
...Kemilau senja luruh di penghujung hari. Menerpa sebuah mimpi yang tanpa arti. Butir-butir cahaya kian redup, yang tertinggal hanya kunang-kunang yang berdesir lirih di dalam gelap. Bayangan semu semakin semu, hingga tak mampu untuk diraih....
...*****...
Anak kecil yang merindukan kedua orang tuanya, menyelinap masuk ke dalam kamar yang masih terlihat gelap karena tirai masih menutupi bias sinar mentari. Dia mencari keberadaan sosok bertubuh tegap dengan wajah maskulin ke setiap penjuru ruangan. Sayangnya dia hanya mendapati seorang bidadari tengah tertidur dengan sangat damai.
"Daddy kemana? Ezio rindu Daddy."
Anak kecil tersebut lantas naik ke atas ranjang. Merangkak seperti seorang bayi, kemudian duduk santai di samping tubuh ibunya. Tangannya yang kecil dengan jari-jari yang mungil, membelai lembut wajah cantik tanpa sapuan make up.
Pemilik wajah itu mengerjap, merasakan sentuhan halus di atas parasnya. Dia membuka kedua mata, nampak pangeran kecil tengah memandangnya dengan raut merasa bersalah.
"Maafkan Ezio ya Mommy, Ezio sudah membuat Mommy terbangun." Ezio menarik kepalanya ke bawah dengan tangan yang menggenggam jemari Rona.
Rona bangun dari tidurnya kemudian menghujani wajah Ezio dengan kecupan. Ezio menjauhkan dirinya lantas menggerutu.
"Ih... Mommy bau... Mommy belum gosok gigi. Mommy tidak boleh cium-cium Ezio!" ujar Ezio sembari menggerakkan jari telunjuk ke kiri dan ke kanan.
Rona tergelak kemudian menarik gemas kedua pipi milik putranya. "Duh... anak Mommy makin pintar saja. Sini-sini Mommy kiss lagi pipi bakpau Ezio."
Ezio menarik mundur badannya sembari menutupi hidungnya. "Ah... no, no, no, no! Mommy itu kuman!"
Rona menggelitik dada Ezio. Ezio terguling ke atas kasur kemudian terpingkal-pingkal karena rasa geli dari kelitikan jari Rona.
"Ampun Mommy... ampun." Ezio tertawa. "Sudah Mommy, Ezio geli," rengek Ezio pada ibunya.
Rona menarik tangannya dari atas dada putranya, kemudian mengangkat tubuh mungil Ezio ke atas pangkuannya.
"Mommy rindu... sekali sama Ezio." Satu kecupan meluncur ke puncak kepala. "Maafkan Mommy ya sayang, Mommy jadi jarang bermain dengan Ezio."
Ezio memutar badan kemudian menelungkup wajah ibunya. "Tidak apa-apa Mommy... kan Mommy sedang tidak sehat. Lagi pula, Ezio bahagia... sekali. Karena Ezio akan memiliki adik."
Senyum yang semula mengembang seketika menguncup. Gurat kesedihan atau lebih pada kekecewaan menutupi wajah tampan si pangeran kecil.
"Kenapa muka Ezio tiba-tiba ditekuk?" Rona menarik lembut dagu sang anak lantas menatapnya lekat-lekat.
"Tidak kenapa-kenapa Mommy," kilah Ezio yang menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
"Ya... Mommy sedih karena Ezio tidak mau jujur sama Mommy." Rona menyilangkan kedua tangannya di atas dada dengan bibir yang dilipat.
Ezio langsung merangkul tubuh ibunya. "Jangan sedih Mommy, Ezio kan jadi ikut sedih."
"Kalau Ezio tidak mau Mommy sedih, ayo dong ceritakan sama Mommy, kenapa Ezio mendadak murung?"
Anak kecil yang belum mengerti akan setiap hal, mendengus pelan sembari menarik bahunya ke atas lalu ke bawah. "Ezio kecewa Mommy ... daddy bohong sama Ezio. Daddy janji mau mengajak Ezio ke kebun binatang. Tapi daddy selalu sibuk, tidak ada waktu buat Ezio!"
Rona mengerti akan kesedihan putra sulungnya. Dia memeluk erat anak sambungnya itu memberikan kasih sayang yang dibutuhkannya.
Rona merangkum wajah mungil dengan bola mata bulat jernih. "Dengarkan Mommy, sayang... daddy sayang sekali sama Ezio. Tapi ada pekerjaan yang harus daddy selesaikan. Percaya sama Mommy, daddy tidak akan lupa dengan janjinya."
Ezio mengangguk pelan. "Iya Mommy."
"Mana senyumnya?" goda Rona. Ezio menarik tipis bibirnya dengan terpaksa, Rona tertawa kecil. "Em... Ezio mau tidak jalan-jalan sama Mommy? Nanti kita ke toko buku. Ezio boleh membeli buku sebanyak... mungkin," bujuk Rona.
Mata bulat langsung berbinar. Wajahnya nampak riang dan begitu antusias. "Mau-mau... Ezio mau ke toko buku Mommy. Ezio suka buku."
