
"Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu Roland. Suamiku sedang membutuhkanku ... kumohon, bergeraklah cepat!" lirih Rona tidak tenang. Pikirannya hanya tertuju pada lelakinya. Firasatnya mengatakan bahwa saat ini Edward tengah berada dalam kondisi bahaya.
Roland menarik tuas gigi dengan kaki menginjak gas, mobilnya mulai melaju melewati gundukkan salju yang menutupi badan jalan. Dia berusaha untuk tetap fokus, tetapi pemandangan indah di sampingnya, selalu mengalihkan perhatian tanpa sadar.
"Roland tolong berkonsentrasi, apa kamu mau kita berdua celaka?!" geram Rona melirik dengan ekor matanya.
Roland menyeringai seram, sudut matanya tertarik ke samping. "Ide yang bagus. Bila aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain pun tidak bisa! Mari kita mati bersama dan berakhir seperti kisah Romeo and Juliet."
Suara dengusan terdengar dari mulut Rona, dia melandaikan tubuhnya pada sandaran kursi dengan mata mencari sesuatu. Bibinya terangkat sebelah, dia melihat sebuah stik golf di atas kursi jok belakang. Rona mengambil alat olahraga tersebut lantas menghantamkannya ke arah kepala Roland. Roland memekik kaget.
"Apa-apaan kamu Rona?" Roland menginjak pedal rem, mobil berhenti seketika dengan suara decitan yang memekikkan telinga. "Kita bisa mati bersama karena ulahmu!" sentak Roland murka.
"Bukankah itu yang kamu inginkan barusan, Roland? Kita mati bersama!" Rona tersenyum sinis. "Ternyata bukan mulutmu saja yang besar, omonganmu juga!" sarkas Rona melecehkan.
Pria yang emosinya mulai tersulut, ingin sekali membalas perkataan wanita di sampingnya dengan menyambar bibir mungil itu lantas melumatt serta memagutnya, namun dia menyadari akan batasan yang harus dia jaga. Siapa dirinya dan siapa Rona.
Roland hanya bisa membuang napas kasar lalu kembali menginjak pedal gas dengan kedua tangan memutar kemudi. "Apa ini masih jauh, Kakak ipar?"
Rona menyipitkan matanya, memperhatikan daerah yang sedang dilalui. Kepalanya mengangguk, wajahnya menunduk. "Ini masih sangat jauh Roland. Kamu mengendarai mobil sudah seperti siput ... sangat-sangat lambat."
"Kalau aku mengemudikan dengan kencang, kita bukan sampai ke tempat suamimu. Tapi ke kamar jenazah!" sungut Roland tidak kalah kesal.
Rona melipat kedua tangannya di atas dada. Wajahnya memerah karena amarah. Terlebih saat Roland mengeluarkan kalimat yang membuatnya bertambah jengah.
"Kakak ipar tersayang... bukankah aku pernah bilang, jangan menyilangkan tanganmu di depan dada, itu sangat meresahkan kami kaum laki-laki," ujar Roland genit.
Ingatan Rona membuka memory saat Roland mengerjainya di dalam lift yang mati. Dia langsung menurunkan tangannya dan memalingkan muka menatap jendela yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Kenapa berhenti Roland?" tanya Rona karena laju mobil tiba-tiba mengendor lalu terdiam.
Roland menunjuk ke arah antrean mobil yang mengekor panjang. "Jalanan macet, Rona. Sepertinya terjadi sesuatu di depan sana."
Wanita yang sangat mengkhawatirkan suaminya, kini terisak karena tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia menggigit kuku-kukunya untuk meredakan kegusaran yang merasuk ke dalam jiwanya.
"Bagaimana ini Roland? Aku mohon cari cara lain. A- atau kita putar arah saja mencari jalan alternatif?" tanya Rona panik. "Ayo jawab aku Roland, jangan diam saja!" rengek Rona karena firasatnya semakin tidak enak.
Roland mencondongkan tubuhnya mengungkung Rona dengan tangan yang menempel di atas jendela mobil. Rona terhenyak, mulutnya langsung terbungkam.
"Aku akan mencari jalan lain, tapi please... berhenti mengoceh, karena itu membuatku sangat kesal Rona!" Roland mendekatkan wajahnya. "Kalau kamu masih saja berkicau ... jangan salahkan bila aku lupa diri lalu memakanmu tanpa ampun!" ancam Roland tidak main-main. Dia menarik tubuhnya dari hadapan Rona. Lalu memundurkan kendaraan memutar balik mencari jalan lain yang bisa dilewati.
