
Mansion Emerald
"Ampun Daddy... sakit..." rengek seorang anak laki-laki yang tengah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari sang ayah. "Sakit Daddy... ampuni Ezio Daddy..."
Suara tangis yang amat menyayat tidak mampu mencairkan kebekuan hati seorang Roy. Pria yang usianya beranjak dua puluh tujuh tahun itu terus saja memukul panggul Ezio menggunakan telapak tangan. "Tidak ada ampun, rasakan ini biar kamu jera!"
Jessy datang lantas menarik kasar lengan kekasihnya. "Apa-apaan kamu Roy? Kita mendapatkan anak ini dengan bersusah payah, tapi malah kamu pukuli. Gila kamu!"
Roy berdesis, "Aku Daddy-nya ... aku berhak atas anakku. Mau aku pukuli, mau aku jewer, aku kurung ... itu urusanku!"
Jessy menahan tangan Roy yang hendak kembali melancarkan pukulan. "Ezio masih terlalu kecil untuk kamu perlakukan kasar. Kalau kamu tidak bisa merawatnya, kembalikan saja pada Edward dan Rona. Dari pada disiksa seperti ini! Meski pun mereka bukan orang tua kandung Ezio, tapi keduanya begitu menyayangi anakmu!"
Roy mendengus kasar lantas menonjok tembok. Dia berlalu pergi untuk meredakan emosinya. Jessy mengangkat tubuh Ezio dan mendaratkan di atas pangkuan. Namun, dia terkejut karena Ezio langsung turun begitu saja. "Kenapa sayang? Tidak mau Aunty gendong?"
Ezio menggelengkan kepala. "Bukan begitu Aunty, pantat Ezio pedih sekali. Tadi Daddy Roy memukuli Ezio terus-menerus. Jadi sakit deh dipakai duduk."
"Astaga... Roy benar-benar ya!!" geram Jessy. "Sebentar ya, Aunty carikan dulu gel untuk mengurangi rasa sakit. Ezio tunggu di sini jangan ke mana-mana, Aunty tidak akan lama kok." Jessy meyakinkan Ezio agar anak itu tidak pergi dari tempatnya.
Setelah sepuluh menit, Jessy kembali dan dia langsung terperangah. Karena Ezio tidak ada di tempatnya berdiri. Kepala Jessy berputar-putar seraya berteriak memanggil nama anak laki-laki itu. "Ezio... sayang. Ini Aunty. Di mana kamu?"
"Ezio...!"
Ezio keluar dari dalam kolong meja. "Ezio di sini Aunty. Tadi Ezio takut kalau Daddy Roy memukul Ezio lagi. Jadinya Ezio sembunyi saja."
Jessy mendesah, "Ya sudah sini Aunty obati yang sakitnya. Maaf ya Aunty buka sedikit celana Ezio."
Jessy terbelalak kaget melihat tubuh belakang Ezio nampak sangat merah dengan cap telapak tangan membekas di atasnya. "Ya Tuhan... Roy sangat keterlaluan!"
Ezio meringis saat jemari lembut Jessy menyentuh bagian tubuhnya, mengoleskan gel untuk meredakan rasa sakit. Gadis bersurai gelombang menatap iba pada anak kecil di depannya.
"Sakit ya sayang?" tanya Jessy. Sehati-hati mungkin Jessy mengoleskan obat di tangan, tidak ingin Ezio kembali merasakan sakit.
__ADS_1
"Sedikit Aunty... tapi sekarang perihnya sudah berkurang," jawab Ezio. "Terima kasih Aunty... Aunty Jessy sangat baik pada Ezio. Aunty...?" lirih Ezio memanggil nama wanita muda yang tengah mengobatinya. Dia memiringkan badan menoleh ke arah Jessy.
"Iya sayang... kenapa?" sahut Jessy.
Ezio ragu-ragu mengutarakan isi di hati. Jessy membalikkan badan Ezio, lalu menaruh kedua tangan di atas bahu. Gadis itu bisa dengan sangat jelas melihat guratan kesedihan di wajah Ezio. Anak laki-laki yang dia harapkan menjadi putra sambungnya. Namun, melihat kondisi Ezio yang tertekan, membuat dia tega dan berniat untuk mengembalikan Ezio pada Rona dan Edward.
"Ayo katakan pada Aunty.. Ezio mau bicara apa?"
Ezio cingak-cinguk karena takut kalau Roy tiba-tiba datang. Dia mendekat dan membisikkan sesuatu pada Jessy. "Ezio ingin pulang Aunty... Ezio rindu pada Mommy juga Daddy."
