Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Cantik


__ADS_3

"Cantik!" puji seorang pria pada kekasihnya.


"Jadi kemarin-kemarin aku tidak cantik ya?" sahut si wanita menekuk wajahnya.


"Setiap hari kamu selalu cantik ... tapi hari ini cantiknya spesial," seloroh pria tersebut membuat kekasihnya tersipu malu. Kedua pipinya merona, dia menggulung ujung gaun pendeknya menggunakan jari telunjuk.


"Ish... dasar buaya!" seru Claire seraya mencubit pinggang Feliks.


Feliks terkekeh lantas membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. Dia membungkukkan badan dengan lengan disimpan di atas perut. "Silakan masuk Tuan Putri...."


Claire mengerutkan keningnya lalu mengitari mobil yang dibawa oleh Feliks. "Bagus sekali mobilnya. Ini mobil punya Edward atau kamu meminjamnya dari tempat penyewaan?"


Feliks merapikan kerah kemejanya lalu berbicara dengan penuh percaya diri. "Ini mobil baruku, Claire. Baguskan?"


Claire menatap hambar seakan meragukan perkataan kekasihnya. "Seriously? Apa kamu mendapat lotre?"


"Ya... anggap saja begitu." Feliks mendengus pelan lantaran pertanyaan kekasihnya. "Ayo masuk, bukankah tempat yang akan kita tuju itu sangat jauh?" tanya Feliks karena Claire masih melihat ke arahnya dengan tatapan menyelidik.


"Iya nanti aku ceritakan, dari mana aku mendapatkan uang untuk membeli mobil. Sekarang kamu masuklah dulu. Kita sudah membuang waktu 15 menit," ujar Feliks yang dibalas anggukan.


Claire masuk ke dalam mobil, begitu pun juga dengan Feliks. Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Menuju sebuah desa terpencil yang akan menghabiskan waktu sekitar 4 jam.


Desa Prince Island


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam, akhirnya mereka berdua sampai di tempat yang sangat indah nan asri. Di mana daerah itu dikelilingi oleh pegunungan dan terdapat air terjun yang sangat tinggi. Begitu mendamaikan mata dan juga pikiran. Namun, bagi Claire penuh akan kenangan pahit serta menyedihkan.


"Ayo Claire..." ajak Feliks karena kekasihnya menghentikan langkah. Gadis itu menatap nanar pada sebuah rumah mewah yang bernuansakan warna putih kusam dengan ornamen ciri khas bangunan Eropa klasik. Itu karena sang paman memiliki darah keturunan Polandia.


"Kalau kamu ragu-ragu, lebih baik kita pulang saja," imbuh Feliks karena Claire bergeming, berdiri mematung.


"Kita sudah sejauh ini, akan sia-sia rasanya kalau kembali tanpa mendapatkan apa yang kita inginkan." Claire menoleh ke arah Feliks mencari paras laki-laki yang selalu memberinya kekuatan.


Feliks menggenggam erat tangan gadisnya dengan tatapan hangat yang selalu menjadi sumber kekuatan. "Kita hadapi bersama-sama."


Claire mengangguk, rasa percaya dirinya kembali tumbuh. Meski hatinya terasa tawar, mengingat begitu banyak kenangan pahit yang dia dapatkan di rumah ini. Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan seseorang membukakan dengan alis bertautan karena tidak mengenali tamu yang bertandang ke rumah majikannya.


"Mau bertemu dengan siapa Nona, Tuan?" tanya seorang perempuan muda yang disinyalir seorang asisten rumah tangga.


"Tante Monic, ada?" jawab Claire dengan sebuah pertanyaan. "Saya keponakannya Tante Monic dari kota," ungkap Claire menjelaskan.


Gadis muda di hadapannya manggut-manggut seraya membukakan pintu selebar-lebarnya. "Nyonya besar ada, Nona. Silakan masuk."


Claire memasuki bangunan yang sudah dia tinggalkan bertahun-tahun yang lalu. Bangunan yang semestinya menjadi haknya. Namun, direbut paksa oleh istri sang paman yang bernama Monic.