"Ya sudah, Ezio tunggu di bawah ya. Mommy mau mandi dulu." Rona menuntun anak lelakinya keluar kamar. Suster Ola yang menunggu di bawah tangga dengan sigap berjalan menaiki anak tangga lantas menggendong Ezio.
"Terimakasih Ola." Rona tersenyum hangat. "Pagi ini aku mau mengajak Ezio jalan-jalan, kamu ikut juga ya. Ganti pakaianmu, siapa tahu nanti bertemu duda tampan," goda Rona.
Rona terkekeh, "Aku hanya bercanda, Ola. Baiklah... aku mau mandi dulu. Sekitar 20 menitan lagi aku akan turun."
Ola mengangguk dengan kepala yang masih menunduk. "Baik Nona, kalau begitu saya pamit untuk memandikan Ezio."
Rona mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar, setelah suster Ola membawa Ezio ke dalam biliknya.
...***...
"Ezio mau buku dinosaurus, Mommy!" Ezio menunjuk sebuah buku tebal dengan judul "Ensiklopedia Dinousaurus".
Rona berdiri dengan berjinjit meraih buku yang diinginkan putranya. "Ini sayang bukunya. Ezio mau buku yang mana lagi?" Penglihatan Rona mengitari rak-rak buku yang dipenuhi berbagai sumber bacaan sebagai jendela dunia.
Em... Ezio mau buku tentang binatang-binatang." Mata bulat Ezio mencari apa yang dia butuhkan. Dan menemukan apa yang diinginkan. "Buku itu Mommy, Ezio mau buku itu." Telunjuk mungil Ezio mengarah pada buku yang tidak kalah tebalnya dengan buku yang pertama.
"Ini sayang... lalu buku mana lagi?" tanya Rona dengan penuh kesabaran. Meski sebetulnya badannya mulai terasa melemah.
__ADS_1
Ezio yang seolah paham dengan kondisi ibunya, dia menarik lengan Rona dan mengajaknya untuk duduk di atas bangku yang kosong. "Mommy duduk saja, biar Ezio dibantu Suster Ola mencari buku."
"Tapi..." sergah Rona.
"Tidak ada tapi-tapi Mommy. Mommy harus nurut sama Ezio, tidak boleh nakal!" Ezio menasehati ibunya dengan jari telunjuk diacung-acungkan.
Rona hanya tergelak karena tingkahlaku putranya. "Ezio kok lucu sekali sih Nak. Mommy kan jadinya semakin gemas dan gemas...."
Ezio merengut karena Rona terus saja mencubit pipinya hingga memerah. "Sudah Mommy, pipi Ezio sakit. Ezio memang lucu, seperti daddy Edward."
Rona menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak. "Iya sayang iya, Ezio memang mirip sekali dengan daddy. Ya sudah, Mommy tunggu di sini. Mommy berikan Ezio waktu 20 menit."
"Siap Mommy!" jawab Ezio dengan tubuh tegak dan tangan memberi hormat.
Dua puluh menit berlalu, Ezio kembali bersama pengasuhnya dengan dua kantong besar berisi buku-buku.
"Ezio sudah selesai Mommy. Ezio lapar," ungkap Ezio dengan tangan mengusap-usap perutnya.
"Kasihan anak Mommy kelaparan." Rona menjimpit kedua pipi Ezio. "Kalau begitu, lets go kita cari restoran makanan kesukaan Ezio." Rona bangkit dari tempat duduknya kemudian menuntun putranya dengan Ola yang mengekor di belakang.
Mereka berjalan santai sembari mencari tempat untuk mengisi perut yang kosong. Seseorang berjalan tergesa-gesa lantas menubruk bahu Rona dengan keras.
"Ma-maaf Nyonya, saya tidak sengaja. Sa-saya terburu-buru. Jadi tidak melihat ada orang," bela seorang wanita dengan tubuh yang membungkuk.
"Tidak apa-apa. Mungkin untuk lain kali, tolong lebih berhati-hati," tegur Rona dingin. Seseorang tersebut membungkukkan badannya kembali dan berlalu pergi dari hadapan Rona.
Mata tajam Rona menangkap sebuah yang tersemat di atas blazer. Nama yang masih tertanam dengan jelas di memorinya. "*Louisa Natali*e."
Selepas kepergian wanita itu, Rona mengendus aroma parfum yang sama persis dengan wangi parfum yang menempel di atas jas suaminya. Matanya menyalang, tubuhnya berputar.
"Ola, aku titip Ezio sebentar. Kamu duduk di bangku itu. Dan jangan pergi kemana-mana," pinta Rona yang langsung melesat mengikuti kemana arah langkah wanita yang dia curigai.
Wanita yang mengenakan setelan blazer warna hitam dengan blouse berwarna merah, nampak memasuki sebuah restoran mewah. Rona mengendap-endap mengikuti perempuan tersebut.
Rona akhirnya harus mendapati kenyataan yang sangat menyakitkan. Karena wanita asing yang dia buntuti, tengah berpelukan dengan pria yang sangat dia kenali dan juga dia cintai. Harga dirinya jatuh, kepercayaan dirinya runtuh seketika.
"Kamu berkhianat dariku, Edward?!"
__ADS_1
...*****...
...Benarkah Edward berselingkuh?🥺...