
Pagi ini dimulai dengan keheningan di depan meja yang berbentuk persegi panjang. Semua orang memilih membisu karena hawa di dalam mansion mendadak kembali terasa dingin dan kaku seperti hari-hari sebelumnya.
Richard menatap ke arah anak dan menantunya secara bergantian lantas mendengus pelan. Mulutnya terbuka hendak membuka percakapan, akan tetapi Roland mendahuluinya.
"Aku dengar kalian mendirikan rumah sakit di pinggiran kota. Apa benar kabar yang beredar itu?" tanya Roland dengan mata yang mengarah pada pria di hadapannya lalu beralih pada wanita yang sedang menyantap sarapannya.
Edward melempar sendok ke atas piring, menimbulkan suara nyaring. "Bukan urusanmu, Roland! Dan tolong jaga biji matamu dari istriku. Aku tidak suka kamu melihatnya seperti itu!"
Rona yang semula tertunduk karena tengah mengaduk makanan, sontak mengangkat kepalanya. Matanya bertemu pandang dengan mata Roland yang menatap tajam. Dia memalingkan muka, tidak nyaman dengan cara Roland melihatnya.
"Sudah aku peringatkan, jaga matamu dari istriku!" Edward berdiri, badannya gemetar. "Apa telingamu tuli, Roland?" tambah Edward geram. Terdengar suara gemeretak gigi dari dalam rahang yang mengeras.
Richard yang kesal karena pertikaian tiada habisnya antara anak laki-laki dan sang menantu laki-laki, dia bangkit kemudian mendorong kursi makannya berdiri dengan wajah muram.
"Papa pikir kalian sudah berubah. Sudah bisa hidup berdampingan secara damai, tapi ternyata...," Richard menggeleng-gelengkan kepalanya kecewa. "Papa menyesal pulang ke mansion ini. Lebih baik Papa tinggal di rumah sakit, karena mata dan telinga terasa tenteram dari pada di rumah sendiri. Richard melangkahkan kaki ke arah taman belakang, tempat favoritnya untuk meredam amarah dan melerai beban pikiran.
"Ma- maafkan Edward Pa..." lirihnya merasa bersalah.
Rona menarik lengan Edward memintanya untuk duduk kembali. Edward mendesah pelan lantas mendaratkan tubuhnya di atas kursi. Akan tetapi sorotannya tidak lepas dari pria yang membuatnya cemburu karena hampir saja memeluk sang istri ketika di atas tangga tadi.
"Kamu kenapa sayang, ada yang mengganggu pikiranmu?" Rona bertanya sepelan mungkin, tangannya mengusap-usap pundak Edward dan sedikit meremasnya.
"Aku tidak apa-apa Rona... hanya saja mood-ku tiba-tiba buruk," jawab Edward tanpa melihat lawan bicaranya. Rona yang kesal karena Edward terus melihat ke arah lain, dia meremas kedua pipi suaminya hingga bibir merah kehitaman itu mengerucut.
"Aku di sini sayang... lihat ke arahku. Apa aku sudah tidak menarik lagi? Apa karena sekarang tubuhku gemuk jadi kamu tidak mau melihat ke arahku?" cerocos Rona tanpa mengendorkan remasannya.
__ADS_1
Leona terkekeh melihat wajah konyol Edward, dan turut menimpali ucapan kakak iparnya. "Bagus Kak, Kak Edward memang sesekali harus diberi pelajaran. Sifat menyebalkannya itu tidak hilang-hilang!"
Edward memutar bola mata seraya mencebikkan bibirnya. Menghempaskan cengkeraman tangan Rona dari wajahnya. Kemudian merangkum wajah cantik dengan pipi yang membulat.
"Kita mau berangkat ke rumah sakit sekarang atau mau aku kerjai lagi habis-habisan di atas ranjang?" Edward memainkan kedua alisnya, ditarik ke atas dan ke bawah. Tanpa berkomentar apapun, Rona beringsut dari tempat duduknya lantas merapikan pakaian, menautkan kaca mata dan mewarnai bibirnya menggunakan lipstick.
Tubuhnya berputar ke arah anak kecil yang memandang dengan tatapan sendu, Rona merundukkan tubuhnya lantas menggenggam jemari mungil putranya.
"Ezio sayang... Mommy pergi ke rumah sakit dulu ya. Maaf, pagi-pagi sekali Mommy harus sudah berangkat." Rona mengusap-usap kepala putranya dan mengangkat wajah Ezio yang tertunduk. "Mommy janji, sebelum jam makan malam Mommy sudah pulang. Ezio baik-baik di rumah bersama Suster Ola dan Aunty Leona." Rona menoleh ke arah Leona yang mengacungkan kedua ibu jari ke arah Ezio.
Ezio mengangguk lalu mendekap hangat ibunya. "Oke Mommy... Ezio anak baik. Ezio nurut sama Suster Ola."
