
Astaga apa-apaan dia! Kenapa aku merasa kalah saing, dengan penampilan darinya? Bahkan sekarang malah menjadi, pusat perhatian karyawan butik di sana. Sungguh sial sekali aku!
Tak ingin membuang waktu, Rewindra menghampiri gadis tersebut, tidak lupa dia menanyakan tujuan dari pertemuan ini. “Apa tujuanmu bertemu denganku? Tidak biasanya kau, mau meluangkan waktumu!”
“Kenapa harus menanyakan hal yang tidak penting, Pak? Seharusnya Anda paham apa tujuan saya sekarang!”
Tidak terlalu menyukai panggilan 'pakʼ yang diselipkan oleh calonnya itu, membuat Rewindra mendengkus kesal. Entah mengapa dia begitu benci mendengarnya.
“Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan seperti itu, Hon?” pinta duda casanova itu, tapi ternyata sang calon enggan memenuhi permintaannya.
“Karena panggilan itu lebih cocok untukmu, Pak.” Begitu selesai mengatakan hal tersebut, dia menganyunkan langkah kaki.
Memasuki butik yang telah mulai ramai bisik-bisik dengan kedatangannya, sebab bukan itu saja yang membuat butik itu ramai bahan gosip beredar tentangnya. Namun, kedatangan seseorang yang mulai menarik perhatiaan gadis tersebut.
Permaisuri dari sebuah kerajaan tiba-tiba mendatangi sebuah tempat gadis itu, mencoba sebuah jas yang akan dikenakan saat pesta pertunangan dilangsungkan.
Mengapa aku merasa wanita itu memerhatikanku? Ada apa dengannya? Tidak seharusnya permaisuri menatap ke arahku. Huh! Tahu begini lebih baik, aku bermain-main dan tidak harus datang ke tempat seperti ini.
Suara Rewindra membuat gadis itu terhenyak kaget dibuatnya, “Jangan memanggilku dengan seperti itu, sungguh sangat me ….
Tangannya pun dibekap oleh duda casanova itu, mengingat Rewindra benar-benar tidak ingin lama-lama di dalam butik.
“Berapa kali aku bilang denganmu, tidak baik marah-marah dan kalau kamu masih tetap seperti ini. Jangan harap bisa lolos dariku, Hon. Karena aku bisa membungkammu dengan bibirku. Mau mencobanya?” bisik Rewindra dengan menyeringai licik.
Mendengkus kesal itulah yang bisa dilakukan oleh Araela, pada akhirnya gadis itu pun mengalah berdebat dengan pria dihadapannya.
Mengelilingi butik, tapi saat dia berhenti di depan sebuah gaun pernikahan dipajang, siapa yang menyangka meskipun gaun tersebut, terlihat sederhana dipandang mata dan membuat sang duda menatap heran ke arah dirinya.
“Apa kamu mau mencoba gaun itu, Hon?” Tawaran dari Rewindra, membuat gadis itu berganti dengan sorot mata yang dingin.
“Tidak perlu, aku ke sini bukan mencari gaun. Tidak ada gaun yang menarik bagiku!” Dia bisa berbohong dengan perasaan relung hati terdalam, sebab gaun tersebut mengingatkannya pada sebuah luka, serta luka hati itu masih membekas diingatannya.
Hal tersebut membuat dia begitu membenci sebuah gaun, bahkan ketika menghadiri pesta pernikahan teman-teman sekolahnya, yang lebih dulu menikah justru gadis itu memakai jas, dengan penampilan tomboi ciri khasnya.
“Lalu kamu ingin mengenakan apa?”
__ADS_1
Enggan menjawab pertanyaan kembali dia pun menganyunkan langkah kaki yang semakin mengarah, ke arah ruangan jas yang membuat Rewindra terkejut ketika mengetahui bahwa, sang calon tunangannya ingin memakai jas yang begitu cocok dengan gaya tampilannya.
Apa aku tidak salah masuk? Mengapa dia tidak ingin memakai gaun? Justru yang ada gadis itu memilih sebuah jas? Padahal jelas-jelas di sana, tatapan mata itu tidak bisa membohongiku. Ada apa dengan masa lalunya?
Rewindra pun bertemu seseorang yang diduga sebagai pemilik butik tersebut, tanpa berpikir panjang dia pun menghampiri orang itu, sambil menanyakan mengapa gadis itu lebih memilih jas daripada sebuah gaun pesta.
“Aku ingin menanyakan suatu hal denganmu! Mengapa dia memilih jas di dalam ruangan ini? Seharusnya ʼkan memilih gaun, di sebelah ruang sana?” tanya Rewindra dengan raut wajah bingung.
