
Citra yang selesai membersihkan diri berjalan tertatih-tatih karena bagian intinya masih merasakan perih akibat perbuatan pria tersebut, yang membuat dirinya bersumpah tak akan pernah melihat wajah pria telah merenggut harta berharganya.
Pakaian yang dikenakan itu telah terkoyak bahkan tanpa tersisa apa pun dan membuat gadis tersebut, mengenakan kemeja kebesarannya tanpa memedulikan sebuah benda teronggok di lantai.
Menyambar sebuah tas yang diletakkan di atas nakas dengan jemarinya mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang yang selama ini menjadi sahabat karibnya sejak dulu kala.
Hanya berselang beberapa menit kemudian terdengar suara serak khas orang bangun tidur, dengan menahan tangisnya gadis itu meminta bantuan sang sahabat untuk segera pergi, dari tempatnya menghabiskan malam dengan pria bajingan seperti bujang lapuk itu.
“Jangan kemana-mana aku akan ke sana dan lima belas menit aku sampai. Oke!”
“Terima kasih dan maaf telah merepotkanmu.” Suara isak terdengar begitu lirih saat gadis itu menggumam kata sesal, serta terima kasih kepada sahabatnya yang sudi kira mau menjemputnya.
“Aku tutup dulu dan berpamitan dengan papaku. Kau tahu sendiri bukan? Kehidupanku seperti apa tanpa ada beliau di sisiku?”
“Ya sudah hati-hati.”
Panggilan itu terputus dengan seseorang dari arah seberang mematikannya dan Citra harus lebih bersabar menunggu kedatangan sang sahabat yang akan menjemputnya.
Apa yang harus kulakukan? Bagaimana nanti aku ha … mil? Apa yang harus kuakui kepada ibu dan bapak?
Air matanya kembali mengalir dengan sendiri karena merasa telah menjadi kotor dan hatinya begitu rapuh saat sebuah harta benda direnggut secara paksa.
Tak lama kemudian Citra telah di jemput oleh seorang gadis yang sebaya dengannya sambil merengkuh tubuh rapuh, tanpa menghujamkan banyak pertanyaan karena saat ini hanya ketenangan batin yang dibutuhkan oleh dirinya.
“Sudah merasa baikkan?” Suara gadis disamping Citra memecahkan kesunyian, setelah mobil yang ditumpangi mereka membelah jalanan sepi.
“Maaf sudah merepotkanmu dan aku sendiri pun tidak tahu harus menghubungi siapa … karena di tempat ini aku merasa sendiri.”
“Jangan begitulah, Cit … masih ada aku yang akan selalu menemanimu,” ujar gadis itu dengan sendu.
Biar bagaimanapun hanya Citra yang menganggap sebagai sahabat sejati selain dua sahabat pria-nya.
“Kau tidak lagi mengekor sahabatmu seperti keong?”
“Astaga, Citra … aku sudah tidak lagi bertemu dengan mereka … lagipula mengapa kau menanyakan hal ini kepadaku?”
“Aku pikir kau menyukai sa ….
__ADS_1
Gadis itu berdecak kesal dengan pemikirannya yang menyukai salah satu dari sahabat pria-nya dan ternyata dia, salah menduga bahwa sang sahabat mengira dia menyukai kedua pria yang sedang diobrolkan.
“Cit, meskipun dulu saat di bangku SMA kita dekat bukan berarti aku menaruh hati pada salah satu dari mereka … kau salah besar mengira aku menyukainya, terutama si kulkas aku mana pernah menyukai dia. Jadi, hentikan pemikiranmu tentang kami bertiga.”
“Maaf.”
“I'ts oke … ngomong-ngomong mengapa kau bisa ada di tempat seperti itu? Lalu bagaimana dengan kuliah susulan yang sedang kau jalani? Apa ada yang suka membullymu?” todong gadis itu penuh selidik.
Citra tergelak ketika dirinya mendengar nada cemas di dalam diri sahabatnya ini. “semuanya masih sama saat kita duduk di bangku SMA … namun, kau pasti terkejut mendengar cerita yang ingin kubagi.”
Ivone begitu menikmati sebuah cerita yang sedang dibagikan oleh sang sahabat dan tak lupa gadis itu kembali bertanya tentang kejadian yang menimpa sahabatnya.
“Lalu apa yang terjadi kepadamu, Cit? Maukah kau membaginya denganku?”
Citra tak kuasa menahan tangis di dalam mobil yang sedang ditumpanginya dengan memeluk tubuh sang sahabat dan mencurahkan semua perasaan kalut yang tengah melanda dirinya.
