
...Efek Real Life ngebul, bab malam ini ikutan ngebul. Bagi yang tidak kuat, silakan dadah-dadah ke kamera ya Kak. Yang masih kuat baca, efek samping, ditanggung masing-masing....
...*****...
Edward menyeringai, dia membuka kancing celana lalu membiarkannya melorot begitu saja dari pinggangnya. Dia berjalan mendekati Rona hanya menggunakan kain penutup terakhir. Miliknya terlihat semakin penuh dan sesak.
Sepasang biji mata langsung saja terfokus pada milik suaminya yang mengembung. Rona menelan ludah berkali-kali lalu menutupi area intinya.
"Kenapa ditutup sayang?" Edward mengungkung tubuh Rona dan membuat tubuh istrinya menempel ke pagar kaca balkon.
"Itu!" Tunjuk Rona pada pusaka suaminya. "Kok sudah membesar saja?" ucap Rona seraya menutup wajah. Dia merasa malu kalau berbicara genit pada suaminya.
Edward terkekeh, "Sudah berani nakal sayang?" bisiknya di telinga Rona. Lalu menghembuskan napas membuat bulu kuduk berdiri satu persatu. Edward menekan-nekan miliknya, Rona menggigit ujung bibirnya.
"Kamu selalu membuatku mabuk kepayang, Rona. Matamu, hidungmu, bibirmu, lehermu, dadamu... semua membangkitkan birahiku dengan mudah...!" Edward meremass kuat seonggok daging yang membusung, memaksa pemiliknya mendesahh dengan sangat kencang.
"Teruslah mendesahh sayang, bila perlu menjerit. Aku suka!" Dua jari Edward menelusup ke dalam milik istrinya. "Sudah basah...!" desah Edward di atas ceruk leher. Rona menarik rambut Edward menahan gairahnya.
"Kamu yakin mau main di sini?" Edward cingak-cinguk melihat situasi. Rona mengangguk pelan lalu menyambar bibir Edward dan melumattnya tanpa ampun. Edward yang kewalahan karena Rona mengatup bibirnya tanpa memberi ruang, dia melepas pagutan menarik bibirnya. Napasnya tersengal-sengal dengan dada yang turun naik. Edward menarik tengkuk Rona, lalu menyatukan keningnya.
"Puaskan aku sayang..." pinta Edward yang dibalas dengan anggukan. Rona sudah paham betul keinginan suaminya. Dia memutar tubuh Edward dan mendorongnya ke ujung pagar balkon. Tangannya yang lentik sudah lihai memanjakan suaminya. Dia melepas kain terakhir yang menutup area in-tim milik Edward, lalu mulai berdiri menggunakan lututnya.
Bibir mungilnya menyesap kuat dengan lidah yang menggelitik. Edward mendorong kepala Rona, menekan miliknya masuk dengan sempurna dan membuat istrinya tersedak berkali-kali.
__ADS_1
Edward melenguh dan mengerang, karena sesapan mulut istrinya semakin kencang. "Sudah sayang... biarkan benihku menyebar di rahimmu. Sayang rasanya kalau aku tumpahkan di dalam mulut kecilmu itu." Edward melepaskan miliknya dari permainan bibir tipis Rona.
Edward membalikkan keadaan, dia mendorong Rona lalu menghimpit tubuhnya di depan pilar. Tangannya menarik kasar lingerie milik istrinya hingga robek terbelah dua, lalu melemparnya ke sembarang arah. Tanpa sabar, Edward melepas semua kain yang melekat di tubuh istrinya. Lalu mencumbu dengan liar.
Bibirnya mengatup mulut Rona yang menganga. Tangannya memberi rangsangan di area-area sensitif. Rona menjambak rambut Edward saat bibir suaminya menghisap puncak areola dan jari tengah melesak ke dalam area inti. Suara parau semakin parau, namun terdengar sangat seksi di telinga Edward.
"Sudah siap sayang," tanya Edward yang mengarahkan kepemilikannya ke pangkal paha istrinya. Rona mengangguk cepat, sudah tidak tahan ingin mendapatkan surga dunianya.
Edward memutar tubuh Rona dan sedikit membungkukkan tubuh istrinya. Rona menopang badannya ke atas kaca pagar menggunakan kedua tangan. Bibirnya digigit tipis, saat benda keras milik suaminya menghunjam dalam sekali hentakan. Rona menarik kepala ke atas, bibirnya menjerit.
