Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Seksi!


__ADS_3

Malam indah yang tengah dinantikan seorang pria yang mengenakan setelan jas biru tua dipadu padankan dengan kemeja berwarna putih bersih, menjadi malam kelabu bagi pria lain yang duduk merengut seorang diri. Dia menatap cemburu ke arah sang istri yang bersusah payah mempercantik diri hanya untuk bertemu pria lain. Bahkan kaca mata yang selalu melekat di cuping telinga, kini dia ganti dengan softlens yang senada dengan iris mata.


Wanita yang sangat jarang memulas wajah, malam ini tampil berbeda dari biasanya. Sentuhan lipstik berwarna merah menyala sangat kontras dengan warna kulit putih berseri. Dress hitam dengan kerah sabrina, menampakkan tulang bahu yang mulus dan indah.


"Kamu cantik sekali Rona," puji Feliks yang terkesima menatap wajah wanita yang sempat mengisi relung hati. Kedua matanya tidak beranjak dari keindahan yang tidak ingin dia sia-siakan.


"Kamu juga sangat tampan, Feliks." Rona balik memberikan pujian. Feliks tersipu, dia menarik tangan Rona dan menggengamnya.


"Anakku cuman ingin makan malam, bukan mau mesra-mesraan." Rona menarik tangannya dari genggaman. Feliks menggaruk kepala yang tidak gatal.


Seorang waiters datang dengan membawa nampan di tangan, dia menghidangkan makanan yang sudah dipesan.


"Bersulang?" Rona mengangkat cocktail glass diikuti Feliks. Dua gelas kaca saling berdenting, pemiliknya saling menatap satu sama lain dan menenggak minuman beralkohol di dalamnya.


Bibir Rona menempel di pingiran gelas, tiba-tiba gelas tersebut terlempar ke atas lantai karena ditarik seseorang.


"Kamu sedang hamil Rona, tidak boleh meminum minuman beralkohol!" teriak Edward kesal.


"Itu kan jus mentimun, bukan cocktail. Lagi pula kamu tahu pasti aku tidak terbiasa menenggak minuman beralkohol," lirih Rona menatap pilu minumannya tumpah di atas karpet.


"Ma-maaf sayang, biar aku pesankan lagi ya." Edward mengusap-usap perut sang istri.


"Tidak usah, aku sudah tidak berselera. Aku mau pulang saja." Rona beringsut dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar restoran mewah. Edward mendengus pelan, dia mengikuti arah langkah sang istri dengan kepala tertunduk.


"Tuhan... berat sekali ujian dari istri yang sedang mengidam." Edward berkata dalam hatinya.


Feliks tertegun di balik meja, wajah kusutnya menatap lekat punggung wanita yang kini menghilang ditelan bayangan. Suara hembusan napas terdengar sebagai isyarat akan kecewa yang dia rasakan.


"Boleh aku duduk?" pinta seseorang dengan suara halusnya. Feliks mendongak, bibir yang menguncup seketika mengembang.


"Claire kamu?" Feliks menatap tidak percaya. "Ini benar-benar kamu?" Feliks menelisik tiap detail wajah kekasihnya. Mulutnya membeku sekejap, dia sungguh terpesona.

__ADS_1


"Iya ini aku, lalu siapa lagi?" Claire mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang semula diduduki Rona. Kemudian melambaikan tangan memanggil seorang waiter, memesan wine.


"You are so beautiful..." puji Feliks dengan penampilan Claire malam ini.


"Thankyou," balas Claire yang menopang wajah di atas meja.


Seorang waiter datang membawa satu gelas wine, lalu menaruhnya di atas meja. Claire mengangkat gelas wine tersebut lalu menggoyang-goyangkannya. Dia meneguk isinya hingga tak bersisa. Feliks turut menelan saliva, karena pergerakan sensual bibir gadisnya di atas gelas.


"Seksi!" ujar Feliks.


Claire yang mendengar perkataan Feliks, dia mengedipkan sebelah mata dan menyapu bibirnya menggunakan lidah. Menggoda hasrat pria di depannya dengan gestur nakal juga liar.


Gadis yang mengenakan dress berwarna hitam menjulurkan tangan lembutnya, Feliks meraih tangan tersebut kemudian mengecupnya. Pipi Claire memerah, dia menunduk menyembunyikan wajahnya. Feliks terkekeh, perasaannya saat ini sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Namun yang pasti, hatinya begitu berbunga-bunga.


