Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Tidak Waras


__ADS_3

Rona berjalan menuju lantai dua dengan wajah merengut, pandangan lurus seraya menghentakkan kakinya menaiki anak tangga. Dia benar-benar dibuat kesal oleh dua orang yang tidak tahu diri itu. Bisa-bisanya mereka mengungkit perihal Ezio, di saat mereka ada butuhnya.


"Dasar Roy stress!! Jessy sinting!! Awas saja kalau kalian macam-macam, aku cakar-cakar muka kalian!" gerutu Rona kesal. "Mereka benar-benar cocok. Yang satu gila dan yang satu lagi tidak waras," omel Rona sembari berjalan.


"Ibu hamil jangan marah-marah, nanti bayi di dalam perut ikutan marah," goda Claire yang menyusul Rona ke ruang perawatan.


"Bagaimana aku tidak marah coba? Si gila dan si sinting datang-datang membahas masalah anakku! Putraku!" geram Rona makan bawang. "Ingin rasanya aku colok mata mereka berdua. Benar-benar tidak tahu malu!" geramnya lagi.


Claire hanya terkekeh mendengar omelan sahabatnya itu. Dia menyejajarkan posisinya, berjalan di samping Rona lantas mengusap-usap bahu teman karibnya. "Tenang... kamu tidak usah khawatir. Ada Edward, ada aku juga. Aku tidak akan membiarkan cecunguk jantan dan betina itu mengusik kebahagiaanmu."


Rona menghela napas kemudian menghentikan langkahnya. Dia memutar badan dan kini berhadap-hadapan dengan sahabatnya. "Jujur... aku sangat khawatir, Claire. Aku benar-benar takut kalau mereka akan merampas Ezio dariku dan juga dari Edward. Kamu tahu sendiri kan bagaimana liciknya Jessy?"


"Hm... aku tahu bahkan sangat tahu, Rona. Tapi di sini kalian lebih berhak atas diri Ezio ketimbang mereka," ujar Claire tidak ingin sahabatnya menyerah.


"Kalau mereka mengajukan hak asuh Ezio melalui bantuan hukum, bagaimana? Aku yakin mereka akan melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka inginkan," sahut Rona berpikir jauh. "Aku maupun Edward sudah sangat menyayangi anak itu. Bahkan setelah fakta terkuak, rasa sayang kami pada Ezio tidaklah berkurang."


"Aku mengerti apa yang kamu khawatirkan, Rona. Kamu tidak sendiri. Banyak yang akan mendukung kalian," jawab Claire optimis.


"Terimakasih Claire... kamu memang sahabat terbaikku." Rona mendekap hangat tubuh sahabatnya lanjut berjalan ke arah ruang perawatan.


Sambil melangkah, mereka berbincang hal lain. Melupakan untuk sesaat masalah yang mengusik pikiran mereka. Masalah yang merusak suasana hati, yang semula buruk bertambah buruk.


Tidak terasa kini mereka telah sampai di tempat yang sangat tenang dan sepi. Di mana anak kecil yang lucu dan menggemaskan tengah terbaring lemah di atas ranjang pasien.


"Kenapa duduk di luar?" Rona menghempaskan tubuhnya di sebelah Edward sembari meredakan rasa lelah. Dia menyeka keringat di atas wajah lantas mendaratkan punggungnya pada sandaran kursi. "Kenapa diam saja?" tanya Rona menelisik raut Edward yang nampak datar.


"Edward!!" teriak Rona karena suaminya itu terus saja melamun. Edward terperanjat, hampir saja sebuah pukulan mengenai wajah Rona.

__ADS_1


"Ah... kenapa kamu mengagetkanku, Rona?" geram Edward. "Aku hampir memukulmu barusan." Edward menarik rambutnya ke belakang lantas menaruh kedua tangan di atas kepala.


"Aku dari tadi mengajakmu bicara, tapi kamu malah bengong," jawab Rona. Dia menarik wajah Edward lalu merangkumnya. "Ada yang sedang kamu pikirkan, hm...?" Rona menatap bola mata suaminya, mencari jawaban yang tersembunyi.


Edward menghalau tangan Rona lalu membuang muka. Menyimpan rasa amarah untuk dirinya sendiri. Rona melirik ke arah Claire, nampak sahabatnya itu pun bertanya-tanya akan sikap Edward yang tiba-tiba merajuk.


Claire menunjuk ke arah Edward menggunakan dagu yang ditarik ke atas. Sembari berkata tanpa suara. Sementara Rona yang tidak tahu apa-apa, hanya menarik pundaknya ke atas.


Rona tidak berani bertanya apa-apa lagi. Dia pikir lebih baik melihat kondisi sang anak dari pada menatap wajah muram suaminya. Terlebih Rona sendiri belum mengetahui kalau putranya itu sudah benar-benar terlepas dari maut dan kini telah sadarkan diri.


