Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Mansion Keluarga Liam


__ADS_3

...Masa depanku adalah kamu. Penggenggam cinta yang bermula tanpa rasa. Merajut kasih, menyulam kisah. Menyempurnakan separuh agama....


...******...


"Cantik..." puji Edward tanpa berkedip. Dia berdiri dan memberi kecupan hangat di pipi Rona. Pipi yang memerah semakin meremang. Rona menyentuh bagian wajah yang dikecup Edward lalu mengarahkan pandangannya ke atas lantai.


"Hey... tatap wajahku!" pinta Edward lalu menarik dagu kerucut milik Rona. Semburat kemerahan terbit dari kedua pipi gadisnya.


Para pegawai Butik saling berbalas tatap dan saling berbisik. Ada yang merasa senang melihat kemesraan keduanya, ada juga yang mengeluarkan nada sumbang, biasalah manusia.


"Aku malu... dan aku benar-benar nervous Edward." Rona menatap mata Edward sekilas lalu mengalihkan pandangannya kembali.


"Baru juga mau bertemu calon mertua sudah salah tingkah begini, bagaimana nanti kalau hari bahagia itu tiba. Aku jadi semakin tidak sabar membayangkannya," ungkap Edward. Dia mencondongkan wajahnya dan mengecup bibir Rona sekilas. Rona membulatkan mata sedangkan orang-orang yang tengah sibuk membicarakan mereka, menutup wajah seketika.


Edward tersenyum kecil, lalu menarik lengan Rona dan menggenggam jemarinya. Membawa dia keluar dari bangunan khas Eropa menuju bangunan yang sudah lama tidak dia singgahi.


...***...


Perjalanan panjang terasa sangat singkat. Gundah dan gulana menghembus ke dalam pikiran, melewati pijakan yang terasa bagai pecahan kaca. Sepasang mata jernih menatap sebuah bangunan megah bak istana, orang menyebutnya mansion.


"Yuk...!" Edward menggandeng tangan Rona ke dalam lengannya. Menepuk-nepuk jemari halus yang mencengkeram kuat otot biceps-nya.


"A- aku gugup Edward..." lirih Rona.


"Tenang sayang, ada aku..." balas Edward.


Rona merekatkan kembali jemarinya, langkahnya kian terasa berat. Degup jantung bertalu-talu, sekujur tubuh seolah membeku dan berubah dingin.


"Siap sayang?" Edward memijat benda canggih yang bisa bersuara. Kini pintu terbuka lebar dengan seorang maid paruh baya menyambutnya.


"Tu- tuan Edward? Benarkah ini Tuan?" tanyanya sembari berputar mengitari tubuh Edward.


"Iya Fiona, ini saya!" sahut Edward menatap lembut pada wanita yang sudah membesarkannya.

__ADS_1


"Dan Nona cantik ini?" tanya Fiona ingin tahu.


Edward memperlihatkan jari manis Rona. Nampak cincin peninggalan Lesham sang ibunda, melingkar di jari manis Rona.


"Di- dia calon istri Tuan muda?" Fiona menatap Edward lalu menatap Rona. Dia membelai puncak kepala Rona untuk memberikan berkat.


"Gadis ini sangat cantik Tuan, dia juga anak yang baik. Sangat cocok menjadi istri untuk Tuan—"


"Ada siapa Fiona?" teriak wanita yang Edward benci.


Amber berjalan ke arah pintu dan mendapati putranya tengah menggandeng seorang gadis yang tidak dia sukai. Amber memasang wajah bengis dengan mata menyalang. Namun, Rona berusaha menguatkan hati, dia mengangkat wajah tidak ingin terlihat lemah apalagi terintimidasi.


"Oh... putraku sayang akhirnya kamu pulang juga!" Amber hendak memeluk Edward, tetapi laki-laki di hadapannya menarik mundur tubuhnya.


Untuk meluluhkan hati Sang anak tiri, Amber berpura-pura bersikap manis dengan mendekap calon menantunya. Akan tetapi, mulut jahatnya tidak tahan kalau tidak mengeluarkan bisa. "Jangan mengkhayal menjadi Ratu di rumah ini, wanita jalangg!"


Rona tidak ingin kalah begitu saja, dia menabuh genderang perang pada Amber. "Kita lihat saja nanti Nyonya Amber! Satu lagi, silakan bercermin yang jalangg itu siapa?"


Amber menarik tubuhnya dari Rona, terlihat guratan kekesalan di wajahnya. Niat hati ingin melumpuhkan perasaan Rona. Namun, malah dia sendiri yang dibuat geram. "Aku tidak boleh meremehkan perempuan ini, dia ternyata tidak selemah yang aku kira."