"Claire..." panggil Feliks dengan suara berdesahh.


"Ya?" sahut Claire melihat ke arah bola mata lelakinya.


"Aku juga mencintaimu, Feliks." Claire menarik tangan sang kekasih dan meletakkannya di atas pipi kemudian mengecupnya.


"Tahu tidak?" tanya Claire menggantung.


"Apa?" timpal Feliks.


Makan malam romantis ini adalah rencana Rona, dia yang mengatur semuanya. Tadi sepulang dari Rumah Sakit, dia menghubungiku dan menjelaskan akan maksud dia. Feliks yang mendengar penuturan Claire hanya bisa tertawa hambar. Dia memang mencintai Claire, namun wanita yang saat ini sudah menjadi milik orang lain, akan selalu ada di dalam hatinya.


Musik romantis diputar, lampu utama dimatikan menyisakan lampu-lampu kecil yang pencahayaannya temaram. Feliks berdiri lalu melipat sebelah tangannya di atas perut, dengan posisi tubuh membungkuk.


"Maukah berdansa denganku?" Feliks menatap Claire penuh harap. Kekasihnya itu mengangguk dengan senyum simpul yang terukir di bibir ranumnya.


Feliks menuntun Claire ke lantai dansa, dia merasa canggung demikian juga Claire. Namun musik yang mengalun merdu menghanyutkan perasaan keduanya, Feliks melingkarkan tangan di pinggang Claire. Sedangkan Claire mengalungkan tangannya di leher Feliks.

__ADS_1


Tubuh mereka bergerak pelan, seirama dengan nada lagu. Mata bersitatap, senyum tidak lepas dari paras keduanya.


Feliks menarik tubuh Claire agar semakin merapat, kini jarak antara mereka hanya sebatas hembusan napas. Jantung keduanya bertalu-talu, tarikan napas sudah berlarian tak tentu.


Pria yang mengenakan setelan jas biru tua, kini memandang bibir manis milik gadisnya. Dia memiringkan wajah, kedua mata Claire sontak saja terpejam menantikan sapuan lembut di atas benda kenyalnya.


Bibir yang dingin karena efek pendingin ruangan, menempel tipis di atas bibir kekasihnya. Bermula dari sebuah kecupan, sekarang beralih dengan pagutan. Sepasang kekasih menikmati french kiss mereka. Keduanya sudah sangat lihat memainkan mulut dan lidah satu sama lain. Menyesap, membelit, mengitari seluruh dinding rongga mulut. Suara decak ludah tersamarkan oleh suara musik dan juga irama jantung yang semakin kencang.


Tangan Feliks naik ke atas punggung, lalu mengusap-usapnya dengan lembut. Dia hendak membuka resleting gaun milik kekasihnya, akan tetapi sebuah pukulan mengenai perutnya.


"Ini di tempat umum," geram Claire.


Feliks menarik kembali tubuh Claire merapatkannya ke dalam pelukan, lalu berucap di samping daun telinga. "Kalau di tempat pribadi, berarti boleh?"


Claire tidak mampu menjawab, dia seakan terjebak dengan selorohannya sendiri. Feliks dengan senyuman nakalnya dia menyambar bibir Claire yang sedikit terbuka, kemudian melumattnya dengan rakus.


Bibir Feliks kini berada di atas leher jenjang milik gadisnya. Dia mengecup lalu menyesapnya. Meninggalkan sedikit tanda kepemilikan berwarna merah di atas ceruk leher. Wajah Claire meremang, tanganya melemah. Dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Feliks padanya.


"Aku ingin memilikimu," bisik Feliks menggoyang-goyangkan badannya mengikuti hetakan musik.


"No sek-s before marriage!" jawab Claire tegas.


Feliks terkekeh dan mencodongkan wajahnya. "Kalau begitu menikahlah denganku."


Mata Claire membulat, dunia seakan berhenti berputar untuk sejenak. Dia meyakinkan dirinya, ini kenyataan ataukah hanya sekedar angan-angan.


Malam ini ditutup dengan kemesraan yang diciptakan oleh sepasang sejoli. Mereka tengah mengkhayalkan hari-hari bahagia. Hari-hari yang menyatukan keduanya menjadi "kita".


...*****...


...Mohon maaf seharusnya bab ini untuk kemarin, tapi karena satu dan lain hal, baru bisa ke Up hari ini.🙏...

__ADS_1


__ADS_2