Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Night Festival


__ADS_3

Claire tersenyum menang, lalu menaiki kendaraan yang pintunya telah dibuka oleh Feliks. Kemudian duduk dengan santai, menikmati jalanan kota yang mulai dihiasi oleh gemerlap lampu berwarna-warni.


Sedangkan Feliks, dia tidak bisa menyembunyikan wajah ketakutannya. Keringat dingin mulai menitik karena pikirannya sudah terbang melayang begitu tinggi. Pikiran-pikiran negatif mulai menghantui, tangan yang semula hangat saat ini berubah dingin.


"Claire...?" panggil Feliks menoleh sekilas.


"Hm...?" deham Claire malas.


"Kamu yakin mau ke Night Festival?" tanya Feliks mempertegas.


"Tentu saja. Apa kamu melihat raut keraguan di wajahku?" Claire menunjuk mukanya sendiri. Feliks menggeleng seraya tertawa hambar. "Lalu kenapa bertanya lagi?" tanya Claire sinis.


Perjalanan yang seharusnya hanya memerlukan waktu setengah jam, kini terasa lebih lama dan bertambah panjang.


"Kenapa kita belum sampai juga ya?" Kepala Claire berputar memperhatikan jalanan sekitar, dia merasakan ada sesuatu yang ganjal. "Ini rasa-rasanya jalanan yang kita lewati tadi?" Claire menempelkan jari telunjuk di atas dagu lalu mengerling ke arah Feliks.


Feliks salah tingkah, dia tidak berani membalas lirikan tajam mata kekasihnya. "Ke-kenapa melihat ke arahku seperti itu? Ada yang salah denganku?"


"Tidak ada sih ... tapi sepertinya dari tadi kita hanya berputar-putar di sini saja," terka Claire curiga.


"Itu hanya perasaanmu saja, Claire..." sahut Feliks. "Nah, ini kita sampai." Feliks menepikan kendaraannya lalu menghentikan mobil tersebut di tempat parkir yang sudah disediakan.


Claire yang begitu antusias, dia lekas-lekas melepas sabuk pengaman yang terpasang di badannya. Kemudian keluar dari mobil secepat kilat. Bola matanya bercahaya, melihat gemerlap hiburan malam yang terletak di tepi sungai.


Sudah lima menit berlalu, akan tetapi Feliks masih berdiam diri di dalam mobil. Claire menggedor kaca jendela memaksa Feliks untuk keluar dan ikut bersamanya.


"Kenapa lama sekali sih?" ketus Claire saat Feliks menyembulkan kepala dari dalam mobil.


"Em... itu barusan si bos menelepon," kelit Feliks berbohong.


"Oh... aku kira kamu berubah pikiran," sindir Claire lalu menarik lengan lelakinya. "Tanganmu dingin sekali, Feliks. Apa kamu sakit?" Claire meletakkan punggung tangannya ke atas kening Feliks untuk memeriksa suhu tubuh.


"Ti-tidak... aku tidak sakit. Mungkin ini efek AC mobil terlalu dingin," kilah Feliks menutupi rasa gugupnya. Claire manggut-manggut tanda bahwa dia mempercayai perkataan kekasihnya itu.

__ADS_1


Gadis yang bersurai hitam menggandeng tangan Feliks, menyeret tubuh lelakinya memasuki area Night Festival. Kini nampak kemeriahan dan gemerlap cahaya yang hanya diselenggarakan setiap menyambut musim semi.


"Aku mau dutch pancake, ayo kita ke sana!" Claire menarik lengan Feliks seperti anak kecil. Netra matanya berbinar melihat makanan berukuran kecil dan memiliki rasa manis itu seakan bergoyang-goyang di atas lidahnya.


"Aku mau gellato," pekik Claire bahagia. Dia seperti anak kecil yang melihat makanan kesukaannya. Feliks dengan sabar mengantar kekasihnya dari satu stand ke stand yang lain.


"Kamu suka makanan manis, Claire?" tanya Feliks pada gadis di sampingnya yang tengah melumatt gellato rasa vanila.


"Sangat... aku sangat suka makanan manis. Apalagi eskrim," sahut Claire dengan lidah berputar-putar. Melihat kekasihnya melumatt gellato, khayalan Feliks seketika mengawang. Bibirnya tertarik ke setiap sudut membayangkan kalau lidah itu menyentuh bibir merah miliknya.


"Claire..." panggil Feliks lembut.


"Kenapa Feliks?" Claire melihat ke arah Feliks sekilas lanjut menjilat makanannya.


"Lihat sini," titah Feliks dengan tangan dikibas-kibaskan. Claire memutar kepala dan menghadapkan wajahnya ke arah Feliks. Feliks mendekat, dia menatap Claire dengan intens.


"Di bawah bibirmu ada gellato menetes." Feliks memiringkan wajahnya, dia melumatt bibir Claire dan membersihkan sisa makanan yang menempel. "Sudah bersih sekarang," ujar Feliks tersenyum manis.


Claire melongo, dia terkejut dengan apa yang dilakukan Feliks kepadanya. Tangannya sontak diangkat, jemarinya membelai lembut benda tipis yang telah dicumbu mesra oleh kekasihnya.


Pipi Claire bersemu merah, meski saat ini bukan kali pertama Feliks menciumnya. Akan tetapi, tetap saja debaran di hatinya melonjak-lonjak. Masih terasa di atas bibirnya, bibir lembut Feliks menyentuh setiap sudut.


