
...Dalam hening, tidak ada suara yang ada hanya kata. Langkah tertatih, setapak demi setapak. Jauh menggapai angan-angan. Namun sayang, kini ucap tak lagi bermakna. Hening dan bungkam....
...*****...
Tanpa perlu diseret, Amber dengan senang hati mengikuti mereka tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun. Padahal mara bahaya tengah menanti di depan mata.
"Aku mau dibawa kemana?" tanya Amber saat digiring ke dalam mobil dengan jendela hitam pekat. Tubuhnya didorong kasar, dengan susah payah Amber bangkit. Karena kain yang menutupi tubuhnya terinjak kakinya sendiri.
"Pelan-pelan dong, kasar sekali!" protes Amber kesal.
"Kalau pelan-pelan, nanti tidak puas Nyonya," sahut salah satu penyekap. Pikiran Amber sudah travelling ke alam lain, pelan-pelan? Puas? Wanita tua itu seketika membayangkan kalau pria yang duduk di sampingnya menggagahinya.
"Waw... mimpi apa aku semalam?" batin Amber dengan pikiran-pikiran kotornya.
Sepanjang perjalanan, Amber sibuk membayangkan hal yang paling dia sukai selain harta. Sesekali dia melirik ke arah pria di sampingnya. Matanya tertuju pada sesuatu yang sesak di balik resleting celana. Tangannya sudah gatal ingin menurunkan celana pria tersebut lalu meremass barang favoritnya.
Cukup lama Amber menahan gairah yang semakin membuat panas suhu tubuh. Tangannya mulai bergerilya di atas paha, pria yang dia jamah membiarkannya melakukan apa yang Amber mau. Tangan Amber naik ke atas, lalu menarik t-shirt hingga sebatas dada. Amber tersenyum riang ketika melihat perut kotak-kotak dan dada montok si pria asing.
"Waw... tubuhmu seksi sayang..." seloroh Amber yang langsung saja meremass dada laki-laki di sampingnya kemudian menjilatnya. "Apa tujuan kita masih lama?" tanya Amber tidak sabar.
"Sebentar lagi Nyonya," jawab pria tersebut dingin dengan pandangan lurus ke depan. Amber mengangguk, lantas melanjutkan aksinya.
Lidahnya masih bermain-main di atas dada, tangannya menjamah dada lain lalu turun menuju perut rata dan terakhir jari-jarinya membuka kancing juga resleting celana. Dia memainkan kepemilikan pria itu dengan meremassnya kuat. Pria itu masih bersikap dingin, tidak tergoyahkan.
"Kita sudah sampai Nyonya," ucapnya seraya menutup kancing celana yang terbuka. Pintu mobil dibuka, lengan Amber ditarik. Tubuh wanita itu bergidig melihat kondisi tempat yang dia pijak saat ini. Sebuah gudang tua yang lembab dan berlumut. Matanya menatap ke sekeliling, dia yakin kalau tempat ini berada di pinggiran kota.
__ADS_1
"I-ini? Tidak salah?" Perasaan Amber mulai tidak karuan. "A-aku punya banyak uang, kita bersenang-senang di hotel saja. Tenang... semuanya aku yang bayar! Mau Superior or Presidential Suit, bebas!"
Ketiga pria yang menyeretnya tidak ada satu pun yang mengindahkan perkataan Amber. Semua bungkam dan terus berjalan cepat membawa Amber ke dalam gudang yang aromanya tidak sedap serta banyak tikus berkeliaran. Amber menjerit-jerit karena rasa takut dan geli.
"Ah... tikus! Aku jijik! Itu kecoa... No, please keluarkan aku dari sini. Ruangan ini kotor sekali, bau juga! Napasku sesak!" cerocos Amber yang disambut dengan gelak tawa seseorang yang masuk dari pintu yang lain.
"Kamu memang lebih layak berada di tempat kotor dan menjijikan seperti ini Amber, sama seperti kelakuanmu!" cibir sosok yang wajahnya terlihat remang-remang.
Amber menajamkan penglihatan, matanya meruncing. Suara yang dia dengar sangat jelas di memori. Suara anak tiri yang sudah dia renggut kebahagiaannya.
"Edward!!!" geram Amber. Edward bertepuk tangan seraya menghampiri Amber yang berdiri kaku seperti artefak.
