Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Antara Dua Cinta


__ADS_3

Senja yang terukir di langit jingga, mengukir senyuman membentang mega. Memberi kesan damai bagi para pecinta. Menikmati ujung hari yang indah, menyambut malam yang berkelip bintang. Mengubur hati yang gundah, memupuk diri yang bahagia.


Dua gadis manis tengah bercengkerama, bercerita tentang hari-hari berat yang harus dilalui. Seketika tertawa, seketika tersedu. Rahasia Tuhan hanya Dia yang tahu, manusia hanya menjadi wayang dalam dunia yang penuh liku.


"Jadi ... kamu mulai jatuh cinta sama pria bangkotan itu?" tanya Claire yang merapikan meja kerjanya.


"Em... ntahlah!" jawab Rona ragu-ragu. Dia menarik kursi lalu duduk di hadapan sahabatnya.


"Tadi kamu bilang menikmati berciuman dengan... siapa sih namanya itu?" tanya Claire sembari menutuk kening dengan jari-jarinya.


"Edward," jawab Rona.


"Nah itu si vampire Edward." Claire membuang napas seraya berpikir. Dia memang sudah bersahabat dengan Rona sejak lama, dari hari pertama menginjakkan kaki ke negara ini. Namun, untuk urusan pribadi bukan ranahnya ikut campur.


"Aku cuman bisa berharap yang terbaik saja buat kamu." Claire meraih tangan Rona kemudian menggenggamnya. "Lagi pula, dia laki-laki yang sudah merampas sesuatu yang berharga, sudah sepantasnya dia bertanggungjawab dan menikahimu!"


Menikah? Di umurnya yang menginjak usia dua puluh lima tahun memang cukup matang untuk wanita menanggalkan status single-nya. Namun, sampai detik ini si gadis berkaca mata belum terpikir sejauh itu.


"Aku masih ragu Claire dengan perasaanku juga perasaan Edward. Apakah ini cinta atau hanya pelampiasan nafsuu semata," lirih Rona.


"Aku tiap hari memikirkan nasib kamu, Rona. Sampai saat ini aku tidak bisa menerima atas perlakuan Edward yang kurang ajar lalu menjadikanmu wanita simpanan. Setiap melihat muka dia ingin rasanya aku cakar-cakar!" Claire mengunyah kepingan cokelat untuk meredakan amarahnya.


"Tapi dia tampan kalau lagi bersikap manis," ungkap Rona yang menopang wajah ke atas meja sambil membayangkan pesona Edward yang membuatnya tertawan.


"Aish... hal yang paling menjijikkan buatku melihat orang lagi bucin-bucinnya. Gadis pintar sepertimu saja sekejap terlihat seperti orang bego!" umpat Claire yang terus mengunyah cokelat hingga belepotan ke sekeliling bibir. Namun, dia tiba-tiba dikejutkan oleh tangan seseorang yang mengusap bibirnya menggunakan tisu.


"Nath?" pekik Claire.


"Kamu makan cokelat, kaya bocah saja Claire!" tegur Nath yang masih membersihkan noda makanan di bibir sahabatnya. Keduanya mematung dengan mata bersitatap, Rona tersenyum karena menyadari ada sesuatu di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Duarrrr!" Rona menepuk pundak Nath, hingga membuat kedua sahabatnya memekik kaget. "Hahaha... cie... pandangan matamu menarik hati," ledek Rona seraya menyanyikan sebuah lagu. Claire salah tingkah lalu menimpuk sahabatnya menggunakan pulpen dan hampir saja mengenai kening Rona, untung saja meleset.


"Eit... tidak kena... tidak kena!" ledek Rona. Seraya terus berjalan mundur, lalu punggungnya menabrak sesuatu yang hangat.


"Feliks?" Rona memanggil nama pria di belakangnya. "So- sorry aku tadi tidak melihat kamu ada di sini," ungkap Rona tergagap.


Feliks menahan saliva dan detak jantung yang tak beraturan, baru kali ini dia merasakan ada sesuatu yang lain di hatinya. "A- aku diminta bos Edward untuk menjemputmu, Rona."


Rona langsung menatap Claire, terbesit kekecewaan di wajah sahabatnya. Karena gadis itu masih ingin berbincang dengannya lebih lama. "Maaf...."


"Sana pulang, susah ya kalau sudah punya suami!" cibir Claire yang mengerucutkan bibirnya.


"Ish... aku masih lajanglah," bela Rona.


