
...Dalam dekapan napas yang bergulir dalam sebutir embun, kumengais jejak hitam tanpa bayang. Menembus sukma yang terangkat angan. Terdengar suara pekikan hati, meringis dan menangis. Berharap engkau selalu ada, dalam denyut nadi dan setiap aliran darah. Di antara jiwa yang terpenggal karena ketakutan jua kerinduan....
...*****...
Jam di dinding berputar tanpa jeda. Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu bagai sekejap mata. Kini hanya tersisa 1 detik menuju tengah malam. Wanita yang menanti kepulangan sang suami pada akhirnya terpejam di atas sofa dengan kaki meringkuk. Tubuhnya nampak lelah, dengan bulatan hitam di sekeliling mata.
"Sayang...," Edward membelai lembut pipi istrinya yang terlelap. Namun bidadari hatinya tidak sedikit pun tergoyahkan. Matanya mengatup rapat, tak ingin melepaskan mimpi indahnya.
Edward mengangkat tubuh Rona dan membawanya ke dalam kamar. Tubuh mungil dengan pipi yang sedikit membulat, dia rebahkan di atas ranjang. Edward duduk di tepi ranjang, menyibakkan anak rambut yang tergerai. Senyumnya mengembang, rasa lelah hilang.
"Sebentar ya sayang, aku ingin melihat Ezio." Edward membuka jas yang melekat di tubuhnya kemudian beranjak menuju kamar putranya, dia menutup pintu sepelan mungkin. Tidak ingin istrinya terbangun karena suara deritan daun pintu.
Rona yang berpura-pura tertidur, dia bangun lalu meraih jas yang menggantung di depan lemari dan menghirup aroma yang melekat di dalam pakaian milik suaminya. Rona mengendus bau parfum berbeda, seperti parfum milik perempuan.
Rona merogoh saku jas, mencari hal yang mencurigakan lainnya. Namun sayang dia tidak menemukan apa-apa, hanya sebuah kartu nama berwarna merah muda.
"Louisa Natalie." Rona membaca nama yang tertulis di atas kartu nama. Dia membolak-balikkan benda tipis tersebut lalu melemparnya. Rona merebahkan tubuhnya kasar, pikirannya begitu gusar.
Terdengar suara handle pintu ditarik, Rona memiringkan tubuhnya pura-pura tidur kembali. Edward berjalan menuju balkon kamarnya, nampak dia tengah berbincang dengan seseorang cukup lama.
"Apa kamu tidak akan tidur? Apa semalaman akan berdiri di sini?" Rona akhirnya beranjak dan menghampiri suaminya. Tubuh Edward menegang, kepalanya berputar ke sana ke mari.
"Ka-kamu terbangun Rona? Ti-tidur lagi yuk, tidak baik untuk calon bayi kita kalau Mommynya kurang istirahat." Edward merangkul pundak Rona mengajaknya ke dalam kamar. Sementara itu, tangan satunya menyembunyikan benda pipih ke dalam kantong celana.
"Kamu mandilah, bersihkan tubuhmu. Pakaianmu bau alkohol dan nikotin, aku mual menghirupnya." Rona menutupi hidung menggunakan telapak tangan, lalu membalikkan badan.
__ADS_1
Tanpa penolakan atau sanggahan, Edward masuk ke dalam kamar mandi lalu membasuh tubuhnya yang dipenuhi keringat bercampur aroma tak biasa. Dia sangat menikmati sentuhan air hangat di sekujur tubuhnya. Matanya terpejam, mengingat hari-hari berat demi akhir yang indah.
Sudah pukul 2 pagi, Edward masih saja terjaga. Dia terlihat memaksakan diri menatap rentetan huruf di layar komputer. Jemarinya sesekali menggosok mata yang terasa perih. Kopi hitam sudah habis tak bersisa, namun dia masih saja memijit setiap huruf dan setiap angka yang berada di atas keyboard.
Rona terbangun untuk kedua kalinya, tangannya merayap mencari tubuh kekar yang sangat dia rindukan. Namun yang tergapai oleh tangannya hanyalah sebuah bantal.
"Kenapa belum tidur, apa kamu sebuah robot yang bekerja 24 jam?" tanya Rona sarkas.
