Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
PANAS MEMBARA


__ADS_3

...Biji matamu bagai permata yang berkilauan. Pipi ronamu, biasan dari merahnya rasa malu. Bibir merekah ingin kucumbu. Indahnya tubuh, akan kuteguk madu. Pusaran cinta membawaku pada rasa yang sulit aku pahami. Kusentuh dan kusesapi, penyatuan raga teriring suara merdu di antara decak parau dan lenguhan lirih. Kuhabiskan sarimu, kugantikan dengan saripatiku....


...*****...


Di dalam sebuah mobil mewah buatan Eropa, dengan jendela yang sedikit terbuka, dua raga yang telah terikat dengan janji suci pernikahan menghiasi sore hari dengan pergumulan sempurna. Mereka sudah tidak peduli meski suara-suara sumbang mencemooh atau menatap aneh ke arah kendaraan yang bergoyang-goyang.


"Bagaimana sayang, enak tidak?" Edward masih memainkan jari-jarinya seraya melirik ke arah wajah istrinya yang sendu. Rona menggigit ujung bibir menikmati setiap sensasi dari pergerakan di dalam kepemilikannya.


Sebelah tangan yang masih bebas bergerak, masuk ke dalam cup bra dan meremass seonggok daging padat. Dua jari Edward memelintir puncak payudara yang berdiri menantang. Rona memejamkan matanya, dengan pinggul yang bergoyang-goyang. Panggulnya terangkat, pelepasan memuncrat, Rona menjerit.


Edward sangat senang mengerjai istrinya terlebih saat bibir mungil itu memekik karena rasa nikmat oleh perbuatannya. Senyum nakal tersungging, wajahnya mendekat, lidah Edward menjulur mengitari areola dan titik kenikmatan yang selalu membuat tubuh Rona menggelinjang.


Dua daerah sensitif dimainkan habis-habisan, desahann semakin kencang dengan tangan yang mencengkeram sandaran kursi. Melihat bagian lengan yang putih dan mulus, ide nakal terbit dari otak Edward. Lidahnya beralih menjilati ketiak istrinya, kepala Rona bergerak-gerak tidak tahan akan rasa geli yang menjalar. Jeritan demi jeritan lolos, tangannya menggapai milik lelakinya yang sudah mengeras. Jemari lentik Rona meremass kuat, hingga pemiliknya mengerang karena rasa ngilu dan geli secara bersamaan.


"Rona... cengkeramanmu terlalu kuat sayang," keluh Edward meringis. Rona tidak peduli akan rengekan suaminya. Dia bangkit untuk membalas perlakukan Edward. Tangannya telah lihai membuka gesper dan menurunkan celana Edward hingga sebatas paha. Milik suaminya berdiri tegak tepat di depan bibir tipis Rona. Kepala Edward tengadah, kelopak mata terkulai saat mulut sang istri menghangatkan miliknya.


Edward terbuai dengan sesapan dan jilatan lembut. Tangannya mendorong kepala Rona memaksa istrinya menenggelamkan seluruh miliknya ke dalam rongga mulut. Rona yang kesusahan bernapas, dia menggigit tubuh inti milik suaminya. Erangan mengencang, Edward melonggarkan cengkeramannya.


"Kenapa kamu gigit?" tanya Edward dengan napas yang tersengal-sengal. Rona menarik salah satu sudut bibir dan melihat ke arah Edward dengan tatapan mengejek.

__ADS_1


"Suruh siapa buat aku gelagapan, kalau aku kehabisan napas terus mati, bagaimana?" Rona menyentil ujung bagian inti milik suaminya. Kedua mata Edward membola dia membalas dengan menarik puncak dada istrinya lalu memelintir dan menggesek-geseknya.


Edward membungkukkan badan, dia melepas pakaian istrinya lalu melemparnya ke sembarang arah. Begitupun juga dengan kain yang menutupi bagian sensitif, dia buka lalu dia sesap sejenak menikmati aroma tubuh istrinya yang menyatu dengan keringat.


Nampak kini gumpalan yang menyembul, naik turun karena tarikan napas tak teratur. Edward melahapnya dengan rakus, menggigit tipis bagian yang menegak. Bibir Rona melipat menahan jeritan sementara tangan Edward kembali asyik dengan area in-tim yang paling dia sukai.


