Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Bertemu Ezio


__ADS_3

...Dulu bagai sahabat, bahkan bak saudara. Kau begitu baik. Namun, akhirnya kau begitu picik. Sadar aku, kau pun harusnya sadar. Tidak semua hal bisa kau ambil dariku. Kebebasanku, bahagiaku. Tidak mungkin kamu miliki. Tapi tidak ada kata benci, meski hati ini kau iris. Meski diri ini kau buang. Kau tetap sahabat, dan kebaikanmu akan selalu terkenang....


...*****...


Lima belas menit berlalu begitu saja. Namun, tidak ada yang membuka suara. Nath yang tidak berkutik di depan Rona. Sedangkan Rona yang diliputi dilema dan kebimbangan.


"Kenapa Nath? Kita ini sahabat, tapi semua berakhir menyedihkan seperti ini...."


Nath mendengus kasar. "Kenapa katamu?! Ini semua aku lakukan demi kamu, Rona!" Nath menegakkan tubuhnya lalu melipat kedua tangan di atas meja. Rona menggenggamnya.


"Apa kamu tidak bahagia, kalau aku bahagia?" Rona memelankan suaranya. Dia merundukkan kepala mencari netra mata yang bergulir ke kiri dan ke kanan.


"Aku bahagia bila kamu bahagia Rona. Akan tetapi ada sesuatu yang tidak perlu aku jelaskan karena harusnya kamu sudah bisa memahaminya!" Nath berdiri dan meninggalkan Rona dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa mendapat jawaban.


Rona beranjak dari tempat yang asing dengan bermuram hati. Karena hingga saat ini dia belum bisa mencerna tentang apa yang tengah terjadi. Semua seolah mimpi yang melesat begitu cepat. Persahabatan yang dia idam-idamkan dan selalu dia puja, ternyata menyimpan duka dan menorehkan luka pada akhirnya.


"Kamu kenapa Rona?" tanya Feliks yang sedari tadi memperhatikan istri bosnya menangis.


"Tidak kenapa-kenapa," jawab Rona singkat. Feliks yang tidak tahan melihat wanita menumpahkan air mata, dia memiliki ide. Dia menepikan kendaraannya dan tanpa berkata apa pun berlari meninggalkan Rona sendiri di dalam mobil.


Tidak berselang lama,


Feliks mengetuk kaca jendela meminta Rona untuk keluar dari mobil. Rona berkata tanpa suara, menggerakkan kedua rahangnya seraya membuka pintu mobil lalu menghampiri Feliks.


"Ada apa?" tanya Rona bingung.


"Surprise...!" Feliks mengeluarkan dua botol gelembung sabun dari balik punggungnya.


Rona menyeringai. "Apa sih, tidak ada kerjaan!" Rona memutar badannya hendak masuk kembali ke dalam mobil. Namun, Feliks menahan lengannya.


Feliks menggerakan kepalanya ke belakang. "Ikut aku, lima menit saja. Aku janji!" Rona menghela napas lalu mengikuti Feliks dari belakang.

__ADS_1


"Duduk sini...!" Feliks menepuk-nepuk bagian bangku yang kosong. Rona mendaratkan tubuhnya, duduk di samping Feliks. Feliks memberikan sebotol gelembung sabun, Rona meraihnya.


"Thanks," ucap Rona singkat. Feliks mengangguk dengan mata yang tak lepas dari memandang kecantikan natural wajah Rona.


Rona meniup gelembung sabun, lalu mulai tertawa ceria. Matanya berbinar dengan tangan yang menengadah. Senyuman tersungging tiada henti dan Feliks begitu menikmatinya. Sementara di seberang jalan, Edward menatap penuh cemburu. Dia memukul stir, menjadikan benda berbentuk lingkaran itu pelampiasan.


Edward menarik napas, mengatur emosi. Dia menarik buket bunga dari atas dashboard. Lalu keluar dari mobil untuk menghampiri istrinya.


"Edward... kenapa ada di sini?" tanya Rona sumringah.


Edward tidak langsung menjawab, dia duduk merungguh lalu menyodorkan apa yang digenggaman. "Untukmu sayang...."


"Ah... so sweet." Rona menghirup aroma bunga lalu mengecup pipi suaminya. Feliks memalingkan wajah. "Terima kasih sayang..." tambah Rona.


Edward berdiri dan menatap jengah ke arah Feliks. Lalu mengajak Rona untuk pulang bersamanya.