"Mau lagi?" bisik Feliks menggoda. "Kalau kamu malu-malu seperti ini, membuatku gemas ingin mengecup dan mengecup lagi." Feliks mengelus bibir Claire dengan tatapan yang mendamba.


"Sudah... kita simpan nanti setelah menikah," ujar Claire mencubit hidung mancung Feliks. Pemuda itu sontak tertawa, begitu pun juga dengan Claire. Keduanya terlihat sangat serasi, saling melengkapi dan saling mengisi.


"Aku sudah tidak sabar menikahimu, Claire. Aku sudah tidak sabar untuk melepas masa lajangku dan juga keperjaanku...!" pekik Feliks yang menarik perhatian orang-orang. Claire membekap mulut Feliks menggunakan tangannya dan membawa pria itu cepat-cepat pergi ke tempat yang sepi.


"Huh... kamu membuatku malu Feliks!" Claire mendengus kesal. "Semua orang melihat ke arah kita tadi. Lagian bisa-bisanya kamu berteriak seperti tadi, memalukan!" sungut Claire berjalan tergesa-gesa.


"Maaf... aku lupa kalau kita sedang di tempat umum, Claire..." imbuh Feliks memasang wajah imutnya. Claire mendesah, ingin rasanya dia mencakar paras lelakinya itu. Namun, rautnya yang menggemaskan membuat Claire mengurungkan niatnya.


"Ikut aku!" Claire menuntut Feliks dan membawanya ke arah penjualan tiket.

__ADS_1


"Ki-kita mau apa, Claire?" Perasaan Feliks mulai tidak enak.


"Kita mau naik itu!" tunjuk Claire pada area permainan yang berbentuk lingkaran besar.


"Na-naik binglala? Ki-kita kan sudah bukan anak kecil lagi Claire. Aku malu...."


"Tapi aku mau... apalagi ini salah satu bianglala tertinggi dan terbesar di negara ini. Kita wajib mencobanya," jawab Claire seraya membayar tiket masuk. Dia berjalan di depan dengan Feliks yang mengekor di belakang. Dua tiket sudah diberikan kepada seorang penjaga, kini sepasang kekasih itu telah berada di dalam salah satu kabin.


Keringat dingin mulai menetes kembali, Feliks memejamkan mata dan kedua tangan memegang erat handle kursi yang terbuat dari besi. Terlebih saat mesin bianglala telah dinyalakan, Feliks mulai meracau dan berteriak-teriak ketakutan. Claire hanya tertawa melihat tingkah konyol kekasihnya itu.


"A-aku takut ketinggian Claire... a-aku sangat takut," keluh Feliks dengan kaki yang diangkat ke atas lalu ditekuk.


Bianglala terus berputar dan saat ini mereka berada di atas puncaknya. Claire menatap takjub keindahan kotanya dari ketinggian 400 kaki. Mulutnya tak berhenti menganga akan pemandangan yang begitu indah di malam ini. Namun, kesenangannya terhenti lantaran suara isak tangis yang berasal dari arah lelakinya. Claire mencondongkan badannya, melihat kondisi Feliks yang semakin tertekan.


"Feliks... kamu menangis?" Claire menarik dagu kekasihnya, hingga wajah tampan itu terangkat. Dalam pencahayaan yang temaram, terlihat jelas mata Feliks yang sembab karena air mata.


"A-aku takut Claire. My Dad meninggal karena terjatuh dari atas balkon saat hendak menyelamatkanku! A-aku trauma Claire... aku takut!!!" teriak Feliks melimpahkan isi hatinya.


Claire mendekap hangat tubuh Feliks. Tangannya membelai lembut punggung kekasihnya untuk menenangkan keresahan.


"Ma-maafkan aku Feliks... aku fikir kamu tidak mengalami hal berat seperti itu. Aku kira kamu hanya sekedar takut ketinggian." Claire yang merasa bersalah, dia memeluk Feliks semakin erat.


"Aku takut... Dad meninggal... aku takut... Dad terjatuh. Dad terjatuh karena aku." Feliks terus meracau tidak jelas dengan punggung yang berayun-ayun dan kedua tangan menutupi telinga.


"Astaga... Feliks!" Claire turut menitikkan air mata melihat kondisi Feliks yang terpuruk karena keegoisan dirinya.


Claire merangkum wajah kekasihnya, dia memiringkan kepala lanjut mengecup hangat bibir yang tak berhenti meracau. Dari kecupan berubah menjadi pagutan. Claire melumatt seluruh bibir Feliks tanpa tersisa. Lidahnya menerobos mulut yang bergerak-gerak, lantas mengitari rongga hangat mencari benda tak bertulang.


Feliks yang mulai melupakan rasa takut dan traumanya, membalas pagutan Claire dengan menyesap lidah kekasihnya lalu saling berbelit dan bertukar saliva. Ketakutan seketika berubah menjadi hasrat asmara yang bergelora. Rasa dingin telah hilang, tergantikan oleh api gairah yang menyulut tubuh keduanya.


Ciuman semakin panas dan semakin liar. Hingga mereka tidak menyadari bahwa saat ini kabin yang mereka naiki telah berada di bawah. Semua orang menatap ke arah mereka lalu bertepuk tangan dan bersorak sorai. Claire sontak melepaskan pagutan bibirnya dari bibir sang kekasih.


"Ya ampun... malunya aku...."

__ADS_1


...*****...


...Terimakasih untuk semuanya yang masih setia dengan Novel ini. Mohon maaf sekali lagi karena belum bisa fokus merangkai cerita 🙏🙏🙏...


__ADS_2