Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Homecoming


__ADS_3

"Ah... aku rindu kamar ini, aku rindu ranjang ini," gumam Rona melentangkan tubuhnya di atas dipan empuk. Dia menggerakan tangan dan kaki ke atas ke bawah seperti tengah berbaring di tengah-tengah salju.


Setelah lima hari mendapatkan perawatan di Rumah Sakit, kini dia merasa lega karena putra tercintanya sudah pulih dan bisa kembali ke rumah. Rumah yang penuh kehangatan, rumah yang diliputi ketenteraman.


"Ezio di mana sayang?" Edward tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Rona. Nampak pria yang berdiri di hadapannya itu semakin tua, malah semakin menjadi. Tubuh atletisnya menambah kesan gagah disertai wajah tampan nan maskulin.


Rona menatap tanpa berkedip ke arah Edward yang terlihat segar dengan rambut basah. Hingga tetesan airnya mengalir ke atas leher lalu turun ke atas dada dan turun lagi menuju perut kotak-kotaknya. Pupil mata Rona bergerak mengikuti aliran tetesan air tersebut. Saat ini dalam bayangannya, tubuh Edward amat menggiurkan dan sayang sekali bila harus dilewatkan.


"Mommy twins... Ezio mana sayang?" ulang Edward karena tatapan sang istri tidak lepas dari memandangi tubuhnya. Edward yang mengerti kalau Rona tengah menikmati tubuh kekarnya, dia menahan tawa dan berpura-pura tidak menyadari itu semua.


Rona gelagapan, dia berbicara tidak jelas dan terbata-bata. "E-Ezio sudah tidur di kamarnya. Tadi dia ingin aku bacakan cerita, belum habis satu buku, eh... sudah terlelap."


Edward membungkuk di atas tubuh Rona. Membuat air dari rambutnya yang basah, menetes ke atas wajah sang istri. "Mommy twins mandi dulu sana! Atau mau Daddy mandikan, hm...?"


Rona mengerdipkan kelopak mata berulang kali sembari mengatur degup jantung yang mulai melonjak dan kini tidak beraturan. "A-aku akan mandi sebentar lagi. Masih ingin meluruskan punggungku yang berhari-hari terasa bengkok."


Edward tergelak lantas menarik badannya dari atas tubuh sang istri. "Ada-ada saja kamu, punggung pakai bengkok segala."


Rona tertawa terpaksa. Namun, tiba-tiba dia meringis lantaran pergerakan kuat di dalam perutnya. "Ah...."

__ADS_1


"Kenapaa sayang?" Edward khawatir melihat istrinya terlihat seperti kesakitan. Akan tetapi dia dibuat bingung karena kini istrinya itu tertawa geli. "Kamu masih waras kan, Rona?" Kening Edward mengerut memperhatikan Rona yang seperti merasa sakit. Namun, dalam waktu bersamaan juga tertawa.


"Ini anakmu ... menendang-nendang perut Mommy-nya. Ya ngilu ... ya geli juga," jawab Rona diakhiri gelak tawa.


Edward mengalihkan penglihatannya dari wajah Rona ke arah perut sang istri yang bergoyang-goyang ke sana ke mari. Edward turut tertawa membayangkan di ruang sempit itu ketiga janinnya saling menendang dan menonjok satu sama lain. Dia menurunkan tubuhnya, lalu mengelus-elus perut sang istri. Hujan kecupan dia berikan untuk anak-anaknya yang dua bulan lagi akan lahir ke dunia ini.


"Kenapa Nak, nendang-nendang perut Mommy? Rindu sama Daddy ya? Tenang... nanti Daddy akan menjenguk kalian. Karena Daddy juga rindu." Edward mengajak janin-janinnya berbicara. Akan tetapi, mata dalamnya terus menatap mata sang istri. Seakan mengungkapkan apa yang terpatri di dalam hati.


Rona memalingkan muka lantaran dia paham betul arti tatapan nakal suaminya itu. Tatapan yang selalu menjeratnya menuju puncak kenikmatan, yang tidak bisa dia tolak ataupun acuhkan.


