
Bagai tersambar petir di siang bolong, perkataan Edward begitu menyembilu kalbu. Dengan mudah dia mengucap kata maaf tanpa menyalami isi hati wanita yang telah dia teguk madu menyisakan ampas.
Rona mematung dan Edward melungsur, dia mengecup perut wanitanya lalu berkata, "Aku titip benih cintaku. Semoga bisa berkembang di dalam rahimmu!"
Benih cinta? Rahim? Bahkan keduanya tidak pernah terlintas di dalam benak Rona. Tidak terpikir sedikit pun olehnya memiliki anak dari seorang pemerkosa dan pria bejat seperti Edward. Tubuh Rona kembali bergetar karena isakan dan pikirannya sudah begitu jauh mengawang, meninggalkan raga yang kini nampak tak bertuan.
"Kamu tak ubahnya seperti penjahat kelamin, Edward!" geram Rona.
Edward terhenyak, mulutnya menganga. Dia pikir ungkapan cinta palsu mampu meredakan api amarah dalam hati gadisnya, namun prediksinya salah. Rona semakin membenci dengan segenap hati pria yang telah merenggut kesucian dan kehormatannya.
"Aku tidak sudi memiliki anak dari pria jahannam sepertimu!" pekik Rona dengan tatapan membunuh.
Edward tersentak dan mulai memeluk tubuh ringkih gadisnya. Namun Rona mendorong dada Edward sekuat tenaga, hingga badannya hampir terjungkal. Tersirat guratan kesedihan di wajah lelakinya. Akan tetapi, semburat kebencian tidak luluh dari wajah Rona.
"Aku benci kamu Edward, benci...!" pekik Rona dengan tangan meronta-ronta. Pria bejat itu terus mendekap, berusaha menenangkan wanitanya. Namun, tangisan Rona semakin kencang. Dia meraung-raung sembari menghentak-hentakkan kepalan ke dada Edward. Ungkapan kebencian terus mengalir dari bibir yang nampak pucat pudar.
Edward meraih mantel yang telah dia lempar tadi lalu menautkannya ke tubuh polos Rona dengan tangan gemetar. "Sekali lagi maafkan aku...."
Tidak ada jawaban, yang ada hanya sisa isakan. Edward merengkuh lalu membawa Rona keluar dari ruang sempit dan lembab. Dia membaringkan tubuh Rona di atas ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh wanitanya.
Rona membeku disertai tatapan dingin dan bibir mengatup. Edward mengecup kening Rona lalu turut merebahkan tubuhnya. Tangannya melingkar, memeluk wanitanya dari belakang dan membenamkan wajah sendu ke punggung Rona.
...***...
Malam panjang dilalui dengan perasaan kacau balau. Percintaan yang tidak diharapkan hanya menyisakan duka dan luka. Ungkapan cinta sekedar bualan untuk membuai perasaan, menyeret pikiran kosong menikmati surga dunia yang fana.
"Hai, kamu sudah bangun?" sapa Edward yang sedari tadi menatap wajah Rona.
Lagi-lagi tidak ada jawaban, Rona memalingkan wajahnya dan tetesan bening menitik dari sudut mata.
__ADS_1
"Kamu menangis?" tanya Edward yang mengusap airmata bergelayutan di bawah kelopak mata. "A- aku sudah menyiapkan ini semua untukmu. Ayo bangun, aku suapi!" Edward menarik nampan yang dia simpan di atas nakas. Namun, Rona tetap bergeming.
Edward bukanlah patung yang tak memiliki perasaan. Kelembutan hatinya hanya tertutup oleh ego dan gengsi. Hatinya mudah tersentuh. Namun, dia lawan dengan kebengisan yang pada akhirnya menggerogoti jiwa yang haus akan cinta.
Kesedihan menodai hidup yang seharusnya dijalani dengan kebahagiaan. Kekecewaan melerai rasa kasih dalam sanubari. Rasa bersalah memayungi hati yang gelisah semakin tak tentu arah. Tapi Edward tetaplah Edward, dia menyimpan kerapuhan berbalut kekuatan. Menutupi keputusasaan dengan petualangan bercinta tanpa cinta.
"Claire!" panggil Edward yang melihat gadis itu melintas di depan kamar. Dia berlari mendekati sahabat Rona. Namun, gadis itu menghindar.
"Claire, tunggu!" Teriakan Edward pada akhirnya menghentikan laju langkah Claire karena dia penasaran dengan apa yang akan laki-laki itu katakan.