"Fiona tolong panggilkan papaku..." perintah Edward. Dia bisa saja mencari ayahnya sendiri ke kamar. Namun, dia tidak ingin meninggalkan Rona sendirian dengan ular betina.


"Baik Tuan..." jawab Fiona.


...***...


Tidak perlu menunggu lama, terlihat Richard tengah berjalan tergesa-gesa untuk menghampiri anak yang sangat dirindukan.


"Edward putraku!" Richard memeluk putranya dengan perasaan yang mengharu biru. Dia menatap wajah Edward sembari meremass lembut bahunya. "Akhirnya kamu pulang, Nak...!"


"Bagaimana kabarmu?" Richard mangajak Edward untuk duduk dan berbincang, sementara sudut matanya menangkap gadis cantik dengan cincin yang dia kenali tersemat di jari manis.


"Gadis ini—"

__ADS_1


"Iya, dia calon istri Edward, namanya Rona. Dokter Rona...."


Richard sumringah lalu membentangkan kedua tangannya. "Sini Nak, ayo sini..." pintanya pada Rona.


Rona mendekat dan Richard memeluknya lalu membelai lembut kepala Rona. "Terima kasih Nak...."


"Terima kasih untuk apa, Tuan?" tanya Rona yang merendahkan posisi tubuhnya.


"Terima kasih karena sudah membawa pulang putraku, meski hanya sebentar..." jawab Richard bahagia.


Rona mengangguk dan dia hendak duduk di tempat semula. Namun, Richard menahannya. "Kamu duduk di sini saja, mulai saat ini kamu sudah aku anggap seperti anak sendiri."


Edward yang merasa terharu, dia memeluk papanya lalu menumpahkan semua yang bersarang di hati. Bertahun-tahun dia kehilangan sosok ayah yang penuh perhatian dan kasih sayang. Namun, kini sosok itu telah kembali. Bertahun lamanya dia menanti saat-saat seperti ini, saat-saat Richard merengkuhnya dengan hangat.


Sepeninggal sang ibu, Edward dalam kondisi terpuruk terlebih saat Richard menikahi Amber. Watak Richard berubah menjadi kasar dan selalu tidak memiliki waktu dengan putranya.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" Richard menarik tangan Rona dan Edward lalu menggenggam dengan kedua tangannya.


"Edward ingin secepatnya Pa...."


Suasana penuh haru dirusak oleh kedatangan Amber yang tanpa diminta, dia berbicara dengan nada rendah, tetapi menusuk hati. "Jangan buru-buru, Nak. Kenali dulu asal-usul gadis ini. Jangan sampai suatu saat menyesal. Kalau Mommy sih lebih setuju kamu menikah sama Arabella. Orang tuanya terkaya ke tiga di negara ini. Cantik, seksi, glamor ... kurang apa lagi coba?"


"Tidak perlu ikut campur dengan kehidupanku Mom. Hidupku aku yang tahu. Dan aku tahu pasti dengan siapa aku akan bahagia!" seru Edward tegas.


"Sudahlah Amber, lupakan ambisimu ingin menjodohkan Edward dengan gadis itu. Kebahagiaan putraku saat ini adalah yang utama. Apalah arti kemewahan serta harta kekayaan, tapi hidup kesepian karena ditinggalkan oleh anak sendiri," timpal Richard yang membuat Amber kesal.


"Ya sudah terserah kalian, aku selama ini memang tidak pernah dianggap penting di rumah ini," rengek Amber yang menghilang dari hadapan orang-orang.


Richard menghela napas melihat sikap Amber, selama ini dia selalu membela istrinya karena mata dan hati yang tertutup oleh cinta. Namun, kepergian Edward dari mansion, menyadarkannya perlahan. Bahwa kebahagiaan yang dia butuhkan ada pada Edward, putranya.


"Jangan dengarkan Mommy kalian, dia sebenarnya baik kok..." ujar Richard basa-basi, padahal dia tahu pasti bagaimana perangai istrinya.


...******...

__ADS_1


...Terimakasih yang selalu berkenan membaca karya Senja. Mungkin terkadang ada bab yang hambar, kurang greget, datar ataupun tidak sesuai keinginan. Itu semua semata-mata karena menulis membutuhkan kondisi otak yang jreng. Kalau tidak, ide bisa macet dan Ilham mencari selingkuhan....


...Kalau sudah begini butuh pemandangan yang segar-segar dan berkotak-kotak. Apakah itu? 🤭...


__ADS_2