__ADS_1


"Permisi Nyonya... ada yang ingin bertemu dengan Nyonya," ucap maid tersebut dengan badan membungkuk.


"Siapa?" tanya Monic seraya merapikan kuku-kuku lancipnya.


"Aku, Tante. Claire...."


Monic langsung memutar kepalanya mendengar nama dan suara yang sangat dia kenali. Suara sang keponakan yang selalu diperlakukan dengan tidak adil. Monic menyimpan alat kikir kuku, lalu beranjak untuk menghampiri seorang gadis yang melihat ke arahnya dengan tubuh yang tegap.


"Lihat ini siapa yang datang? Si anak tidak tahu diri yang hanya bisa menyusahkan. Ternyata masih ingat jalan pulang?!" cibir Monic memperhatikan penampilan keponakannya lantas ke arah pemuda yang berdiri tidak jauh dari tempat Claire berdiam diri.


Monic berjalan mengelilingi tubuh Claire dengan terus memperhatikan perubahan yang ada pada diri keponakannya. "Cantik kamu ya sekarang? Jadi simpanan pria hidung belang?"


Claire tidak menjawab cibiran Monic, dia lebih memilih membiarkan Monic berbicara sesuka hati. Lagi pula dia sudah malas untuk melayani kegilaan tantenya itu.


"Tante Monic apa kabar?" Claire bersikap setenang mungkin tidak ingin terlihat tertekan oleh ucapan tantenya. Meskipun di dalam hati ingin rasanya dia mencabik-cabik mulut istri pamannya yang amat berbisa.


"Cih, sok baik! Mentang-mentang kamu membawa seorang pria ke mari. Mau apa, mau pamer kalau kamu sudah laku. Iya?" cibir Monic tiada henti.


Jourdy yang mendengar kegaduhan di ruang keluarga lantas keluar kamar untuk melihat apa yang tengah terjadi di rumahnya. Matanya berkaca-kaca melihat wajah seorang gadis cantik yang sangat dia rindukan.


"Claire... benarkah ini kamu, Nak?" Jourdy tergopoh-gopoh untuk menggapai tubuh keponakannya. Kemudian mendekap erat sosok yang sering disakiti olehnya juga sang istri. "Akhirnya kamu pulang, Nak. Paman merindukanmu," ungkap Jourdy tidak melepaskan pelukannya.


"Claire juga rindu Paman," balas Claire terisak. Sepanjang hidupnya, ini pertama kali Jourdy memperlakukannya dengan baik. Selama ini sang paman selalu menuruti perintah sang istri untuk menyakiti dirinya. Ntah itu dengan ucapan maupun perbuatan.


Claire menundukkan kepala, dengan malu-malu dia mengungkapkan tujuannya berkunjung ke kediaman sang paman. "Em... kedatangan Claire ke mari ... Claire ingin meminta restu pada Paman juga Tante Monic."


"Restu apa, Nak?" Jourdy menggenggam tangan keponakannya.


"Claire meminta restu pada Paman dan Tante Monic, untuk menikah."


"Apa, menikah?" potong Monic yang kini berdiri di hadapan Calire. "Mana ada laki-laki yang mau menikah dengan gadis urakan seperti kamu?! Kalau bukan karena kamu menjual diri!" hina Monic tanpa berperasaan.


"Saya pria yang akan menikahi keponakan Paman dan Bibi," sergah Feliks yang tidak tega melihat Claire terus-terusan dihina oleh keluarganya.


"Sudah, sudah! Malu sama tamu kita, Monic. Jaga sedikit bicaramu!" geram Jourdy atas perkataan sang istri pada anak kakak kandungnya.


"Paman pasti merestuimu, Nak... semoga kamu bahagia selalu." Jourdy memberikan berkat dengan membelai lembut puncak kepala keponakannya. "Jangan lupakan Pamanmu ini, seringlah berkunjung ke mari. Ini jugakan rumahmu..." tambah Jourdy dengan kalimat yang menyentuh relung hati Claire.


"Terimakasih, Paman." Claire mendekap erat Jourdy. Tatapannya beralih ke arah Monic yang bersidekap angkuh, untuk meminta restu. Wanita itu cepat-cepat menjauhkan tubuhnya saat Claire berdiri dan hendak memeluknya.