"Huh... dia dan Edward sama-sama gila. Sama-sama membuat gila!" gumam Rona yang masih terdengar samar-samar suaranya.
Roland terkekeh mendengar perkataan seseorang yang duduk di sampingnya, lantas menyahut dengan suara bulat. "Kami berdua memang sama-sama gila. Karena itu kami tergila-gila dengan wanita yang sama."
"Edward... kamu harus baik-baik saja demi aku, demi anak kita...."
...***...
"Dingin... dingin..." keluh seorang pria yang berada di dalam mobil. Badannya mulai membeku, warna kulit membiru.
Tubuhnya sudah kehilangan tenaga, denyut nadi pun melemah. Kepala yang semula menegak, kini bergulir ke kiri. Matanya mengerjap perlahan lalu mengatup dengan rapat.
"Roland... itu mobil Edward." Tunjuk Rona pada mobil yang lampunya menyala.
Rona meminta Roland mempercepat deru mobilnya. Tidak sabar ingin memastikan kalau keadaan suaminya baik-baik saja. Roland menambah kecepatan kemudian menepikan mobilnya di belakang mobil Edward.
__ADS_1
Rona langsung melepas sit belt. Pintu terbuka, Rona berlari sekuat tenaga, melupakan kondisinya yang saat ini tengah berbadan dua. Roland yang melihat kakak iparnya berlari kencang, hanya bisa menyusul seraya berteriak lantang.
"Rona... hati-hati. Ingat kamu sedang hamil!" teriak Roland yang terdengar seperti suara bisikan angin. Rona terus berlari, matanya terkesiap mendapati Edward tergolek tak berdaya.
"Edward... Edward...!" panggil Rona menggedor jendela pintu mobil. Tidak ada jawaban ataupun sahutan karena saat ini Edward tengah kehilangan kesadaran akibat hiportemia.
Roland mendekat, dia ikut kelimpungan melihat Rona yang panik. Kedua tangannya mencengkeram pundak Rona lantas mengguncang-guncangkannya. "Rona... tolong kendalikan dirimu! Edward membutuhkan kita segera!"
Rona menganggukkan kepala seraya menghapus air mata yang menitik. Dia menarik napas, mengelola jiwa yang terbuncang.
"Pintunya tidak terkunci Rona!" pekik Roland memegang pintu mobil yang terbuka. Dia membungkukkan badan lalu menempelkan jari telunjuk di depan lubang hidung. "Edward masih hidup, dia masih bernapas!" ungkap Roland. Rona menghela lega dengan kedua tangan mengusap-usap dada. Lalu berjalan mengitari mobil, menghampiri adik iparnya.
"Tolong angkat Edward ke mobilku Roland, kita harus membawa suamiku ke Rumah Sakit," pinta Rona yang dibalas anggukan. Roland meraih tubuh Edward lantas membopongnya menuju mobil Rona. Sementara Rona mengambil semua barang-barang milik Edward serta kunci mobil yang menggantung di bawah stir. Dia menekan otomatic lock lalu berjalan cepat menuju kendaraannya.
Rona masuk ke dalam mobil dan duduk di samping suaminya. Dia membuka mantel miliknya untuk menutupi tubuh Edward yang berubah kaku karena rasa dingin.
"Edward... bertahanlah." Rona menggenggam tangan suaminya lalu menghembuskan napas hangat ke atas telapak tangan. Suhu tubuh Edward sangat dingin, wajahnya pucat pasi. "Ya Tuhan... kumohon jangan ambil suamiku," lirih Rona gelisah.
Rona menarik kain tebal yang menyelimuti badan suaminya lalu melucuti semua pakaian yang melekat. Dia mendekat lantas menutupi tubuhnya menggunakan mantel miliknya. Dari balik mantel, tangannya bergerak-gerak melepas semua pakaiannya. Rona merapatkan tubuh polosnya ke atas tubuh telanjangg sang suami. Menyalurkan suhu badannya yang hangat, berharap kondisi Edward membaik dan bisa terselamatkan.
Roland menatap dari celah spion. Dia menelan saliva, meski dia tidak bisa melihat tubuh telanjang Rona, namun melihat pakaian wanita itu berserakan, khayalannya melambung tinggi.
...*****...
...Telat lagi... mohon maaf ya......
...Ditambah hari ini agak lama proses review, tidak seperti biasanya 🙏...
__ADS_1