Edward lekas-lekas menutup laptopnya kemudian menoleh ke arah istrinya. "I-ini sudah selesai kok, sayang."
Rona melirik ke arah laptop yang tertutup namun mesinnya masih menyala. "Ada yang sedang kamu sembunyikan dariku, Edward? Ada yang tidak boleh aku ketahui?"
Edward gelagapan, dia bak seorang penjahat yang tengah diintrogasi. "Ti-tidak ada, ini hanya urusan pekerjaanku. Ini juga aku mau tidur."
Edward bangkit dari tempat duduknya, melewati Rona yang berdiri mematung begitu saja. Dia membaringkan badannya disusul sang istri. Edward tidur dengan posisi memunggungi Rona. Sementara Rona menatap kosong punggung lelakinya kemudian terisak. Edward menutup matanya mengabaikan suara tangisan yang terdengar lirih. Suara isakan hilang, mata Rona kembali terpejam.
...***...
Di masa peralihan dari musim gugur ke musim dingin, udara semakin terasa menusuk kulit. Wanita muda yang sedang menghadapi morning sick seorang diri, hatinya sangat tercabik. Tubuhnya sangat lemah. Rona melangsur di dalam kamar mandi dengan badan menggigil.
"Astaga... Kak Rona!" pekik Leona yang melihat kondisi kakak iparnya sangat mengkhawatirkan. Dia berteriak memanggil Roland untuk membantu mengangkat tubuh yang ringan tersebut ke atas ranjang.
Wajah pucat dengan bibir memutih, belum lagi bulatan hitam yang menghiasi mata, membuat Rona terlihat sangat menyedihkan. Leona beranjak ke kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya, meninggalkan Roland berdua dengan kakak iparnya.
Roland menatap iba ke arah Rona, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh iparnya. Tidak tahu dorongan dari mana, bibirnya mengecup kening Rona begitu saja. Leona yang berdiri di depan pintu tentu saja melihat adegan yang membuat hatinya tersayat dengan jelas. Namun kini dia menyadari satu hal, kenapa kakak iparnya itu begitu mudah dicintai. Itu karena ketulusan di dalam hati Rona, yang belum dimiliki olehnya.
__ADS_1
"Kak Roland?" panggil Leona menyodorkan ponselnya. "Bisa tolong kabari kakakku mengenai kondisi Kak Rona?"
Roland yang terkejut dengan keberadaan Leona di belakang punggungnya, dia merasa tidak enak hati pada istri kecilnya itu.
"Leona maaf, tadi aku...."
"Tidak apa-apa Kak," balas Leona. "Leona cukup sadar diri kok." Leona menyerahkan benda pipih ke tangan Roland, kemudian duduk di samping Rona. Dia mengusapkan minyak angin beraroma terapi ke atas perut dan punggung iparnya untuk mengurangi rasa mual.
Perlahan kesadaran Rona pulih, Leona mencecar wanita yang terbaring lesu dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Kak Edward kemana sih Kak? Ini baru juga jam 7 pagi. Tapi kakakku sudah tidak kelihatan batang hidungnya." Leona mengurut pelipis Rona meredakan kepala yang sebelumnya terasa berputar.
Rona menggeleng, tatapannya mengawang ke langit-langit kamar. "Aku juga tidak tahu, sudah satu minggu kakakmu seperti ini. Semalam aku mencium jas miliknya, ada aroma parfum wanita yang melekat."
"Tapi setahuku ... kak Edward bukan pria yang seperti itu Kak. Dia laki-laki paling setia dan bertanggung jawab yang Leona kenal," ungkap Leona dengan pandangan mengarah pada lelaki yang berdiri di depan pagar sembari memberikan kode.
" Tak tahulah ... hanya saja aku merasa kalau kakakmu itu tengah menyembunyikan sesuatu yang besar. Semoga saja dia tidak bermain api di belakangku. Karena kalau sampai itu terjadi, aku akan menebas aset miliknya hingga tak bersisa!"
Leona tesenyum kecut lalu membayangkan perkataan kakak iparnya. Bahunya bergidig, kepalanya menggeleng-geleng.
...*****...
...Nah loh Edward, jangan main-main sama Rona ya!...
...Terimakasih untuk semua dukungannya ya Kak....
__ADS_1
...Love you all 😘...