"Tante akan memberimu restu, kalau kamu bersedia bersujud di kaki Tante. Lalu menciumnya!" Tunjuk Monic ke arah punggung kakinya. Mata Jourdy terbuka lebar, dia terkejut akan permintaan gila sang istri.


"Monic, apa-apaan kamu?" sentak Jourdy tidak terima.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Paman. Karena Tante Monic sudah Claire anggap seperti ibu sendiri." Claire mengusap-usap lengan sang paman, menenangkan. "Jadi Claire tidak keberatan kalau sekedar mencium kaki Tante Monic." Claire menurunkan tubuhnya lalu berdiri menggunakan kedua lututnya. Dia menghela napas sesaat, lantas menarik kepalanya ke bawah untuk bersimpuh di atas kaki tantenya.


Jourdy memalingkan muka, tidak sampai hati melihat keponakannya diperlakukan sedemikian rupa oleh sang istri. Sementara Feliks, hatinya turut tercabik melihat kekasih pujaannya merendahkan diri di hadapan wanita yang tidak pantas untuk dia sembah seperti itu.


Monic tertawa menang kemudian menarik kakinya dari kepala keponakannya. Claire meringis kesakitan karena Monic secara sengaja menendang wajah Claire dan mengenai pangkal hidungnya.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" Feliks merangkul pundak Claire dan membantu kekasihnya untuk duduk kembali di atas kursi.


"Aku tidak apa-apa," ucap Claire menutupi rasa ngilu di area hidungnya.


"Paman?" panggil Claire hati-hati.


"Iya, Nak... ada perlu apa lagi? Kamu membutuhkan uang, iya?" tanya Jourdy antusias.


Claire menggelengkan kepala dengan mata yang tidak berani menatap sang paman. "Ini mengenai Grace."


"Grace? Apa yang kamu lakukan pada sepupumu, hah?" sela Monic tanpa mendengarkan terlebih dahulu penjelasan keponakannya.


"Tutup mulutmu Monic, Claire belum selesai berbicara!" sungut Jourdy kesal. "Kenapa dengan Grace, Nak?" tanya Jourdy lembut pada keponakan satu-satunya itu.


"Grace dipenjara, Paman. Grace—"


"Itu pasti gara-gara kamu anak sialan!" Monic menjambak rambut Claire dengan kencang, Claire mengaduh kesakitan. "Apa dosa anakku, sampai kamu tega menjebloskannya ke penjara?" Tuduh Monic tanpa bukti.


"Mi... dengarkan dulu penjelasan keponakan kita." Jourdy berdiri untuk melerai dan dibantu dengan Feliks. Mereka berhasil menjauhkan Monic dari menyakiti Claire terus-menerus.


Claire terisak, hati dan fisiknya lagi-lagi tersakiti. Dia tidak habis pikir kenapa tantenya itu begitu membencinya. Padahal selama ini dia selalu bersikap baik dan lebih banyak mengalah.


"Grace kenapa bisa dipenjara, Nak?" Jourdy menunggu penjelasan akan nasib putri semata wayangnya.


"Grace... dia... berusaha menculik seorang anak laki-laki dan berupaya membunuh seorang pria menggunakan senjata api, Paman. Sekarang dia memerlukan bantuan Paman dan juga Tante Monic," jelas Claire tanpa ada satu pun yang ditutup-tutupi.


Monic menekan dadanya yang berdegup sangat kencang. Napasnya kian sesak, penyakit jantungnya mendadak kumat. Kabar mengenai Grace begitu mengguncang dirinya. Tubuhnya melangsur, tangannya menopang ke pinggiran meja.


"Tidak mungkin... ini tidak mungkin...! Anakku bukan seorang penjahat...!!!"


"Kamu pasti berbohong, Claire! Kamu pasti menjebaknya...!!"


...*****...


...Mohon maaf terlambat ya Kak 🙈...


...Terimakasih banyak untuk semua yang masih setia dengan novel ini. Sehat-sehat untuk semua......

__ADS_1


__ADS_2