"Tolong bujuk Rona untuk sarapan. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaannya. Namun, dia terus berdiam diri," ungkap Edward yang berjalan perlahan mendekati Claire.
"Stop, berhenti di situ. Tubuhku alergi bila berdekatan dengan pria bangka tak tahu malu seperti kamu!" bentak Claire tanpa menoleh.
"Aku tidak tahu sihir apa yang kamu punya hingga sahabatku bisa bertekuk lutut semudah ini. Tapi perlu kamu ingat sejengkal kamu menyakiti Rona, ribuan jengkal balasan dariku. Camkan itu!"
Edward menarik bibirnya ke salah satu sudut, dia menganggap perkataan Claire hanya gertakan semata. Tidak ada yang dia takutkan di dunia ini selain bila benar-benar terjadi jiwanya mencintai wanita lain selain istri tercinta. Dia takut mengkhianati janji yang telah diikrarkan, saat napas terakhir ditarik dari tubuh Marissa.
Gadis itu memutar tubuhnya dan melangkahkan kaki ke arah kamar Rona. Sementara Edward dia menuju ruang makan, mengisi perutnya yang tidak terisi dari kemarin siang.
...***...
"Rona..." lirih Claire. Tangannya merengkuh pundak sang sahabat yang tengah berbaring.
Rona membalikkan badan lalu langsung memeluk Claire, tangisan pecah tak terkendali. "Aku akan hancur, Claire! Aku hancur!"
"Kamu harus kuat Rona, jangan menyerah!" Claire membalas pelukan sahabatnya dan melontarkan kalimat-kalimat penguat.
"Bagaimana kalau akau hamil, apa kata orang tuaku?" tanya Rona di tengah isakan.
__ADS_1
"Tatap mataku Rona lalu dengarkan aku ... semua akan baik-baik saja. Semua hanya mimpi buruk. Saat kamu terbangun, semua akan sirna yang tertinggal hanya kebahagiaan tiada batas. Pegang kata-kataku!"
Rona menundukkan kepala, dia sudah tidak sanggup untuk menengadah dan menatap dunia. Baginya semua nampak menertawakan dan mencemooh. Bersenang-senang di tengah kegusaran hidupnya yang semakin tidak jelas dan di luar kendali.
"Hei...!" Claire menggenggam jemari Rona dan menepuk-nepuk dengan lembut. "Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu. Sahabat satu untuk selamanya...."
Senyum ceria tersirat dari dua sudut bibir Rona. Tatapan sendu berganti dengan binaran indah. Wajah yang menunduk perlahan menengadah, isakan berhenti, jiwa kembali kuat.
Di saat Rona dan Claire sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah luar. Rona mengerutkan kening dan Claire langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Untuk apa kamu di sini hah?" bentak Nath yang baru saja masuk ke dalam apartemen Rona.
"Dasar laki-laki pengecut, hanya mampu memanfaatkan kepolosan seorang gadis. Lebih baik kamu potong saja barang tak bergunamu itu. Yang hanya digunakan untuk memuaskan nafsuu dan syahwat. Merusak masa depan wanita tidak berdosa!" teriak Nath seraya menyerang Edward yang masih duduk santai.
"Apa kamu tidak tahu, sahabatmu tadi malam begitu menikmati permainanku?" tanya Edward. Dia mulai berdiri dan menantang Nath yang menatap calang.
"Apa maksudmu brengsekk?" Nath menghantam wajah Edward dengan kepalannya.
"Hahaha... semalam kami bercinta kembali dan Rona ... dia mendesahh, merintih, tubuhnya mengejang. Dia menikmati sentuhanku. Dan ...."
"Dan apa hah?" potong Nath yang sudah naik pitam mendengar omong kosong Edward.
"Kami melakukannya tanpa pengaman dan aku menghujani isi perutnya dengan cairann cinta. Hangat dan teramat nikmat."
Amarah Nath memuncak, dengan kepalan yang mengerat dia siap untuk menghabisi pria di hadapannya menggunakan tangannya sendiri. Dia sudah tidak memikirkan bila harus berurusan dengan hukum, yang terpenting bisa memberi pelajaran pada pria yang tak punya perasaan.
...******...
...Terimakasih semuanya yang telah berkenan membaca karyaku. Ditunggu dukungannya agar Author semakin semangat dengan memberikan like, comment, favorite, hadiah, vote ataupun rate 5 bintang....
__ADS_1
...Selamat malam dan selamat menikmati waktu istirahat....