Rona bangkit dari atas bangku, dengan sedikit susah payah. Napasnya mulai terasa pendek dikarenakan perutnya yang semakin membesar. Usia kehamilannya pun saat ini telah memasuki trimester ketiga. Akan banyak perubahan yang dia rasakan dua bulan ke depan.


Sebelum memasuki ruangan, Rona mengintip dari balik jendela. Terlihat Richard dan Maria tengah berdiri di samping Ezio. Matanya menyipit memperhatikan wajah anak kecil yang dia sayangi dengan bola mata yang terbuka sempurna. Sontak saja Rona memekik karena rasa bahagia yang tiada terkira.


"Ezio...!" Rona menggedor-gedor kaca jendela berharap sang buah hati melihat ke arahnya. Ezio yang mendengar suara berisik dari arah jendela, langsung menoleh dan tersenyum bahagia.


"Papa sudah selesai... kamu pasti ingin menemui Ezio, kan?" tanya Richard pada menantunya.


"Iya Pa... Rona baru tahu kalau Ezio sudah siuman. Soalnya Edward tidak memberitahu Rona," balas Rona dengan nada suara yang dipertegas.


"Ya sudah... sana masuk. Temani Mamamu," titah Richard lalu menarik langkahnya ke arah di mana putra semata wayangnya duduk dengan wajah yang ditekuk.


"Terimakasih ya Pa..." balas Rona dengan sedikit berteriak. Dia bergegas masuk lalu mengenakan pakaian medis juga masker sebelum menghampiri Ezio.


Ezio menatap ke arah Rona. Dia tidak sabar untuk mendapatkan pelukan yang selalu membuatnya merasa menjadi anak yang kuat dan beruntung. Beruntung memiliki seorang ibu yang begitu lembut seperti Rona.


"Sayang..." panggil Rona mengelus-elus wajah putranya. "Ezio sudah bangun Nak? Ezio rindu ya sama Mommy?" tanya Rona menahan tangis. Dia mendekap tubuh putranya lalu memberondong wajah Ezio dengan kecupan-kecupan.

__ADS_1


"Mommy jangan menangis." Ezio menghapus air mata yang menitik di atas pipi ibunya. "Tadi Daddy menangis, sekarang Mommy. Berarti benar gara-gara Ezio nakal ya?" Ezio menangkup wajah Rona, memandangi wajah sang ibu tanpa jemu.


Rona menarik tangan Ezio lanjut menciuminya. "Tidak sayang... Mommy sama Daddy menangis itu karena bahagia. Bahagia bisa melihat kembali senyum Ezio yang sangat manis."


"Ezio memang manis, semanis Mommy and Daddy," seloroh Ezio pada ibunya.


Rona menjiwit kedua pipi Ezio gemas, sembari tertawa dengan air mata yang menggenang di balik kelopak mata. "Ezio benar-benar mirip sama Daddy... narsis!"


"Narsis itu apa Mommy?" tanya Ezio tidak mengerti.


Rona menggaruk kepala tidak gatal sambil melirik ke arah Maria yang tengah menertawakannya. Dia lupa kalau lawan bicaranya itu adalah anak kecil yang masih berumur 5 tahun.


"Em... narsis itu seperti yang Ezio katakan tadi. Memuji diri sendiri dengan penuh percaya diri," balas Rona bingung mencari kalimat yang tepat.


Ezio hanya menatap datar ke arah Rona. Terlihat anak kecil itu nampak berpikir, mencerna apa yang Rona jelaskan padanya.


"Oh begitu ya Mommy. Tapi kan senyum Ezio memang manis. Wajah Ezio juga tampan seperti Daddy. Iya kan, Oma?" tanya Ezio meminta pengakuan.


"Iya sayang... Ezio sangat tampan, Ezio sangat kuat seperti Daddy," sahut Maria mengusap-usap pucuk kepala sang cucu. Ezio tertawa senang, begitu pun juga dengan Maria.


Rona yang melihat kebahagiaan terpancar dari raut keduanya, berpura-pura turut bahagia dan menarik bibirnya dengan terpaksa. Meski dalam hati dia menyimpan kesedihan bercampur ketakutan.


"Bagaimana kalau suatu saat Mama tahu bahwa Ezio bukan darah daging Edward? Dan bagaimana juga bila kelak Ezio mengetahui rahasia besar ini? Aku tidak bisa membayangkan perasaan keduanya."


"Aku pun tidak mampu membayangkan, apabila suatu waktu, Roy merampas Ezio dari tanganku. Meski tidak tahu kapan, tapi cepat atau lambat laki-laki sialan itu akan mengungkapkan jati diri Ezio yang sebenarnya."


...*****...

__ADS_1


...Terimakasih banyak masih berkenan membaca Novel Dokter Rona and Hot Daddy. Mohon maaf bila 2 bab ini masih datar-datar saja ceritanya 🙈🙏🙏🙏...


__ADS_2