Perut Rona telah berhenti bergerak-gerak. Namun Edward, dia tidak berhenti mengecup perut istrinya. Melihat tidak ada penolakan dari Rona, kecupannya menuruni perut bawah sang istri. Dengan satu kali tarikan, kain tipis yang menutupi bagian inti istrinya terlepas dan dilempar sejauh mungkin.


"Ah..." desah Rona sembari menarik apa pun yang terjangkau oleh tangannya. Panggulnya bergerak perlahan karena rasa geli yang timbul di area sensitifnya. "Sayang... stop it! Aku tidak tahan," protes Rona sebab Edward memainkan kepemilikannya dengan sangat lembut dan penuh perasaan.


"Aku merindukanmu sayang... merindukan anak-anak kita," kilah Edward yang menginginkan sebuah penyatuan. "Setelah melewati masa-masa yang berat, tidak ada salahnya kan kalau kita sekarang bersenang senang?" Edward menekuk lutut Rona, agar lebih leluasa memberi rangsangan pada hasrat istrinya.


Edward menenggelamkan wajahnya di lautan madu cinta. Mencecap dan menyesap, meneguk kenikmatan yang selalu menjadi candu untuknya. Lidahnya menari-nari lalu berputar-putar, mengitari bongkahan dengan aroma khas yang selalu dia senangi.


"Lanjut atau sudahi sayang?" Edward tiba-tiba menghentikan permainannya lalu menatap wajah Rona yang dipenuhi kabut gairah. Mata istrinya terpejam karena begitu menikmati foreplay yang diberikan oleh dirinya.

__ADS_1


Rona tidak menjawab, dia melengos kesal lantaran hasratnya terputus di tengah jalan. "Terserah....!!!"


Edward terkekeh lalu menarik kaki istrinya hingga menjuntai ke atas lantai. Kedua lutut Rona kembali ditekuk. Dia melahap kepemilikan istrinya dengan rakus dan liar. Rona kelojotan, bola matanya terbelalak karena desakan dalam dirinya keluar begitu saja.


Napas Rona tersengal-sengal, Edward selalu bisa membuat dirinya terbang melayang oleh sentuhan dan permainannya. Permainan yang ingin dia rasakan lagi dan lagi seakan tidak ada bosannya. Meski saat ini sang suami tidak bisa mengeskplor gaya bercinta karena kondisinya yang tengah berbadan dua.


Edward meremass dua gundukan milik Rona lantas menghisapnya kuat-kuat. Terasa olehnya rasa cairan putih yang memancar dari dalam dada ranum. Dada yang sebentar lagi akan beralih menjadi milik twins bersaudara.


Seakan tidak ingin melepasnya, Edward terus menghisap dan melahap bongkahan padat kesukaannya diselingi gigitan-gigitan kecil yang memberikan sengatan gairah. Rona menggelinjang, kepalanya tertarik ke belakang. Dia begitu menyukai cara Edward memperdaya tubuhnya.


"Siap-siap ya sayang... aku akan menyatukan milikku dengan milikmu. Kita raih kenikmatan dunia bersama-sama," bisik Edward lantas memagut bibir istrinya.


Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, mengarahkan kejantanannya pada bagian tubuh inti sang istri. Bila biasanya dia bermain dengan ganas dan panas, kali ini dia lebih lembut dan terarah. Mengingat usia kehamilan Rona yang sudah menginjak trimester ketiga.


Perlahan tapi pasti, benda kebanggaannya telah melesak dan siap menjelajahi tubuh dalam istrinya. Menghentak-hentak dengan gerakan erotis maju-mundur, sesekali berputar-putar dengan ritme lambat dan tempo cepat.


Suara seksi terdengar bagai pemacu adrenalin untuk memompa tubuh istrinya, kian cepat dan dengan tenaga yang kuat. Tanpa menunggu lama, Rona sudah kalah satu ronde. Tubuhnya menegang dengan kepemilikannya yang semakin basah.


...*****...

__ADS_1


...Mohon maaf part ini authornya error 🙏🙏✌...


__ADS_2