Jessy menghela napas dan memainkan rambut Ezio. "Sabar ya sayang... Aunty pasti akan mengembalikan Ezio pada Mommy dan Daddy."
Ezio tertunduk lemas. "Tapi kapan Aunty... Ezio sudah tidak betah di sini. Daddy Roy semakin hari semakin galak sama Ezio. Ezio takut Aunty kalau Daddy akan memukuli Ezio lagi."
"Kalau opa Theo, baik tidak?" tanya Jessy.
Ezio mengangguk. "Opa Theo baik kok Aunty. Tapi kan opa Theo jarang ada di rumah, tidak seperti Daddy Roy yang setiap hari kerjaannya tidur... terus."
"Janji apa Aunty?" sahut Ezio.
"Janji kalau Ezio tidak akan bicara macam-macam sama Daddy Roy. Bagaimana, janji?" tanya Jessy mengacungkan jari kelingking.
Ezio tersenyum senang dan turut mengacungkan jari kelingking. "Janji Aunty. Ezio akan tutup mulut."
Jessy mengusap-usap kepala Ezio. "Good Boy!"
Obrolan antara Jessy dan Ezio terputus lantaran kedatangan Roy dari arah mini bar. Bola mata memerah, dia berjalan sempoyongan. Sudah dipastikan kalau pemuda itu tengah mabuk berat. Jessy murka karena calon suaminya masih saja belum berubah dari kebiasaan buruk.
"Kamu mabuk lagi Roy?" geram Jessy.
Roy terbahak. "Oh... My Darling Jessy... semakin hari kamu semakin seksi saja. Tapi kenapa kamu jadi ada dua?"
__ADS_1
Roy kembali tertawa dan meracau, "Sepertinya aku sudah gila, Jessy! Calon suamimu ini sudah gila!"
Roy tiba-tiba terjungkal lalu tertidur di atas lantai. Jessy mengusap-usap dada merasa lega. Terdengar suara dengkuran dari mulut laki-laki yang tengah mabuk minuman keras. Jessy memanggil body guard Roy dan menyuruhnya untuk membawa Roy ke dalam kamar.
"Aunty pulang dulu ya sayang," ucap Jessy pada Ezio. Anak laki-laki itu merengut sembari melihat ke arah kamar. "Ezio tidak perlu takut karena Daddy Roy akan tidur sangat... lama."
"Iya Aunty..." jawab Ezio lesu.
"Oh iya, nanny Manda mana?" tanya Jessy karena dia tidak melihat pengasuh Ezio sedari tadi.
"Nanny Manda ada kok Aunty. Tadi disuruh diam di kamar sama Daddy, waktu Ezio mau dipukuli," ungkap Ezio.
"Aunty antar Ezio ke nanny Manda ya, biar ada yang mengurus Ezio." Jessy menuntun Ezio dan membawanya ke kamar khusus pembantu.
...***...
"Uh... anak Daddy tampan sekali," kata Edward pada Austin. Dia menggendong anak lelakinya itu sembari mengajak bicara. "Anak tampan yang mirip Daddy, mau punya adik lagi tidak? Biar di rumah ramai banyak temannya," celoteh Edward yang dibalas dengan cubitan.
"Lihat sayang... Mommy sudah tidak tahan untuk memberimu adik. Belum apa-apa sudah main cubit-cubitan," tukas Edward pada Rona. Sedang asyik menggoda istrinya, mendadak Edward terbungkam karena dia merasakan hangat di bagian perut.
"Kenapa Daddy-nya Austin?" tanya Rona heran. Sebab suaminya itu tiba-tiba terdiam tidak seperti sebelumnya yang terus nyerocos.
Edward meraba-raba pantat putranya, dia mendengus karena pakaian Austin basah kuyup. "Anakmu pipis. Bajuku basah."
Rona terkikik. "Giliran dikencingi bilangnya anakmu. Kalau diam, manggilnya anak Daddy. Dasar laki-laki, selalu saja egois!"
Edward terkekeh, "Kalau tidak egois bukan Edward Liam namanya.
Rona membeliak, malas mendengarkan perkataan Edward. Dia lebih memilih untuk memejamkan mata dan membiarkan Edward kebingungan lantaran kemejanya basah terkena air urine Austin.
...*****...
__ADS_1
...Terima kasih yang masih berkenan membaca novel dokter Rona 🙏...