Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Selamat


__ADS_3

Tepuk tangan dan pekikan kebahagiaan orang-orang bergemuruh, diiringi tangisan yang berderai dari sepasang mata jernihnya. Pikirannya masih mengawang serta berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dia terus terisak dengan tangan yang sibuk menyeka setiap tetesan yang menggenang di pelupuk mata.


"Hey, kenapa menangis sayang. Apa kamu tidak bahagia?" tanya Edward yang melihat Rona berlinang air mata. Dia mengusap wajah basah sang istri kemudian menarik tubuh kecilnya ke dalam dekapannya.


"Apa aku sedang bermimpi, Edward?" Rona balik bertanya. Wajahnya menopang di atas pundak Edward dengan kedua tangan menjuntai.


Kepala Edward bergerak cepat. "Tidak sayang, ini bukan mimpi. Aku menyiapkan semua ini untukmu. Maafkan aku yang ingin memberi kejutan namun dengan cara yang menjengkelkan."


"Kamu memang menjengkelkan Edward. Pria paling menyebalkan yang pernah aku temui di dunia ini," sungut Rona dengan tangan dikepal menghentak-hentak dada suaminya. "Aku benci kamu, Edward. Benci...!" Rona terisak, Edward memeluk istrinya lebih erat.


Wanita yang tengah berbadan dua, sesenggukan di dalam dada bidang sang suami. Dia meraung-raung, mengekspresikan isi hati yang dia tahan berhari-hari.


"Hey... maaf. Apa kamu tidak ingin memaafkan suami menyebalkanmu ini?" Edward menarik kepala Rona lalu menatap wajahnya yang sembab. "Aku mencintaimu Rona, sangat. Kalau aku menyakitimu, itu sama saja aku menyakiti diri sendiri."


Rona masih saja bungkam, isak tangis belum juga reda. Hanya satu hal yang bisa menghentikan kesedihannya, dan Edward sangat tahu pasti.


Perlahan wajahnya mendekat, tatapannya menghangat. Sepasang manik mata menyatukan hasrat yang tersirat, membius netra mata yang mengembun. Dia menyatukan wajah, berbagi hembusan napas. Bibirnya merapat, mengecup lembut bibir merah wanitanya.


Dia merangkum wajah sang istri, memperdalam cumbuannya. Keduanya melepaskan kerinduan yang tak tertahankan. Semua orang bertepuk tangan dan bersorai bahagia menyaksikan ciuman sepasang pengantin yang bertambah intens, bertambah panas.


"Sedot terus... Bos!" pekik Feliks yang berdiri tepat di belakang Edward. Claire yang saat ini membersamai kekasihnya, dia menjimpit pinggang lelakinya.


"Jaga sikapmu, Feliks!" tegur Claire merasa malu karena mendengar ocehan kekasihnya.


"Kenapa Claire, kamu mau aku cium juga di depan orang-orang?" balas Feliks memasang wajah tengilnya. Claire mendelik dengan tangan bersidekap, dia melihat ke arah pasangan suami istri yang masih berciuman dengan tatapan mendamba.


Feliks menarik kasar lengan Claire, membawanya jauh dari keramaian. Tubuh Claire menghentak dinding. Kedua tangan Feliks menempel di samping, membatasi ruang gerak kekasihnya.


Tubuh Feliks merapat, wajahnya mendekat. Feliks menarik kedua tangan Claire lalu menguncinya di atas kepala. Tatapannya seolah menghipnotis mata gadisnya, yang langsung terkatup menantikan belaian penuh cinta dari bibir lelakinya.

__ADS_1


"I love you, Claire...," Tanpa menunggu jawaban, Feliks memagut begitu saja benda tipis milik sang kekasih. Benda yang kini menjadi candu, yang selalu dia bayangkan setiap waktu. Benda kenyal yang ingin dia lumatt dan dia sesap setiap saat.


Kelopak mata terpejam, Claire menikmati sapuan lembut bibir Feliks. Dia membuka bibirnya, lidah Feliks memasuki rongga mulut kekasihnya dengan leluasa. Menjelajah kemudian mengabsen setiap inci di dalamnya, mengitari tanpa ada satu pun yang terlewati. Keduanya saling membelit lidah, berbalas isapan dan bertukar ludah. Hingga napas keduanya sesak dan tersengal-sengal.


Sementara itu, Rona dan Edward tengah berdiri tegak menatap semua orang yang hadir pada acara peresmian Rumah Sakit. Sepatah dua patah kata, kini terucap dari bibir Rona.


"Terimakasih saya ucapkan untuk para investor, developer serta rekan-rekan sekalian. Tidak banyak yang ingin sampaikan, hanya ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya. Semoga kerja sama kita bisa terjalin tanpa ada hambatan yang berarti." Rona menjeda ucapannya, semua orang bertepuk tangan.


