Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Richard's Wedding


__ADS_3

Hari ini adalah hari bersejarah untuk pasangan yang kini tak muda lagi. Hari di mana mereka akan mengucapkan janji suci pernikahan. Janji yang akan mengikat dua kehidupan menjadi satu atas nama Tuhan.


Namun apa pun itu, mereka memiliki hak yang sama untuk bahagia. Setelah cobaan hidup bertubi-tubi mendera serta kehilangan orang-orang dicintai dalam sekejap mata. Semua begitu menyakitkan dan menorehkan luka yang teramat dalam.


Seorang wanita paruh baya menatap pantulan wajahnya dari balik cermin dengan senyum tiada henti. Tidak pernah terbayangkan olehnya kalau dia akan mengenakan pakaian pengantin untuk kedua kalinya. Dia yang memang masih cantik, kini bertambah cantik dengan riasan di wajah dan senyum yang mengembang sempurna.


"Mama... cantik sekali," puji Leona pada calon ibu sambungnya. "Benar kan kak?" tanya Leona pada perempuan di sampingnya.


Rona mendekap pundak Maria dan menatap ke arah cermin sembari menjawab pertanyaan adik iparnya. "Sangat... Mama sangat cantik."


Maria menoleh ke arah Leona lalu menarik lengannya ke depan dada. Dia pun menoleh ke arah Rona dan menarik tangan kanannya dan ditumpukan ke atas tangan Leona. Maria menggenggam tangan kedua putrinya lanjut mengecup secara bergantian.


"Mama beruntung memiliki kalian berdua," ucap Maria haru.


Rona merapatkan wajahnya ke pipi Maria. Begitu pun juga dengan Leona. Ketiganya saling mendekat dan mendekap hangat. "Rona sayang sama Mama...."


"Leona juga sayang Mama..." sahut Leona tidak ingin kalah. Ketiga wanita cantik tersebut tertawa lepas dengan air mata yang menggenang sebagai ungkapan bahagia.


"Ehm..." deham seseorang di balik punggung. Ketiganya serempak menoleh ke belakang. Nampak Edward berdiri dengan gagah bersama Ezio di pangkuan. "Acara sudah mau dimulai, bawa Mama keluar sekarang...."


Rona dan Leona berdiri di samping Maria. Mereka mendampingi wanita cantik itu menuju altar suci. Menggandeng lengannya dan berjalan seiringan menuju ruangan pemberkatan.


Pintu gerbang dibuka, semua tamu undangan yang semula duduk dengan gelisah kini berdiri menyamping. Menyambut sang mempelai wanita dengan tepukan dan pujian akan parasnya yang elok.

__ADS_1


Suara orkestra diperdengarkan, buih-buih kertas putih menghujani derap langkah ke tiga wanita cantik tersebut. Kelopak mawar putih berhamburan di atas lantai. Menambah kesyahduan akan acara pernikahan yang diliputi kebahagiaan.


Seorang pria dewasa berdiri dengan setelan tuxedo berwarna abu muda. Saat ini, dia merasa seolah muda kembali. Menanti sang pujaan hati berjalan mendekati lalu menyambut uluran tangannya.


Rona dan Leona melepaskan genggamannya dari lengan Maria. Dan memberikan jemari lembut tersebut pada pria yang menatapnya tiada jemu.


"Kamu cantik sekali Maria..." puji Richard pada kecantikan calon istrinya. Dia menuntun tangan Maria dan menariknya untuk naik ke atas altar dan berdiri berdampingan dengannya.


Seorang pemimpin upacara pernikahan memulai acara demi acara. "Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan anda berdua. Saya persilakan anda masing-masing menjawab pertanyaan saya."


"Richard Liam, bersediakah anda menikah dengan Maria Elea dan mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun dalam duka?"


"Ya ... saya bersedia," jawab Richard yakin.


"Maria Elea, bersediakah anda menikah dengan Richard Liam dan mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun dalam duka?"