“Mohon maaf atas ketidaknyaman pelayanan kami, Tuan … mengenai itu, sebelumnya saya akan memperkenalkan diri di sini … mengingat saya juga bukan pemilik asli butik ini … saya adalah Manager yang mengelola butik Nona Araela sendiri, dan itu sebabnya Anda terkejut bukan melihat apa yang dilakukan oleh beliau?”
Ekspersi Rewindra pun berganti datar, dia mati-matian menahan rasa kejutan, tentang kenyataan yang baru saja didengar langsung, “lalu mengapa dia tidak memilih gaun sendiri? Justru lebih memilih sebuah jas?”
“Apakah Anda calon pria dari nona?”
“Hm.”
“Masalah itu saya tidak mengetahui apa pun. Namun, nona selalu meminta saya untuk dibuatkan jas sesuai apa yang dibutuhkan … bahkan gaun yang Anda telah lihat itu, sebenarnya hasil daur ulang dari tangan nona sendiri … saat orang-orang ingin memakai gaun tersebut, justru nona tidak pernah mengizinkan siapa pun memakainya.”
Mengusap kasar dengan kedua tangan, begitu kembali mendengar pernyataan, bahwa gadis tersebut begitu rapi menyimpan lukanya.
Saat pandangan duda casanova itu tertuju pada, Araela yang sedang masuk ke dalam sebuah ruangan ganti.
Mengangguk sambil membungkuk hormat, setelah tak melihat keberadaan manager tersebut, dia pun menghampiri ruangan ganti untuk melihat penampilannya.
Akan tetapi, siapa yang menyangka justru dia pun disuguhkan pemandangan indah, tapi ekspresinya tidak bisa dijelaskan begitu mudah.
Saat dia mendapati kenyataan sebuah benda kembar bulat itu tertutup oleh plester, dan teriakkan dari gadis tersebut berhasil membuyarkan lamunannya.
“Sejak kapan ada di sana, Pak?” tangan mungilnya bergegas mengenakkan kaos, sebab dia begitu terkejut ketika melihat sang duda mengintip.
“Kenapa kamu tutupi seperti itu, Hon?” Enggan menjawab pertanyaan, tapi justru dia yang bertanya.
Araela pun mendengkus kesal, dengan nada pertanyaan yang diucapkan oleh Rewindra, “Hei, Pak! Ini tidak ada sangkut pautnya dengan, Anda!”
“Karena kamu adalah calon istri dan ibu anak-anakku, Hon,” sahut Rewindra.
__ADS_1
“Sudahlah, Pak! Tidak pantas Anda membual seperti itu,” ucap gadis itu, seraya menenteng sebuah jas. Namun, langkahnya terhenti ketika sang duda menghentikan, lalu menghimpit tubuh mungilnya ke tembok.
“Jangan mendekat!” Namun, duda itu pun semakin merapatkan tubuh tinggi tegapnya.
Rewindra pun sedikit membungkukkan tubuh tinggi tegap itu, sambil membisikkan sesuatu yang membuat Ara marah mendengarnya.
“Anda sudah gila ya, Pak!” teriakkan dari gadis tersebut, membuat Rewindra semakin tidak tahan membungkamnya dengan bibir dia sendiri.
“Kenapa apa kamu tidak suka dengan apa yang kuʼ lakukan?”
“Meskipun posisiku adalah calon Anda … bukan berarti aku mau melakukan apa yang Anda minta … tidak semudah itu, Pak! Karena Anda tidak akan pernah memahami perasaan saya!”
“Aku lebih tidak menyukai yang kamu lakukan itu, Hon!” Bagaimana tidak syok, ketika Rewindra melihat, dua benda bulat yang ditutupi dengan sebuah plester.
“Berhenmphhhttt ….” Tidak tahan, Rewindra pun membungkam bibir mungil candu berbahaya.
Melummat, mencecap begitu mesra serta tidak lupa, tubuh keduanya semakin menghimpit tembok karena duda itu, tidak si belalai gajah terkena tendangan mematikan dan dia sendiri, sudah terlebih dahulu mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi.
.
.
.
.
.
Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Author: sendi andriyani
Perjodohan antara dua keluarga yang membuat Jimmy harus menikahi gadis bernama Alisa, teman sekelasnya.
Jimmy pria dingin, cuek, acuh dan datar harus di hadapkan dengan Alisa yang berkepribadian terbalik dengan Jimmy.
__ADS_1
Meski awalnya Jimmy sangat menentang perjodohan itu karena dia masih sekolah, tepatnya kelas 3 SMA, namun pada akhirnya dia mulai bisa menerima Alisa sebagai istrinya.