"Feliks, istriku pulang bersamaku, kamu ke kantor utama ya. Tolong handle tamu-tamuku," cerca Edward sinis. Dia merangkul pundak Rona sengaja memamerkan kemesraan.


"Thankyou, Feliks..." ucap Rona sambil berjalan lalu melambaikan tangan.


"Cinta itu memang aneh, Feliks. Kita mencintai seseorang, tetapi orang itu mencintai orang lain. Terkadang aku berpikir ... apa aku seburuk itu, hingga tidak ada satu mata pun yang tertarik menoleh ke arahku?!"


Feliks memutar kepala, memperhatikan wajah gadis di samping. Dia tidak kalah cantik sebetulnya. Namun, terlalu menarik diri dari orang-orang di sekitarnya.


Claire yang merasa tengah diperhatikan, dia turut memutar kepala. Dua pasang mata kembali bertemu lalu bersitatap dalam waktu yang cukup lama. Feliks mendekatkan wajah lalu memiringkan kepala membuat bibirnya berada tepat di depan bibir Claire. Dia hendak mengecup bibir dengan balutan lipstik merah muda. Namun, telapak kaki seseorang menginjak kakinya dengan kencang.


"Claire... tidak bisakah bersikap lembut?" Feliks meringis karena Claire menginjak kakinya menggunakan sepatu hak tinggi.


"Suruh siapa itu bibir monyong-monyong kaya ikan?!" protes Claire seraya mengerucutkan bibirnya. Feliks yang sedang menahan rasa sakit, akhirnya tertawa.


"Kamu lucu, Claire...!" Feliks menarik hidung Claire lalu mencubit kedua pipinya.

__ADS_1


"Tidak usah pegang-pegang!" sentak Claire yang menutupi rasa malu.


...***...


Dua minggu selepas pesta pernikahan, Edward dan Rona baru sempat menginjakkan kaki kembali di depan rumah yang kini nampak lebih asri dan ceria. Taman yang dulu ditumbuhi rerumputan, kini tergantikan bunga-bunga. Cat rumah yang lusuh sudah diberi warna biru muda yang cerah.


"Ezio... Daddy rindu kamu, Nak...!" Edward berlari ke arah putranya dan Ezio memeluknya.


"Kenapa Daddy lama sekali, Ezio juga kan ingin bertemu Daddy sama Mommy!" rengek Ezio di dalam dekapan Edward.


Maria berjalan menghampiri dengan kedua tangan direntangkan. "Bagaimana urusan kalian?" Maria memeluk Rona seraya mengecup pipi kiri dan kanan lalu memeluk mantan menantunya.


"Sedang diselesaikan satu persatu Ma," jawab Edward dengan suara berat. Maria menatap iba karena baru saja menikah, keduanya sudah dihadapkan dengan masalah-masalah.


"Daddy... aku mau mainan baru," Ezio mengeratkan pelukannya menggoda Edward.


"Iya... Daddy kan, sudah pernah janji sama Ezio mau membelikan mainan." Edward meminta izin pada Maria untuk mengajak putranya menghabiskan waktu bersama.


"Iya, pergi sana! Tapi jangan lupa antar lagi pulang cucu kesayangan Oma...."


"Siap, Oma Maria. Cucu Oma akan pulang dengan selamat!" seloroh Edward yang membuat semua tertawa.


Maria menghela napas memandang punggung Edward dan Rona, lalu menutup pintu dengan rapat. "Aku sudah kehilangan putriku, tidak ingin kehilangan cucuku."


...***...


Seperti keluarga kecil pada umumnya, ketiganya memanfaatkan momen langka untuk menghabiskan waktu bersama. Ezio di pangkuan Edward, sedangkan Rona melingkarkan tangan seraya gelayutan di lengan Edward.


"Daddy... itu toko mainannya..." teriak Ezio seraya menggerakan tubuhnya meminta turun. Dia berlari cepat menuju toko mainan lalu masuk ke dalamnya.


"Daddy, Ezio mau yang itu!" tunjuk Ezio pada mainan kereta-keretaan. "Aku juga mau yang itu..." tunjuk Ezio pada mainan pesawat udara. Edward membelikan semua yang Ezio minta, memanjakannya. Ezio nampak riang, dan Edward gembira.

__ADS_1


...*****...


...Terimakasih untuk dukungan teman-teman semua. Mohon maaf bila banyak typo dan komentar-komentar tidak langung dijawab. Semalam habis begadang jadi kondisi mata sudah tidak bisa diajak kerja sama....


__ADS_2