutupi dengan sedemikian rupa. "Kamu baik-baik saja, Leona?"
Leona mengangguk pelan seraya berjalan menghampiri Roland. "Aku baik-baik saja Kak, kenapa memangnya?"
"Ah, tidak... aku hanya bertanya saja," kilah Roland yang tidak ingin membuat perasaan Leona bertambah tidak nyaman. "Kita mau ke mana setelah ini?" Roland mengulurkan tangan saat sang istri menuruni tangga.
"Em... Leona mau makan makanan enak, Kak. Dengar-dengar di pusat kota lagi ada pasar malam ya, kita ke sana yuk?" ajak Leona sumringah. "Leona sudah lama tidak pernah ke pasar malam, rindu rasanya..." lirih Leona agar suaminya menuruti keinginannya.
Roland menggeleng-gelengkan kepala tidak setuju atas usulan istrinya. "Ke tempat yang lain saja, makanan di sana itu kurang higienis, Leona! Bagaimana kalau kita ke Japanese restaurant?"
Leona mendesahh kecewa, dia melewati Roland yang menunggu jawaban. "Kita pulang saja Kak kalau gitu. Leona bosan kalau harus makan di restoran terus. Leona juga ingin sesekali menjejaki makanan di street food, seperti orang-orang."
"Sekali tidak, tetap tidak!" tegas Roland.
"Terserah Kak Rolandlah... Kak Roland ini sama saja dengan Kak Edward, sok higienis!" Leona berjalan tergesa-gesa menuju tempat parkir.
"Sedang melihat apa Natalie?" tanya seorang pria memergoki dirinya tengah memperhatikan pasangan yang dimabuk cinta. Terlihat jelas sorotan mata yang mengatakan bahwa dia tidak menerima kebahagiaan wanita lain di sisi pemuda incarannya. "Jangan bilang, kalau kamu menyukai pemuda idiot itu!" ucap seseorang itu sinis.
"Bukan urusanmu!" sergah Natalie seraya memutar badannya meninggalkan pria tersebut.
"Tentu saja ini adalah urusanku, Natalie. Kalau kamu mau kita bisa bersekutu untuk mendapatkan apa yang kita inginkan." Pria itu menoleh ke arah Natalie yang berdiri sejajar dengannya dengan senyum penuh misterius.
"Apa maksud perkataanmu, Tuan Brian?" tanya Natalie meminta penjelasan.
Brian mengalihkan tatapannya dari arah Natalie ke arah pasangan yang sedang bercumbu mesra. "Lihatlah Natalie, mereka saling berbalas ciuman. Apa kamu tidak cemburu? Apa kamu tidak ingin merasakan hal yang sama?"
__ADS_1
"Cepat katakan, apa maumu? Aku tidak memiliki banyak waktu!" imbuh Natalie ingin mengetahui rencana apa yang Brian pikirkan.
"Kamu bantu aku untuk merekayasa setiap laporan keuangan dan aku akan membantumu untuk mendapatkan pemuda itu," jawab Brian seraya menunjuk laki-laki di hadapannya menggunakan dagunya.
"Caranya?" Natalie mengerling, pernyataan Brian mulai mempengaruhi otak warasnya.
"Mudah... serahkan saja padaku. Asalkan kamu mau diajak kerja sama dan menutup mulut lebarmu rapat-rapat." Brian melihat ke arah Natalie dengan ekor matanya. "Bagaimana, deal?" tanya Brian dengan harapan besar kalau Natalie bisa dia taklukan.
"Aku akan memikirkan dan mempertimbangkannya masak-masak..." sahut Natalie gamang.
"Aku butuh jawaban sekarang juga, Natalie!" balas Brian kesal. "Lagi pula kesepakatan ini hanya berlaku untuk hari ini. Tidak ada lagi kesempatan kedua apalagi ketiga," tambah Brian membuat pikiran Natalie bimbang.
"Oke, deal!!" jawab Natalie singkat.
Brian mengulurkan tangan ke arah Natalie, wanita itu menyambutnya. Mereka saling berjabat tangan sebagai tanda dimulainya sebuah kesepakatan di antara keduanya. Kesepakatan demi mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara licik dan kotor.
"Terimakasih, Natalie..." ucap Brian memasang wajah genit. "Bagaimana kalau kita rayakan kerja sama kita nanti malam di Lorenzo Night Club, kamu mau?" tanya Brian pada Natalie.
Wanita muda itu mengangguk menyetujui ajakan Brian tanpa berpikir panjang. Karena dia juga merindukan kehidupan dunia malam, yang sudah lama ditinggalkan. "Ok, aku mau. Kita bertemu langsung di sana atau kamu akan menjemputku?"
Brian berpikir sejenak, lalu menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang membuat Natalie terpedaya. "Aku akan menjemputmu ... jadi berdandanlah secantik dan seseksi mungkin!"
"Oke, Brian. Aku tunggu," sahut Natalie mengerlingkan mata.
Tidak tahu rencana apa yang sudah Brian siapkan untuk menjalankan aksinya bersama Natalie. Rencana untuk melancarkan sebuah ambisi demi memuaskan keinginannya.
__ADS_1
...*****...
...Hari ini di Bandung terang benderang dan panas sepanas scene hari ini. Bagaimana di tempat teman-teman?...