"Ah... milikmu sudah basah kembali sayang." Wajah Edward beralih pada gundukan yang belum terjamah. Dia memasukkan titik inti payudara ke dalam mulutnya, menyesap dengan kuat diselingi jilatan dan gigitan. Tubuh Rona seakan tersengat, kepala tertarik ke atas. Tangannya meremass kasar rambut Edward.


"Aku sudah tidak tahan, please... mulailah sekarang!" Rona membuka kedua kaki, tangan Edward mengangkat tubuh Rona.


"Kamu di atas." Edward mendaratkan tubuh Rona dia atas kepemilikannya. Benda tumpul melesak tanpa hambatan, kedua tangan bertumpu pada sepasang dada, Rona menjalankan aksinya.


"Faster, baby..." racau Edward. Rona menambah tempo goyangannya, panggul bergerak ke atas ke bawah. Miliknya semakin lembab, sari madu miliknya menetes ke atas paha suaminya.


Edward bangkit, memutar tubuh Rona dengan posisi memunggunginya. Panggul di tarik ke atas, kedua kaki terbuka lebar. Edward memasuki tubuh istrinya dari arah belakang. Rona mendongak, bibirnya melipat. Edward menaruh tangannya di atas pundak Rona, kembali memutar-mutar miliknya diiringi hentakan-hentakan buas.


Wanita yang tengah dia beri kenikmatan, berkali-kali mendapatkan pelepasan. Bibirnya tiada henti mengeluarkan suara sensual. Edward memacu benda kebanggaannya semakin cepat dan bertambah dahsyat.


Mobil turut bergoyang-goyang, untung saja tidak banyak orang yang berlalu lalang. Hanya ada petugas parkir yang melintas. Mereka nampak masa bodoh akan apa yang terjadi di dalam kendaraan roda empat, yang berguncang mengikuti gerakan-gerakan erotis pemiliknya. Di negara mereka, sudah bukan hal tabu bersetubuh di sembarang tempat. Bahkan Edward sudah merencanakan pergumulan panas di pesisir pantai dengan pasir putih yang membentang luas.

__ADS_1


"Ah..." desah Rona. Dia menoleh ke arah Edward yang sangat bersemangat memompa tubuhnya. Keringat menetes dari balik pori-pori. Rona merasakan perih dan panas di bagian area inti karena gesekan tanpa jeda dari milik suaminya yang perkasa. Sudah satu jam berlalu, namun benda yang keras itu belum juga melunak.


"Aku ingin memuaskanmu sayang. Kamu jangan meminta dipuaskan sama Feliks, aku tidak akan rela!" Perkataan Edward membuat Rona menahan tawa. Edward yang sadar kalau dia ditertawakan istrinya, menusuk milik Rona tanpa ampun. Punggung Rona menegang, cairan miliknya membanjiri pangkal paha. Dan menetes ke atas jok mobil.


"Milikmu kesukaanku sayang, jadi jangan khawatir. Aku tidak akan mencari kesenangan dengan pria lain di luaran sana!" Napas Rona tersengal. Edward menarik pundak sang istri. Pahanya bergerak maju mundur tiada henti, Rona melenguh dan merintih.


"Ah... a-aku mau keluar," tambah Rona. Pinggangnya menggelinjang, Edward terus memompa kepemilikan istrinya. Sudah sepuluh kali Rona mendapat puncak birahinya. Kini tiba saatnya Edward menyambut gelenyar aneh yang meresap ke dalam urat nadi. Gerakannya semakin cepat, Rona merauh sedangkan Edward mengaduh.


Tangannya menampar bongkahan tubuh Rona bagian belakang, di atas bokong yang putih tercetak cap lima jari dari telapak tangan Edward.


"Im comming, honey..." pekik Edward menyentakkan miliknya dengan tangan menjerat leher sang istri. Puncak kenikmatan yang didapatkan membasahi uterus milik istrinya yang tidak pernah kekeringan.


Tubuh ringkih ambruk, Edward membalikkan badan Rona. Tangannya mengelus lembut pucuk kepala lalu meyibakkan anak rambut yang menutupi wajah kemudian menatanya ke belakang telinga.


"Terimakasih sayang... maafkan suamimu yang gila sek-s ini!" Aku mencintaimu, sekarang dan sampai kapan pun." Edward mengecup kening Rona lalu menutupi tubuh polos istrinya menggunakan jas yang menggantung di dalam mobil.


...*****...


...Panas...panas... panas......

__ADS_1


...Terimakasih untuk semua dukungan teman-temab semua. Sehat selalu ya Kak......


__ADS_2