Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Pemandangan yang indah dipagi hari


__ADS_3

“Jangan selalu meminta maaf atas nama putrimu, kau cukup didik dan buat dirinya tak melakukan hal fatal kembali, karena itu menjadi tugasmu sebagai seorang ayah yang dipisahkan oleh putri kandungnya. Paham dengan semua yang kukatakan ini, Bas!”


Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa membalas ucapan yang akan dilontarkan oleh sahabatnya itu, ia pun dengan cepat mematikan panggilan itu secara sepihak, sembari menyalakan dan mengarahkan mobil Buggati La Voiture Noire yang sedang dikemudikannya, menuju tempat sederhana milik sang ayah tercinta.


Mengingat ia sendiri masih teringat dengan pesan dari mendiang wanita dicintainya, untuk memberi sebuah surat yang sengaja ditinggalkan, agar bayi mungilnya itu bisa membaca surat tersebut.


*


*


*


Sementara itu di sisi lain, dengan David Dominic Pomi saat ini dirinya, sedang mengarahkan mobil menuju rumah milik seseorang yang sedang duduk disampingnya, pertemuan singkat itu secara tak sengaja ketika pria itu melihat seseorang yang hendak dilecehkan, dan kebetulan saat itu ia sendiri akan mengarahkan mobilnya ke tempat seperti biasa. Namun, pertemuan itu secara tak sengaja membuat ia tak tega dengan gadis tersebut, sehingga mau tak mau terpaksa pria itu pun menolong, untuk membuat gadis itu tak lain Asyifa merasa bersyukur bisa bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba datang menolong.


“Berapa lama kita akan sampai di alamat rumahmu?” David yang sedang mengemudikan mobilnya, memecahkan kesunyian karena ia merasa gadis itu masih takut, dengan kejadian yang baru saja menimpanya.


“Lurus saja dulu, Om ... nanti di sana ada pertigaan arahkan mobilku, untuk berbelok ke kanan.” Asyifa menitah dengan raut wajah yang terlihat ketakutan, karena kejadian yang menimpanya masih membekas diingatan gadis tersebut.


Meskipun nyatanya pria itu mau mengantarkan dirinya, ke tempat untuk membeli beberapa novel kesukaannya, tapi tetap saja tak bisa membuat gadis itu tersenyum karena rasa takut itu terus datang.


Dikarenakan biasanya, sang sahabat yang selalu datang menolongnya, tapi beberapa hari ini ia sama sekali tak mendapat kabar apa pun, dari sahabatnya yang selalu hilang tanpa kabar.


Begitu si pengemudi membelokkan mobilnya, di pertigaan yang dimaksud tanpa membuang waktu banyak, ia segera memberi titah untuk menghentikan mobil tersebut, karena telah sampai di tempat tujuan. “Stop, Om!”


Lalu melanjutkan kembali ucapan yang dilontarkan itu, “aku turun di sini saja dan terima kasih banyak, sudah mau mengantarku dengan selamat sampai jumpa kembali!”


Hal tersebut membuat pria yang mengantarkannya enggan melepaskan gadis itu, dengan bersikukuh mengantar sekaligus merasa bahwa —


“Tunggu! Apa kau tak ingin mengajakku mampir terlebih dulu, karena aku tak yakin dengan kondisimu sekarang?” David sedang bernegoisasi, tapi Asyifa justru menolak negosiasi dari pria itu.


“Lain kali saja ya, Om. Bukan karena tak bisa diajak negosiasi denganmu, tapi itu –” tolak Asyifa dengan menjeda kalimat yang sedang dilontarkan itu, tak lupa ia menggumamkan kata maaf untuk pria yang menolongnya. “Sekali lagi maaf sudah merepotkanmu, karena kau tiba-tiba datang menolongku, Om.”


Tanpa mendebatkan hal yang tak begitu penting, dengan terpaksa David kembali mengarahkan mobil yang dikemudikannya, ke tempat seperti biasa ia bertemu dengan seseorang.


