
Malam semakin larut. Terdengar suara rintik-rintik hujan bagai sebuah simfoni yang menentramkan hati. Udara sejuk menyapa di tengah kemelut, di antara kebimbangan orang-orang yang berpacu dengan suratan takdir mereka.
Jiwa-jiwa lemah, terkulai pasrah. Menanti keajaiban datang, untuk orang yang mereka kasihi. Melewati benang tipis antara hidup dan juga maut.
Mata dalam seorang pria berkali-kali melihat ke arah pintu yang tertutup. Dia terus terjaga menunggu kabar baik mengenai kondisi sang istri tercinta.
"Tuan Roland?" panggil seorang perawat yang keluar dari ruang bersalin. Karena tidak sahutan, perawat tersebut memanggil Roland untuk kedua kali. "Tuan Roland?" ulangnya dengan nada suara yang lebih tinggi.
Roland terhenyak, dia tersadar dari lamunannya. "I-iya ada apa, Sus? Istri saya bagaimana, dia baik-baik saja, kan?"
"Kondisi istri anda sangat lemah, begitu pun juga dengan janinnya. Jadi kami meminta persetujuan untuk tindakan operasi sesar," ucap perawat tersebut menyodorkan selembar kertas berwarna biru muda. Tanpa berpikir panjang Roland langsung menarik surat tersebut lantas menandatanganinya.
"Ini Sus, ambilah. Tolong selamatkan istri saya dan bayinya. Saya mohon...," Roland menyerahkan kembali surat persetujuan itu pada perawat.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan. Tolong bantu kami dengan doa," sahut perawat tersebut lalu masuk kembali ke dalam ruangan.
"A-ada apa, Roland?" Richard yang tertidur karena kelelahan, tiba-tiba terbangun lantaran mendengar suara daun pintu ditutup.
"Leona harus dioprasi, Pa... dia akan melahirkan dengan kondisi bayi prematur," lirih Roland menahan tangis.
Richard mengusap wajahnya kasar lalu menghempaskan kembali tubuhnya ke atas kursi. "Ya Tuhan... ujian apalagi ini?"
Wajah Richard mendongak, pandangannya menatap langit-langit koridor Rumah Sakit. Tidak tahu apa yang pria itu pikirkan. Namun, nampak jelas guratan kebimbangan dan kesedihan di parasnya yang mulai dipenuhi kerutan.
"Pa...?" panggil Roland.
Richard mengangkat kepalanya lalu duduk dengan tegak. "Ada apa, Nak?"
"Papa sama Mama lebih baik pulang saja, istirahat. Biar Roland yang menunggu Leona di sini. Kasihan Mama, terlihat sangat kelelahan dan tertekan." Roland menoleh ke arah Maria yang tengah tertidur. Richard turut memutar kepalanya ke arah sang istri. Dia menghela napas dan merundukkan kepala.
"Baiklah ... Papa dan Mama pulang. Papa juga tidak tega melihat Maria dengan kondisi seperti ini." Richard mengusap-usap wajah Maria, membangunkan sang istri dari mimpi-mimpinya. "Tolong telepon Feliks, sepertinya anak itu menunggu di tempat parkir," pinta Richard pada menantunya.
Roland mengangguk lalu menghubungi Feliks yang sedang tidur di dalam mobil. Sedangkan Richard masih berusaha untuk membangunkan sang istri yang belum terjaga juga. "Maria, bangun sayang. Ayo kita pulang."
"Em... apa? Pu-pulang, ta-tapi...."
__ADS_1
"Iya Mama sama Papa pulang dulu saja ... biar Leona, Roland yang menunggunya," potong Roland akan keraguan Maria.
Maria melirik ke arah Richard, pria paruh baya itu menganggukkan kepala. "Baiklah kalau begitu, Mama sama Papa pulang dulu. Besok pagi kami kembali ke Rumah Sakit."
Richard berdiri lalu menuntun Maria untuk berjalan menuju tempat parkir. Karena istrinya itu masih dalam kondisi setengah tersadar.
"Roland antar ke parkiran ya Pa?" tawar Roland pada mertuanya.
"Tidak perlu ... kamu di sini saja, barangkali nanti ada kabar mengenai Leona," tolak Richard sembari berjalan. "Papa titip Leona... Papa titip putri Papa," ujar Richard mempercayakan belahan hatinya pada Roland.
Maria mengusap-usap bahu Roland dan turut berbicara. "Kuat ya Nak, demi istrimu. Kalau ada apa-apa menyangkut Leona, kabari kami secepatnya."
Roland hanya menarik kepalanya ke bawah, dia tidak menjawab apa pun lagi. Matanya sibuk memperhatikan punggung kedua mertuanya yang tengah berjalan menuju tempat parkir untuk kembali ke mansion.
Selepas kepulangan Richard dan Maria, Roland berdiri mondar-mandir di depan pintu. Menunggu dengan gundah gulana akan nasib istrinya. "Tuhan... tolong selamatkan istri dan bayiku...."