"Oh... Mommy Amberku tersayang, masih ingat anak tirimu ini?" Edward berbicara dengan sinis, Amber terkekeh.
"Saking lemahnya kamu anakku, sampai-sampai harus menyuruh tiga ekor cecunguk ini untuk menyeretku?" balas Amber tidak kalah sinis.
Edward menepuk tangan, anak buahnya membawa seseorang yang mengenakan penutup wajah. Edward menarik penutup tersebut.
"Kamu kenal dia siapa Amber? Pria bodoh yang kamu iming-imingi uang dan tubuh peotmu! Jadi hari ini aku akan membantu mengabulkan keinginanmu. Bercinta dengan pria tolol ini!" Edward mendorong tubuh pria yang seusia dengannya dan berprofesi sebagai Kepala Sipir penjara. Pria yang sudah membantu Amber bebas berkeliaran.
Tubuh pria itu menubruk tubuh Amber, keduanya terjerembab ke atas lantai yang bau urin tikus. Amber menjerit karena bagian tubuh belakangnya basah dengan aroma tidak sedap.
"Ini benar-benar menjijikan. Brengsek kamu Edward!!" umpat Amber yang menarik tubuhnya untuk berdiri. Dia mengangkat tangan ingin memberi pelajaran pada anak tirinya, namun Edward menodongkan sebuah senjata api ke arah dahi Amber kemudian menarik pelatuknya.
Tubuh Amber gemetar, pelipisnya basah oleh peluh. "Ka-kamu mau apa, Nak? Ingat... aku ini ibumu sayang. Turunkan tanganmu," bujuk Amber.
__ADS_1
Edward menarik benda yang digenggamnya dari wajah Amber lalu tersenyum miris. "Giliran mau mati, baru ingat kalau kamu adalah seorang ibu. Ibu yang tidak punya hati yang tega melukai putrinya. Istri kurang ajar yang hampir saja menghilangkan nyawa suaminya sendiri. Sudah terlalu banyak dosamu, Amber!"
"Berdiri!" titah Edward pada pria yang berdiri di belakang Amber seraya menodongkan pistol. "Kamu masih ingin hidup, kan?" tanya Edward.
"I-iya tentu saja," jawab pria tersebut. Aku akan melakukan apapun agar aku bisa bertahan hidup," jawabnya lagi.
Edward mengangguk-angguk. "Bagus... kalau begitu dengarkan perintahku!"
"A-apa itu, Tuan?" tanya si Kepala Sipir tergagap.
"Di depan kami semua, gauli perempuan tua ini!" perintah Edward yang terdengar absurd.
Amber terkekeh meremehkan. "Hukuman macam apa ini? Kalau aku tanpa disuruh pun akan dengan senang hati!" Amber membuka kain tipis yang menutupi tubuh gempalnya. Hanya bagian inti saja yang tertutup. Dia mendekati pria di depannya dan menyerang dengan buas. Pergumulan pun terjadi yang disaksikan anak buah Edward. Sementara Edward membalikkan badan, tidak ingin melihat adegan yang membuatnya mual.
Setengah jam mereka melakukan penyatuan. Saling berbagi kenikmatan juga berbagi penyakit tentunya. Bagai dua ekor binatang jalangg, rintihan dan erangan bersahutan tanpa merasa risih karena berpasang-pasang mata menatap mereka.
Amber tertawa lepas, seolah mendapat lotre karena lawan mainnya pemuda yang sangat perkasa. Pemuda itu pun tersenyum puas karna Amber memberi service yang sangat luar biasa. Akan tetapi kebahagiaan keduanya sirna saat Edward mengungkapkan penyakit yang diderita Nath dan tentu saja diidap oleh Amber.
"Pasangan yang cocok! Pasangan yang akan sebentar lagi akan sama-sama masuk ke neraka!"
"Kamu jangan mengada-ada, Edward! Tidak mungkin anak itu terkena AIDS!" Amber mulai merasa takut terlebih si pemuda yang sudah menggaulinya. Mereka berdua bagai mata rantai, terjebak dalam penyakit menular dan mematikan.
...*****...
...Terimakasih untuk dukungan dari teman-teman semua....
__ADS_1
...Selamat siang dan beraktifitas......