"Kenapa sayang, sakit?"
Rona hanya menggelengkan kepala, Edward mulai memaju-mundurkan miliknya dengan lembut. Kedua tangannya menggenggam dua gundukan yang menggantung bebas.
Gerakan Edward mengencang, dia menggoyang-goyangkan panggulnya dengan cepat. Tangannya ikut andil meremass korpus lalu memelintir puncaknya. Bibirnya menyesap seraya menggigit pundak istrinya.
Edward mencabut miliknya lalu membalikkan tubuh Rona. Dia mengangkat kaki kanan istrinya dan menariknya ke atas pinggang. Dengan sisa tenaga, Rona menyandarkan punggungnya ke depan pilar seraya mencengkeram kuat pundak datar milik Edward.
Edward kembali menancapkan miliknya. Rona meringis karena rasa perih di area in-timnya. Namun rasa perih berganti dengan rasa nikmat karena Edward merangsang kembali tubuh Rona dengan jilatan dan lumattan. Suara erangan membahana di atas balkon seperti dua ekor kucing yang sedang kawin. Mereka sudah tidak peduli kalau suara mereka terdengar orang-orang. Yang mereka pikirkan saat ini adalah menunaikan hak dan kewajiban sebagai suami istri.
Edward bergidig, dia akan mendapat puncak kenikmatan. Goyangan panggulnya semakin cepat dan tidak teratur. Lenguhan lolos dari mulutnya dengan racauan menyambut pelepasannya.
"Honey... I'm comming...!" Edward hendak mendapatkan klimak-snya dan menyemburkan benih ke dalam rahim istrinya, namun suara tangisan Ezio membuyarkan ujung kenikmatan.
__ADS_1
"Mommy... Mommy mana, Ezio takut...!" Rona mendorong tubuh suaminya lalu segera bergegas menghampiri Ezio.
"Ke- kenapa sayang, kamu mimpi buruk?" Rona mengusap kepala Ezio lalu berbaring di samping anak sambungnya.
"Iya, Mommy... Mommy jangan pergi lagi. Temani Ezio bobo di sini...!" Ezio memeluk tubuh Rona lalu menenggelamkan kepalanya ke dalam dekapan hangat seorang ibu.
Rona menatap sendu ke arah Edward yang memasang wajah pilu seraya menutupi pusakanya yang kembali tertidur lemas. Antara kasihan dan ingin tertawa, Rona melipat kedua bibirnya dan menutup mata menggunakan tangan.
Edward memungut pakaiannya yang berserakan di atas lantai lalu memakainya kembali. Dengan tubuh yang lunglai dia masuk ke dalam kamar mandi dan terpaksa olahraga tangan untuk kesekian kali.
"Huh... padahal tinggal sedetik lagi itu mau keluar. Arghrr...!" gumam Edward seraya menyalakan keran shower mengguyur tubuhnya yang masih panas karena api gairah.
...***...
Sementara di kamar seberang, pasangan pengantin baru tengah melakukan ritual suami istri. Namun hanya sebatas menunaikan kewajiban dan melampiaskan nafsuu yang tidak mampu disalurkan pada wanita yang diinginkan.
Lagi-lagi Roland memekikkan nama Rona, saat mengeluarkan benih cinta ke dalam rahim istrinya. Sepanjang dia menikmati tubuh Leona, di dalam ingatannya hanya ada wajah dan tubuh gadisnya. Berkali-kali dia melenguh menyebut nama Rona. Persetubuhan dengan istrinya, dia membayangkan melakukan dengan wanita pujaannya. Leona hanya menahan pedih di hatinya, menangis pun tidak ada guna.
Meski begitu, Leona mulai ketagihan akan permainan Roland di atas ranjang. Walaupun bukan dirinya yang disebut, namun Leona yakin suatu saat suaminya akan beralih mencintainya. Dan hanya ada namanya yang terpatri di dalam hati dan hanya namanya yang keluar dari bibir suaminya.
Dia hanya perlu lebih bersabar dan banyak berkorban untuk saat ini. Namun bila hingga waktunya dia lelah, dia akan memilih pergi dan mencari kebahagiaannya sendiri.
...*****...
__ADS_1
...Bab ini hampir full dengan adegan 21 ya. Maafkan 🙈...
...Selamat malam semuanya....