Akan tetapi, ia tiba-tiba tak bisa berfokus saat sedang mengemudikan mobilnya, dikarenakan dirinya teringat raut wajah marah dan menggemaskan dari pandangan mata pria itu.


S!alan! Ada apa denganku? Mengapa wajahnya mengusik pikiranku? Andai saja gadis itu seperti, tapi itu rasanya tak mungkin, karena mereka tak akan sama, tetap saja wajahnya membuatku tak bisa berkonsentrasi saja.


Terpaksa ia menepikan mobil yang sedang dikemudikannya, lalu pikiran dan hatinya tengah menerawang kejadian sebelum mereka bertemu, karena saat itu sedang mengarahkan mobil yang juga ketika itu dirinya melihat gadis itu hampir mendapat pelecehan.


“Jangan pernah mencampuri urusan kami,” hardik salah satu dari orang yang akan melancarkan aksinya, tapi terkejut melihat kedatangannya secara tiba-tiba.

__ADS_1


David tak mengidahkan peringatan dari orang itu, dengan terpaksa ia meladeni orang-orang yang hampir saja, melecehkan seorang gadis yang tak dikenal oleh dirinya sampai membuat, para preman lari terbirit-birit karena tak dapat menumbang sang musuh.


Menghampiri gadis itu yang masih ketakutan, dengan menanyakan maksud tujuannya melewati tempat, yang ternyata berisi pakalangan preman-preman itu.


“Lain kali jangan lewat tempat seperti ini, atau kau akan mengalami nasib yang fatal.” David menitah, tak lupa mengulurkan tangannya, untuk membantu gadis itu berdiri.


“Terima kasih, Om. Maaf sudah membuatmu repot,” ucapnya sembari menerima uluran tangan, yang sedang membantunya berdiri.


Apakah aku setua itu? Mengapa dia memanggilku, Om? Bahkan usiaku hanya berjarak beberapa tahun dengan Ara, gadis yang saat ini mengisi hatiku tapi untuk dia ya sudahlah ....


“Kau mau ke arah mana?” menanyainya sekaligus menekan ego, karena panggilan dari gadis yang belum tahu namanya itu.


“Sebenarnya aku tadi itu mau mampir ke toko buku, Om. Ada apa dan kenapa memangnya?” Asyifa membalik pertanyaan.


“Ke toko buku arah mana? Lalu mengapa juga kau harus melewati jalan ini?” todongnya penuh selidik.


“Hanya jalan ini satu-satunya yang bisa kuakses, Om,” jawab Asyifa, yang kemudian ia pun memperkenalkan diri kepada pria itu. “Terima kasih, dan kenalkan aku Asyifa, Om.”


“David.” Singkat padat jelas, dan membuat gadis itu mengerti, jika pria yang menolongnya itu enggan memperkenalkan diri.


Tiba-tiba saja pria itu mendengar perutnya yang berbunyi, dan membuat pria itu merasa lucu dengan raut wajah merona dari gadis yang ditolongnya.


“Setelah aku mengantarmu menemukan buku yang kau cari, bisakah untuk menemaniku makan malam? Sebagai ganti karena telah menolongmu dari preman-preman itu.”


Hal tersebut menarik perhatian dari pria yang sedang menyesap kopi hitamnya. “Pelan-pelan saja membuka plastikan itu, nanti bisa-bisa buku yang kau baca malah robek.”


Tanpa memedulikannya, gadis itu justru langsung membaca sebuah novel, yang berhasil membuatnya membeli novel tersebut, dikarenakan edisi yang sangat terbatas sampai-sampai, ia merasa tak mendapat balasan dari Asyifa yang terlihat begitu serius membacanya.


Dari judul yang sedikit dibaca oleh pria itu, membuat merasa heran dengan judul buku tersebut.


