
Setelah mendapat perintah untuk mencarikan seorang wanita. Louser meninggalkan Rewindra seorang diri yang hanya di temani oleh segelas wine minuman kesukaannya.
Sambil menunggu Louser pikiran Rewindra tiba-tiba teringat dengan semua kenangan yang dilakukan oleh dirinya bersama mendiang sang istri tercinta.
Hal tersebut enggan membuatnya membuka hati kembali karena ia sangat takut akan kehilangan yang membuat Rewindra menjadi pribadi dingin.
Lain halnya yang dilakukan oleh Louser mendengkus kesal dengan tingkah laku dari Rewindra yang tak pernah berhenti mencari kepuasan batinnya.
Indra mau sampai kapan kau akan seperti ini terus? Aku sempat berjanji pada mendiang istrimu untuk memastikan kau tak akan melupakan kewajibanmu seorang nyata. Namun akhirnya kau juga telah mengecewakan Septi pasti akan sedih melihatmu seperti ini.
Begitu sampai di tempat bartender. Louser melancarkan aksinya dengan bertanya-tanya apakah ada seorang wanita yang bisa memuaskan h@srat Rewindra Wiratama.
“Kau, apakah ada seseorang yang bisa di pesan?” tanya Louser to the poin.
“Ada, Tuan,” jawab bartender itu dengan lugas.
“Siapa menurutmu?”
Enggan menjawab pertanyaan darinya bartender tersebut menepuk tangan dengan keras yang hanya berselang lima detik datanglah seorang wanita dengan dandanan yang begitu mencolok.
“Ada apa memanggilku?” sapa wanita itu bertanya dengan nada yang dilembutkan.
“Bukan aku yang memanggilmu tapi dia,” jawabnya seraya menunjuk dagu ke arah Louser.
Wanita itu pun terkejut setelah melihat raut wajah dingin yang di keluarkan oleh Louser karena teringat dengan seseorang yang pernah mengajaknya menikmati surga dunia.
__ADS_1
“Apa Tuanmu membutuhkan bantuanku?” tanya wanita itu yang bernama Sarah.
Louser enggan menjawab pertanyaan dari Sarah tapi justru ia bertanya pada bartender itu. Apakah tak ada wanita panggilan yang lain karena Rewindra pantang menikmati tubuh kedua kalinya. “Apa tak ada yang lain selain dia?”
Sarah yang mendengarnya pun mencebik kesal. Entah mengapa ia begitu sangat ingin menikmati tubuh kekar nan sexy milik Rewindra Wiratama.
“Mohon maaf Tuan, hanya Sarah yang datang ke tempat ini lebih dulu. Biasanya Sonya yang minta di carikan seseorang.” Jawaban dari bartender tentang Sonya menarik perhatian Louser, dan hal tersebut membuat Sarah meradang kesal dengannya.
“Apa kau mengenal dengan wanita itu?” tanya Louser dingin.
“Dia primadona di Bar ini, Tuan,” jawab bartender tanpa merasa takut dengan intimidasi.
Akan tetapi hal terduga membuat Louser terkejut bukan main setelah mendengar celetukan berasal dari wanita yang akan ia bawa menghadap Rewindra. “Jangan dengarkan bualan darinya, dia yang di maksud adalah wanita ular dan penuh kelicikan untuk memangsa targetnya.”
“Tuan aku sangat tahu desas-desus tentang seorang duda yang mendapat julukan casanova dari para wanita penghibur yang ada disini! Perlu kau ingat hanya satu wanita yang selalu menghalalkan segala cara untuk menarget mangsa meskipun dia mempunyai kekasih.”
Penjelasan dari Sarah membuat Louser terbatuk lalu kemudian ia berdehem untuk menormalkan terkejutnya ketika mendengar sebuah nama yang sempat diingatkan oleh David Dominic Pomi.
“Jadi maksudmu adalah ....”
Sarah mengangguk pelan. Sebab saat ini ia berharap bisa menikmati bercinta kembali dengan Rewindra Wiratama.
Mengembuskan napas gusar Louser yang sekarang begitu mendendam terhadap wanita tersebut. Wanita yang membuat Rolando anak dari Septi menjadi takut bertemu orang lain.
“Baiklah terima kasih atas informasi darimu, dan sebagai gantinya kau ikut denganku!” titah Louser dingin yang tak lama kemudian ia berjalan meninggalkan bartender itu dengan membawa Sarah untuk menghadap Rewindra Wiratama.
__ADS_1
Sembari berjalan ke arah ruangan yang di tunggu oleh Rewindra. Louser berusaha mengorek informasi lebih dalam untuk seorang yang di sebut tadi.
“Sepertinya kau begitu sangat membenci Sonya itu ya?” Louser pun melancarkan aksinya.
Respons tak terduga pun terjadi pada Sarah yang begitu di introgasi tersenyum kecut ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh pria di depannya itu. “Aku memang sangat membencinya karena wanita itu terlalu serakah setiap berusaha mendekati seseorang, dan aku sarankan sebaiknya berhati-hati menggunakan jasanya. Banyak dari kami begitu sangat membenci wanita ular seperti dia. Bahkan aku sangat tahu kalau Tuanmu itu hanya sekali menggunakan jasa kami, pengecualian untuk dia pasti akan menghalalkan segara cara untuk mengikat Tuanmu.”
“Lalu bagaimana dengan kekasihnya?” Louser sedikit penasaran dengan kekasih dari Sonya yang sama sekali tak memedulikan tentang pengkhianatan dilakukan oleh wanita tersebut.
“Aku tak begitu mengenal kekasihnya tapi aku sangat hafal dengan sepak terjangnya ketika mencari mangsa untuk memuaskan h@sratnya.” Lagi-lagi pernyataan dari Sarah membuat Louser sedikit berhati-hati dengan wanita yang bernama Sonya.
Sebab Sarah sepertinya masih menyimpan banyak rahasia yang harus dikorek untuk berjaga-jaga melindungi Rewindra Wiratama.
“Baiklah terima kasih atas laporan darimu, dan kau sudah tahu sendiri peraturan dari, Tuanku?” Ia juga memastikan apakah Sarah seperti Sonya atau bukan jika sedang di hadapkan langsung dengan Rewindra.
“Tak perlu cemas. Aku juga sama seperti Tuanmu yang hanya mengandalkan napsu bukan atas dasar cinta.” Jawaban dari Sarah membuat Louser sedikit lega. Namun ia tak menyadari Sarah hanya bisa membatin dalam diam.
Meskipun pada kenyataannya aku telah jatuh cinta pada dirinya. Namun perasaan tak bisa di paksakan, aku sangat tahu hal itu dan aku bukanlah Sonya wanita licik yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan seseorang. Tak perlu cemas aku bersedia menjaga dan melindungi jika hal itu terjadi padanya.
Lamunan Sarah buyar ketika Louser mendorong pintu yang menyuruhnya mengekor dari belakang untuk menghadap Rewindra Wiratama.
“Kenapa kau lama, Ser!” omel Rewindra dengan nada yang begitu dingin. “Apa dia yang akan memuaskanku?”
Louser memicing mata begitu mendengar pertanyaan konyol dari seorang Rewindra. “Bukannya kau memintaku mencarikan wanita untuk memuaskanmu, hah?”
“Dia kan pernah merasakan kenikmatan tubuhku, Ser! Apa kau lupa, hah!” bentak Rewindra dengan mencebik kesal.
__ADS_1