Rona melanjutkan sambutannya. " Dan terimakasih untuk suamiku tercinta. Terimakasih untuk kejutan yang sangat berharga ini. Aku tidak bisa berkata apapun lagi. I love you so much, my husband." Rona memeluk suaminya dengan perasaan yang mengharu biru.


Satu per satu tamu undangan menjabat tangan seraya memberikan selamat pada pemilik Rumah Sakit. Doa-doa tulus mengalir, semoga Rumah Sakit yang baru saja didirikan ini bisa bermanfaat bagi semua orang. Terutama bagi orang-orang yang hidupnya kurang beruntung.


Edward mempersilakan semua orang untuk mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Sementara mata Rona mencari sosok sahabatnya yang tiba-tiba menghilang dari peredaran.


"Kenapa masih di sini sayang? Ayo kita temani tamu-tamu kita," ajak Edward pada istrinya. Dia menarik lengan Rona, akan tetapi Rona bergeming. "Kamu mencari siapa, sayang?" Mata Edward turut berputar ke setiap sudut.


"Aku mencari Claire, anak itu ke mana ya?" lirih Rona khawatir. Dia hendak mengeluarkan ponsel untuk menghubungi sahabatnya itu, namun bola matanya menangkap sepasang kekasih yang sedang melepas dahaga rindu.


Rona mengerling, sorotan mata menajam. Alas sepatunya menginjak punggung kaki Edward dengan kencang. "Mulutmu itu sayang, sekali-kali harus disekolahkan!"


Edward meringis, mengusap-usap bagian kakinya yang sakit karena diinjak Rona. "Aku hanya bercanda sayang...."


Rona membalikkan badannya meninggalkan Edward menghampiri para tamu. Baru berjalan beberapa langkah, dia menubruk sesuatu. Lebih tepatnya seseorang.


"Selamat anakku..." ucap seseorang yang Rona rindukan. Rona terkejut bukan kepalang, dan untuk kesekian kalinya tangisnya pecah tanpa mampu dihentikan.


Edward yang mendengar Rona menangis, lekas-lekas mencari keberadaan istrinya. Dia tidak kalah terkejut, melihat sosok pria yang paling berharga dalam hidupnya.


"Papa...?" pekik Edward. Bagai anak kecil pada ayahnya, Edward berlari seraya menangis kemudian mendekap pria yang berdiri tersenyum ke arahnya. Laki-laki yang terkenal arogan dan mengesalkan, tetap saja bila di hadapan orang tuanya, hanya seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan belaian lembut.

__ADS_1


"Apa kamu tidak malu Edward, menangis seperti anak kecil?" tegur Richard pada putranya. Richard mengusap-usap punggung Edward, Edward mengeratkan pelukannya.


"Kenapa Papa tidak mengabari Edward kalau sudah siuman?" rengek Edward. "Seminggu yang lalu Om William bilang, kondisi Papa masih sama, tapi sekarang Papa ada di sini. Sehat dan bugar," ungkap Edward yang merasakan ada kejanggalan.


Richard terkekeh geli. "Berarti acting Papa bagus ya, hingga tidak ada seorang pun yang menyadarinya?"


"Rona tahu kok kalau sebenarnya Papa sudah sadar," sahut Rona yang muncul dari belakang punggung suaminya. "Waktu Rona terakhir mengunjungi Papa, Rona sudah tahu kalau Papa sudah siuman," tambah Rona.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" geram Edward mendengar penuturan istrinya.


Rona membelai punggung suaminya memberi pengertian. "Karena aku tahu, Papa pasti memiliki alasan kenapa merahasiakan semuanya dari kita, karena itu aku memilih bungkam dan turut merahasiakan kondisi Papa."


Richard bertepuk tangan, sebagai pujian untuk menantunya. "Berarti acting Papa kurang meyakinkan ya, Nak?"


Rona menggelengkan kepala. "Acting Papa sudah oke kok, cuman sayang...," Rona menjeda ucapannya.


"Namun sayang apa, Nak?" timpal Richard.


"Namun sayang... flow meter oksigennya yang tidak bisa diajak bekerja sama, Pa. Rona kan bisa membedakan ... mana flow meter yang bekerja, mana yang tidak," ungkap Rona seraya terkikik.


Richard menepuk keningnya menyadari kelalaiannya, kemudian terbahak. "Susah memang ya kalau mengelabui seorang Dokter!"


Rona turut tertawa demikian juga Edward. Meski sempat terlintas rasa kecewa di hati Edward, akan tetapi dia berusaha memahaminya. Yang terpenting untuknya saat ini, sang ayah bisa bertahan hidup dan berkumpul kembali dengannya.


...*****...


...Terimakasih banyak untuk dukungan teman-teman semuanya.💕...


...Mohon maaf kalau ceritanya tidak seperti yang diharapkan, karena ide cerita tidak selalu lancar setiap harinya. Apalagi kalau aktifitas di dunia nyata lumayan menyita 🙏...

__ADS_1


...Semoga masih bisa dinikmati ya jalan ceritanya......


__ADS_2