Richard tersenyum bahagia, begitu pun juga dengan Maria. Saat ini hanya tersisa satu langkah lagi, maka mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Dan kini tiba saatnya pada acara pemberkatan serta pengucapan janji suci pernikahan.


"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang. Pada waktu kelimpahan maupun kekurangan. Pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai. Sampai maut memisahkan kita," janji Richard pada sang istri.


Maria pun mengucapkan janji yang sama. Suaranya bergetar karena menahan tangis akan rasa haru bercampur bahagia. "Saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang. Pada waktu kelimpahan maupun kekurangan. Pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai. Sampai maut memisahkan kita."


Richard membuka veil yang menutupi paras cantik istrinya. Kini dia merasakan kembali sesuatu yang telah hilang dari dalam hidupnya. Senyuman tidak lepas dari kedua bibir keduanya. Netra mata saling beradu pandang, melepas gairah cinta yang sempat terkubur dan kini bersemi indah.

__ADS_1


Richard ingin sekali mengecup bibir istri barunya itu. Namun, dia terlalu malu untuk memulainya. Dia hanya memandangi benda tipis itu, meski dalam angan begitu menginginkan.


"Ayo Pa... jangan sungkan-sungkan," ledek Edward mendorong punggung Richard hingga lelaki itu menubruk tubuh sang istri. Maria seperti pengantin wanita pada umumnya. Dia menyembunyikan wajahnya dengan menekuk tengkuk, merunduk.


"Cium Pa... cium!!" teriak Leona dari kejauhan. "Ayo Pa... tidak usah malu-malu. Anggap saja Papa muda kembali," tambah Leona mengundang gelak tawa setiap orang.


Richard melihat ke arah Leona untuk beberapa saat lalu memandang ke arah Maria yang tertunduk malu. Dia menarik wajah sang istri dan menatapnya penuh cinta. Lalu melupakan status usianya yang saat ini sudah lebih dari setengah abad.


Dirangkumnya kedua pipi Maria, wajah Richard semakin mendekat. Sebuah kecupan mendarat begitu saja di atas bibir Maria. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak sorai. Turut bergembira atas kebahagiaan yang dirasakan oleh sepasang pengantin baru.


"I love you, Maria..." ucap Richard pada sang istri.


"I love you too, Richard..." balas Maria.


Richard menyematkan cincin nikah pada jari manis tangan kanan Maria. Lanjut Maria yang memasukkan cincin ke jari manis milik suaminya. Richard mengangkat tangan sang istri kemudian mengecupnya. Semua orang kembali bertepuk tangan. Serentak dengan kerlap-kerlip lampu blitz dari kamera para tamu yang menghadiri upacara pernikahan.


"Selamat ya Pa... selamat ya Ma...," Semua anak dan menantu memberikan ucapan selamat secara bergantian lalu mendekap penuh cinta.


"Mama berhak bahagia..." ujar Rona menghapus air mata yang menitik di atas pipi Maria. Maria mengangguk lantas merengkuh tubuh Rona seraya menangis tersedu. Dia tiba-tiba teringat akan putri semata wayangnya yang telah berpulang lebih dahulu.


Giliran Edward yang memeluk Maria dan mengungkapkan apa yang tersirat di dalam hatinya. "Selamat ya Ma... Edward tahu bagaimana Mama. Mama yang baik, Mama penuh kasih. Edward titipkan Papa pada Mama... karena Edward yakin, Papa akan menemukan kebahagiaan yang selama ini Tuhan renggut darinya."


Maria tidak menjawab perkataan Edward, rasa haru di dalam dada membuatnya hanya bisa menangis dan terisak. Dia memejamkan mata seolah merasakan kehadiran putri tunggalnya. "Marissa...."

__ADS_1


...*****...


...Terimakasih banyak untuk yang masih berkenan membaca Novel ini. Mohon maaf masih belum bisa maksimal. Ibu jari tangan kanan masih sakit, lumayan mengganggu proses pengetikan sama mengurangi fokus memikirkan ide cerita. 🙏...


__ADS_2