Satu jam berlalu, seorang perawat keluar dan membawa bayi kecil nan cantik di atas ranjang bayi. Mata Roland berbinar, dia ingin sekali menyentuh malaikat kecil itu. Namun, perawat tersebut menahannya.
"Maaf Tuan, bayi anda belum bisa disentuh oleh siapa pun. Kami harus membawanya ke ruang inkubasi segera. Sebab kondisinya tidak sekuat bayi-bayi lain, yang lahir tepat pada waktunya," jelas perawat tersebut.
"Pasti, Tuan. Itu sudah kewajiban saya," sahut si perawat. "Kalau begitu saya permisi... saya harus bersegera untuk memasukkannya ke dalam inkubator." Perawat itu mendorong ranjang bayi dan membawanya ke tempat yang tidak jauh dari ruang bersalin.
Lima menit kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan seraya melepas masker dan sarung tangannya.
"Bagaimana istri saya, Dok?" Roland tidak sabar mendengar kondisi Leona.
"Pasien baik-baik saja. Semua kondisinya normal, hanya perlu menunggu hingga efek obat biusnya habis. Setelah itu dia akan siuman," jawab sang dokter.
"Ya Tuhan... syukurlah... Terimakasih Dok, terimakasih! Terimakasih karena sudah menyelamatkan istri dan juga bayi saya!!" pekik Roland bahagia. "Apa saya boleh melihat istri saya sekarang?" pinta Roland penuh harap.
Dokter tersebut tersenyum manis. "Sabar Tuan ... nanti anda bisa menemui istri anda, kalau sudah dipindahkan ke ruang pemulihan."
"Ah... baiklah Dokter, saya paham." Roland mengusap kasar wajahnya lantas menarik tangan dokter di depannya. "Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, saya berutang budi pada anda," ucap Roland haru.
Sang dokter terkekeh dan melepas genggaman tangan Roland. Lantas menepuk-nepuk pundak pria, yang kini telah menjadi seorang ayah. "Itu sudah menjadi tugas kami sebagai dokter. Selebihnya, kuasa Tuhanlah yang berbicara."
__ADS_1
"Saya permisi, masih ada yang harus saya tangani," ujar pria yang mengenakan scrub suits.
"Silakan Dok," sahut Roland dengan tangan direntangkan untuk mempersilakan.
...***...
Sementara itu di Rumah Sakit yang berbeda. Namun, dalam keadaan yang sama. Keadaan di mana sama-sama diliputi kebimbangan, ketakutan dan pengharapan di tengah-tengah keputusasaan. Berharap malaikat maut menjauh pergi. Jangan datang lagi untuk mendekati sang buah hati.
"Ini makanlah," tawar Claire pada sahabatnya yang tengah meratap di depan jendela. Gadis itu menyusul Rona dan membawakannya makanan juga minuman.
Rona mendorong makanan yang disodorkan kepadanya. "Aku tidak lapar Claire... simpan saja dulu di atas kursi."
"Kamu harus makan, bayi di dalam perutmu itu membutuhkan asupan makanan. Kamu jangan menjadi ibu yang egois, Rona!" sentak Claire agar sahabatnya mau mendengarkan nasehatnya.
Rona mendesah kasar dan dengan terpaksa meraih makanan yang dibelikan oleh Claire lalu duduk di samping Edward.
"Mau aku suapi?" tawar Edward membantu membukakan seal kotak makanan. Rona menggelengkan kepala menolak tawaran suaminya. Akan tetapi, Edward bersikukuh. Dia menyuapi Rona menggunakan tangannya.
Mata Rona berkaca-kaca, baru kali ini Edward menyuapinya langsung tanpa menggunakan sendok. "Terimakasih sayang...."
"Sama-sama sayang..." sahut Edward tersenyum cerah.
Meski Edward sendiri tengah dirundung keresahan dan sakit hati yang mendalam. Namun, dia masih bisa bersikap hangat dan mempedulikan kondisi istrinya. Karena dia sadar, ada tiga jiwa miliknya yang kini bersemayam di dalam rahim sang istri.
"Makan yang banyak, biar kamu sehat ... anak-anak kita juga sehat." Edward kembali menyuapi Rona hingga makanan di atas kursi habis tak tersisa.
Claire yang melihat keromantisan Edward pada Rona hanya bisa menatap penuh damba. Angannya pun turut melayang, membayangkan bila suatu saat dia menikah lalu mengandung hasil cintanya dengan sang kekasih, Feliks.
"Melihat kalian seperti ini ... aku j**adi ingin cepat-cepat menikah," gumam Claire tersenyum kecut.
...*****...
...Mohon maaf terlambat, Ilham kabur lagi 🤣🙈🙏...
...Terimakasih untuk semuanya, yang masih setia membaca dan mendukung novel ini. Terimakasih banyak 😘...
__ADS_1