"Iya masih lajang, masih bisa ditikung dan direbut!" timpal Nath seraya menyorot Feliks dengan tajam. Sebagai sesama pria, dia sangat mudah memahami perasaan pria di hadapannya. Dari cara dia menatap dan bersikap terhadap Rona, sangat jelas terlihat.


"Aku pulang duluan ya Claire." Rona mengecup pipi Nath dan Claire bergantian. "Titip sahabatku ya Nath," ucap rona menepuk pundak pria yang berdiri di samping Claire.


...***...


Cinta terkadang membuat dunia menjadi indah. Namun, bisa juga membuat runyam. Cinta hadir tanpa diminta dan pergi tanpa diinginkan, seperti "jelangkung".


"Kamu sudah makan malam?" tanya Feliks yang melihat Rona memegangi perutnya.


Rona menggelengkan kepala lalu menjawab dengan singkat, "Belum...."


"Pantesan dari tadi memegang perut terus. Kamu lapar ya? Kita makan malam dulu yuk!" ajak Feliks tanpa menunggu jawaban. Dia menepikan mobilnya di lahan parkir sekitar street food. Lalu membantu Rona melepas sit belt dan segera keluar dari mobil dengan sedikit berlari kemudian membukakan pintu untuk Rona.


"Silakan Tuan puteri," ujar Feliks yang membungkukkan badan. Rona keluar dari mobil dengan alis yang mengerut, dia heran dengan sikap Edward dan Feliks hari ini yang berubah sangat manis.

__ADS_1


"Terima kasih Feliks..." ucap Rona. Feliks mengangguk lalu menarik tangan Rona hendak menuntunnya. Namun, gadis itu menepisnya. "Aku bisa jalan sendiri."


"Eh iya maaf, aku cuman menjalankan tugas dari bos Edward untuk selalu menjagamu," kilah Feliks yang kembali menarik tangan Rona dan menggenggam jemari gadis itu. Rona kembali menepis tangan Feliks dari tangannya. Namun, pria itu mencengkeram sangat erat.


"Apa kamu mau aku dipecat hanya gara-gara tidak menjagamu dengan baik?" geram Feliks. Rona hanya menarik bahunya ke atas seolah tak peduli dengan terus melanjutkan langkahnya.


"Kamu mau makan apa?" tawar Feliks. Rona memutar kepalanya dan jari telunjuk Feliks mendarat di pipi kiri.


"Ish... iseng banget sih!" Rona tertawa renyah. Feliks ikut menarik senyuman, bibirnya bergetar.


"Kamu cantik Rona," ungkap Feliks tanpa menatap wajah Rona.


"Aku memang cantik, karena perempuan. Kalau aku tampan, nanti Edward kabur...."


Mendengar nama Edward, Feliks langsung tidak enak hati dan seketika melepas genggaman dari tangan Rona. Dia berpura-pura menggaruk punggungnya yang sebetulnya tidak gatal.


"Sudah makin malam, putuskan mau makan apa Rona." Feliks menunjuk stand yang menjajakan makanan ringan. "Barbequed Snags di sini enak banget loh, kamu mau mencobanya?" tawar Feliks.


"Em... boleh lah," jawab Rona. "Beri saus yang banyak ya," pinta Rona.


"Oke, tunggu di sini ya." Feliks memesan makanan yang diminta dan Rona duduk menunggunya di bawah pohon rindang yang dihiasi lampu kerlap-kerlip. Dia menengadah ke atas langit dan tiba-tiba bayangan wajah Edward muncul sedang tersenyum lalu melempar ciuman jarak jauh ke arahnya.


Rona mengerjapkan matanya lalu terkekeh, orang-orang memperhatikan gadis itu dengan raut aneh. Dia sama sekali tidak peduli, yang terpenting saat ini hatinya tengah berbunga.


"Aku rindu kamu, Edward..." guman Rona. Feliks yang berdiri di samping Rona mendadak sendu dan bermuram durja karena cintanya terlambat untuk disadari.


Cinta segitiga tidak hanya terjadi di dalam dunia novel. Namun, di dunia nyata pun kerap kali hadir mengusik hubungan baik yang sudah lama dibangun. Apakah hubungan Edward dan Feliks akan hancur karena ego memperebutkan wanita yang sama?"


...*****...

__ADS_1


...Maaf ya kemarin dan hari ini Up-nya alot. Terimakasih untuk yang sudah setia menunggu....


...I Love you all...


__ADS_2