Istriku Penutup Aib. Apakah itu bagus menurutnya? Mengapa dia terlihat serius begitu, hm!


Akan tetapi, ia tiba-tiba mendapati raut wajah marah dari Asyifa, yang mana membuatnya terlihat bingung, karena tak mengerti dengan permasalahan gadis tersebut. “Kenapa dengan wajahmu?”


“Maaf, Om. Aku tak bermaksud marah denganmu, tapi karena ini coba kau baca sedikit saja.” Lalu Asyifa menyodorkan buku yang membuatnya marah, dengan memberikan sedikit halaman yang sedang dibaca.


Berselang itu David pun membaca halaman yang ditunjuk oleh gadis tersebut.


“Kau terlalu bodoh, Cha. Mengapa kau tak mengatakan perasaanmu dengan pria itu? Lagipula apa kau tak tahu, aku masuk ke dalam kehidupan istriku untuk menyembuhkan luka hati, ditorehkan dari pria yang kau cintai diam-diam.” Brian menegaskan bahwa dirinya masuk ke dalam, kehidupan pribadi istrinya bermaksud untuk itu.


“Jadi —”

__ADS_1


“Sudahlah, Cha. Aku malas berdebat denganmu, dan suka atau tidak baik dulu, mau pun sekarang dia yang sebut wanita mandul adalah iparmu, dan segera bawa keluar wanita itu dari ruanganku!” menyela perkataan sang adik, tak lupa ia juga mengusirnya dengan menyuruh Marissa membawa wanita yang diam-diam tak bersuara. Namun, dirinya tak dapat dibodohi karena wanita berusaha membuka suara, tapi tak berani berhadapan langsung dengannya. “Aku harap ini terakhir kali melihat wajahku, dan jika aku menemukan dia berkeliaran sendiri ke kantor. Bersiaplah dengan hukuman yang menantimu itu, Cha.”


“Bagaimana, Om?” tanya Asyifa, masih dengan raut wajah yang sama.


“Menurutku yang kau baca ada benarnya juga sih, tapi mengapa kau harus menampilkan raut wajah seperti itu?” jawab David, sembari membalik pertanyaan.


“Jelas saja aku marah, karena sudah menjadi iparnya, masih saja tak mau kehadirannya.” Asyifa ingin sekali merobek novel yang baru saja dibeli, tapi itu tak mungkin karena ia membelinya dengan hasil tabungan yang selama ini dikumpulkan itu.


“Sudah-sudah, jangan lagi menampilkan raut wajah seperti itu ya, ayo aku akan mengantarmu pulang. Aku yakin kau masih takut dengan kejadian yang menimpamu.”


Malam yang begitu sangat larut dan sunyi, tak membuat David Dominic Pomi takut dengan keadaan sekitar, dikarenakan tak kuat dengan wajah dari gadis yang ia tolong itu, terpaksalah dirinya menghubungi anak buah yang bertugas untuk menggantikan posisi yang sedang mengarah ke tempat tersebut.


*


*


*


Pemandangan pagi hari yang cerah, membuat seorang anak lelaki tersenyum simpul, ketika ia tengah terbangun dari tidurnya dan dikejutkan dengan, dua orang yang sedang berpelukan mesra dengan posisi terlelap masing-masing.


Sejak kapan Dady tidur di kamarku? Kenapa kakak cantik yang bisa dipeluk dengan Dady? Apa tak takut ketahuan oma dan opa? Andai saja momy masih ada, aku tak mungkin mengharapkan pemandangan seperti ini. Aku memang membencimu Dad, tapi aku juga tetap mencintaimu.


.


.


.


.


Seperti biasa ya jangan tanya aku kapan si MC disatukan


Yang jelas ada dalang didalam penyatuan cinta mereka


Ada bab terselubung dan aku ambil dari paizo


Penasaran?


Langsung saja ke sana sendiri


Terima kasih yang sudah setia menunggu mereka bersatu

__ADS_1



__ADS_2