“Aku harus bagaimana, Vone? Pekerjaanku dan semuanya telah hancur sia-sia karena tubuh ini begitu kotor.”
“Sudah-sudah jangan kau pikirkan ke depannya ada aku yang akan selalu menemanimu … nanti aku akan meminta bantuan adik angkatku untuk menyembunyikan identitasmu dan sedikit, menghilangkan aroma di tubuhmu agar tidak ada seorang pun yang bisa menembusnya … kau tidak keberatan bukan?”
“Kau memakai cara yang ekstrim, Von? Aku justru takut bertemu dengan salah satu adik angkatmu.” Orang yang dimaksud oleh Citra salah dari adik angkatnya yang terkenal datar dan dingin. “bahkan aku sendiri disini bertemu orang yang sifat dan sikapnya sama dengan adikmu itu.”
“Lalu apakah mereka berhasil ….
“Ya, Cit … apa yang akan kau tanyakan benar … mereka telah berhasil mengalahkannya.” Raut wajah gadis itu begitu sendu saat orang yang sedang diobrolkan, ada hubungannya dengan seorang wanita yang telah melahirkannya ke dunia. “bahkan aku tak sempat melihat wajah terakhir sebelum menghilang.”
Kedua gadis itu saling berpelukan erat dan tak lupa mereka juga menumpahkan air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya.
“Jangan bersedih ya, Von … doakan saja beliau tenang di sana … tugasmu di sini masih panjang.”
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi tiba di sebuah apartemen milih sang seorang gadis sedang membawa sahabatnya.
“Untuk sementara waktu kau akan aman di sini, Cit … tidak apa-apa bukan kau tinggal di tempatku?”
Yang mendapat anggukan kepala dan tanpa memprotes karena tujuan Citra untuk menghilangkan diri dari seorang pria telah merenggut harta berharganya.
Mata gadis itu menatap ke arah sang sahabat yang sedang menempelkan benda pipih berlogo apel digigit seperti tengah berbicara dengan seseorang dari arah seberang.
__ADS_1
“Ayolah tolonglah aku, Sa … apa bisa kamu melakukannya?”
Terdengar dengkusan kesal dari nada sang sahabat yang sedang bernegoisasi.
“Aku tidak punya nomor ponselnya, Sa. Bukankah kau bisa melakukan hal di luar nalar dengannya? Kumohon, Sa!”
Sekitar lima belas menit mereka mengobrol dengan sang sahabat yang mematikan, panggilan tersebut setelah mengucap terima kasih pada seseorang dari arah seberang.
“Maafkan sudah membuatmu menunggu, Cit … yang kutelepon tadi itu Alexa … sebab aku ingin meminta bantuan langsung dengannya.”
“Seharusnya aku yang berbicara seperti itu, Von … tanpa kau aku mungkin tidak akan bisa lari dari ….”
“Jangan di ingat lagi karena aku akan selalu ada di sisimu … nanti kau bisa bekerja di tempat kantor milik papaku.”
Ivone juga mengizinkan sang sahabat bekerja di kantor milik papanya karena gadis itu sama sekali tak pernah bergelut dengan berkas-berkas yang membuat kepala sakit.
“Sekali lagi, Von ….
“Jaga dirimu baik-baik selama di sini … kabari aku jika terjadi sesuatu denganmu … tak apa bukan aku meninggalkanmu sendirian di apartemenku?”
Setelahnya Citra tak melihat punggung sang sahabat yang menghilang dibalik pintu lift karena tempat ini menjadi saksi dirinya mengubah kehidupan yang direnggut menjadi sesosok begitu dingin dan menutup hati untuk seorang pria berusaha mendekatinya.
*
*
*
“Nona muda gawat!” lapor salah satu dari mata-mata yang bertugas melindungi tuan muda tak lain Morgan.
“Ada apa?”
“Tuan Muda Morgan baru saja melakukan sesuatu, nona,” sahutnya berhati-hati dalam bertutur kata.
“Apa maksudmu dan jelaskan apa yang ingin kau laporkan!” desak gadis itu dengan tidak sabar.
Begitu hati-hati membuat laporan ketika ia menyerahkan sebuah laptop dan menunjukkan rekaman atas kejadian menimpa Tuan Muda Morgan Gayatri Smith.
__ADS_1
“See, hal inikah yang ingin kau laporkan kepadaku?”
“Maafkan kelalaian kami, nona.”