Rona mengacak-acak puncak kepala Ezio. "Good boy... doa Mommy selalu menyertaimu sayang."
"Ola, aku titip Ezio ya. Kalau ada apa-apa jangan segan-segan untuk meneleponku," ujar Rona mengangkat ibu jari dan kelingking lalu menempelkannya ke samping telinga.
Rona dan Edward pergi menuju tempat di mana mereka akan menyongsong impian yang baru mereka raih. Impian yang baru saja dimulai, dan masih sangat panjang untuk dilalui.
...***...
Seperti rumah sakit baru pada umumnya, aktifitas di pagi hari masih begitu sepi dan hening. Hanya ada puluhan kepala yang sedang menanti kedatangan pemilik rumah sakit seraya menyiapkan diri untuk rentetan test yang akan mereka dapatkan.
Tidak terkecuali Brian, sang dokter muda yang tampan, gagah juga berkharisma. Dia menjadi pusat perhatian orang-orang karena selain dari fisiknya yang lebih menonjol juga dari ijazah yang dia pegang. Ijazah dari salah satu universitas terkemuka di kawasan Eropa.
Semua orang berbisik-bisik membicarakannya, terlebih para gadis yang tertawan akan parasnya yang menawan. Namun sayang tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya, selain wanita yang berjalan melewatinya dengan tubuh tinggi semampai.
__ADS_1
Sang pemilik rumah sakit sudah tiba, berjalan dengan tegap dan penuh percaya diri. Terpancar binar cahaya yang tersirat dari wajah ayu nan bersahaja. Wajah dengan riasan natural dan tatanan rambut yang diikat seperti ekor kuda.
Dia memasuki ruang dewan direksi rumah sakit. Pandangannya menyapu isi ruangan yang berisikan furniture simple dan modern. Dia memutar kursi kebesarannya kemudian mendaratkan tubuhnya dengan sang suami yang berdiri di samping bagai seorang pengawal.
"Bagaimana, apa kamu suka ruangan ini sayang?" Edward merentangkan tangan, menunjuk ke setiap sudut yang ditata semoderen mungkin.
"Aku suka sayang ... sangat suka!" jawab Rona lugas. Dia melihat jam di atas tangan kirinya, masih ada waktu 15 menit untuknya mempelajari kembali berkas-berkas lamaran yang masuk.
Rona membaca satu per satu berkas yang menumpuk di atas meja dengan seksama, hingga tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Dia menghela napas, menyiapkan rangkaian test yang akan diberikan pada calon petinggi rumah sakit, calon dokter dan calon perawat yang akan bekerja sama dengannya untuk merintis dan mengembangkan rumah sakit miliknya.
Edward yang mendapat sinyal dari sang istri, dia memanggil orang pertama untuk masuk ke dalam ruangan. Rona melakukan interview sementara Edward menyiapkan lembaran kertas yang harus diisi oleh para pelamar dibantu Feliks dan Natalie yang baru saja datang.
Satu jam, dua jam, tiga jam, waktu berpacu seiring rasa lelah yang yang mulai menyeruak. Hingga tiba saatnya jam makan siang, semua terkapar di atas kursi dengan tubuh melangsur.
Edward mengelus-elus perut istrinya lalu mendekatkan wajahnya. "Hai anak Daddy yang baik... mau makan apa Nak? Nanti Daddy belikan...."
Rona tertawa geli mendengar celotehan Edward lantas menjawab dengan menirukan suara anak kecil. "Aku mau makan sea food Daddy, tolong belikan secepatnya ya. Aku sangat lapar...."
Tubuh Edward merenggang, dia berdiri membungkuk menghadap Rona sembari terkekeh. "Tunggu sebentar ya sayang, aku tidak akan lama."
Semua orang pergi tinggal Rona seorang diri. Dia menyelipkan handsfree ke dalam telinga kemudian memutar musik kesukaannya. Belum habis satu lagu, dia merasakan sesuatu yang mendesak dari dalam kandung kemihnya. Meski dilanda rasa lelah dan malas, Rona terpaksa bangkit dari tempatnya kemudian berjalan ke arah kamar mandi yang berada di luar ruangan.
Rona berjalan merayap, dengan tangan menopang ke atas dinding. Kepalanya tiba-tiba berputar dengan mata yang berkunang-kunang. Tubuhnya limbung, Rona hilang keseimbangan. Rona merasakan raganya seperti melayang dan akan terjatuh menghantam lantai. Beruntungnya tangan kekar seseorang melingkar di pinggangnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Suara tegas seseorang terdengar samar-samar sebelum Rona kehilangan kesadaran.
__ADS_1
...*****...
...Terimakasih banyak untuk dukungan dari semua. Terkhusus teman-teman yang memberikan Vote. Semoga tergantikan dengan yang lebih, berkah dan sehat selalu 🙏...