
“Lakukan sekarang!” Prasetya kembali menitah sang sekretaris, untuk melakukan permintaan dengan mengalihkan semua aset pribadinya.
Dalam batin sang sekretaris itu menertawakan kebodohan, untuk atasannya karena terlalu lambat menyadari kesalahan diperbuatnya.
Tuan! Apa Anda mulai menyadari betapa berharganya nona muda? Karena saya adalah mata-mata pribadi tuan besar, untuk terus mengawasi dan memantau rencana dilakukan wanita yang selama ini Anda nikahi, bahkan sampai mati pun saya rela mengabdikan diri ini untuk melindungi serta menjaga, aset pribadi Anda yang seharusnya menjadi milik nona muda.
Terlarut lama melamun, sampai ia tak menyadari jika sang atasan melihatnya melamun, dan kemudian tanpa berbasa-basi atasannya membuyarkan lamunannya, “apa yang sedang kau lamunkan?”
“Maaf, Pak. Saya sedang memikirkan bagaimana cara saya, mengalihkan semua aset Anda tanpa diketahui oleh istri Anda.” Sekretarisnya itu menjawab pertanyaan dengan berkilah lidah, untuk menutupi misi yang sedang dijalankan oleh dirinya.
Lalu kemudian ia meminta sang atasan, untuk memeriksa pengkhianat yang saat ini, sedang bekerja sama dengan istri atasannya, “ngomong-ngomong, Pak ... apakah Anda tak ingin meminta saya, untuk menyelidiki keganjalan di kantor?”
“Apa maksudmu itu, hah? Apa kau berpikir ada yang sedang mengkhianati kepercayaanku begitu, hm?”
“Ya, Pak. Karena saya merasa para pengkhianat itu bekerja sama dengan nyonya.”
“Apa!” Prasetya terkejut bukan main, ketika mendengar perkataan dari sang sekretaris itu.
“Kau sedang tidak becanda dengan perkataanmu itu, kan?”
“Tidak, Pak.” Menjawab pertanyaan dari atasannya, tanpa merasa ragu dan takut.
Karena saatnya sekretaris itu mengatakan kebenaran kepada sang atasan, begitu terlalu memercayai pekerjaan dari pengkhianat itu, dan hanya dirinya mengetahui beberapa orang yang mencoba berbuat curang. “Bagaimana, Pak? Perintah apa yang akan Anda lakukan untuk orang-orang mengkhianati Anda, Pak?”
“Kau selidiki terlebih dulu motif mereka mengkhianatiku, dan juga mulai sekarang kau suruh seseorang untuk memantau, serta mengawasi pergerakan dari istriku. Paham!”
“Baik, Pak. Akan lakukan perintah Anda, dan mengenai masalah tadi biar itu menjadi urusan saya. Menurut Anda bagaimana, Pak?”
“Jika itu bisa kau lakukan tanpa ketahuan istriku, maka lakukan sesuai dengan perintahku.”
Sebelum sekretarisnya undur diri, pria itu membaca beberapa berkas yang disodorkan, dan alangkah terkejutnya bukan main ketika membaca proposal, baru saja diterima langsung untuk dirinya.
“Apa proposal yang kubaca ini masuk melalui emailmu?”
“Ya, Pak. Apakah saya harus merevisi ulang, proposal yang diajukan melalui perusahaan Anda, Pak?”
“Tidak perlu, kau urus itu lebih dulu ... mengenai proposal ini, biar menjadi urusanku karena aku sangat mengenali pemilik perusahaan, yang ingin mengajukan kerja sama denganku.”
__ADS_1
“Kalau begitu saya pamit undur diri, Pak.” Sembari membungkuk hormat, sekretaris pria itu berpamitan, tak lupa ia akan melaporkan hal ini kepada tuan besar yang membeban tugas berat dipundaknya.
Setelah tak melihat keberadaan punggung sekretarisnya, pria paruh baya itu sedang memikirkan tentang proposal yang diajukan oleh sahabat adiknya, tak lain perusahaan milik Bastian tiba-tiba mengirimkan email, dan mengajukan kerja sama dengan perusahaan miliknya.
Apa maksud dia mengajukan kerja sama denganku? Mengapa aku merasa ada niat terselubung lain dengan pria ini? Atau mungkin perasaanku saja yang seperti ketakutan karena begitu bodoh memercayai semua bukti tak masuk akal. Saat ini tak ada yang bisa kulakukan, selain hanya bercerita melalui fotomu, dan maafkan semua kesalahanku karena terlambat menyadari arti hidupmu untukku.
Karena pada dasarnya, pria itu terlalu pengecut mengetahui sejatinya, jauh dilubuk hati telah menyimpan nama untuk mendiang istri pertamanya, tapi ia enggan mengakui hal tersebut karena terlalu gengsi untuk sekadar mengakui perasaan Prasetya Gayatri Smith.
*
*
*
Sementara itu, setelah dari ruangan atasannya ... mata-mata yang merangkap sebagai sekretaris itu, mengambil ponsel disaku celana dipakai, sembari menekan nomor ponsel tuan besar, dan melaporkan perihal tentang misinya.
Beberapa detik kemudian, panggilannya tersambung dengan arah seberang, dan kebetulan tuan besarnya itu mengangkat serta menanyakan langsung tujuannya.
“Apa yang ingin kau laporkan kepadaku?”
“Saya ingin melaporkan sesuatu mengenai aset yang tiba-tiba diminta oleh Tuan Pras.”
“Begini Tuan Besar ... Tuan Pras meminta saya mengalihkan semua aset pribadinya, berganti nama menjadi Nona Muda Ara cucu Anda ... apakah saya harus melakukan perintah dari putra Anda, Tuan?”
“Itu berarti dia mulai curiga dengan istrinya?”
“Sepertinya iya, Tuan Besar ... bagaimana menurut Anda?”
“Jika begitu, lakukan apa yang diminta oleh Pras, dan pastikan kau melakukannya dengan berhati-hati, selain putraku sendiri tentu saja aku tak ingin, semua usaha yang kubangun jatuh ke tangan salah. Apalagi jatuh ke tangan dua wanita licik itu karena semua aset ku yang dipegang oleh putraku, seharusnya sudah menjadi mutlak milik cucu kandungku. Apa kau paham dengan semua yang kukatakan ini?”
“Paham, Pak.”
“Baiklah lakukan apa yang menjadi perintah putraku, dan kau tak perlu khawatir ... aku sudah mempersiapkan perlindungan untukmu. Lakukan semua itu dengan berhati-hati, dan jangan sampai wanita ular itu mengetahuinya.”
Tanpa menunggu balasan dari sekretaris putranya. Gunawan sedang menerima panggilan itu mematikan sambungan secara sepihak, setelah memberi perintah untuk mata-mata yang selama ini menjadi misi pentingnya.
Kemudian ia berganti menghubungi rekannya, untuk membantu melakukan penyelidikan tentang perusahaan, yang ternyata ada beberapa pengkhianat dengan melakukan penggelapan dana, dan ternyata sudah lama mereka lakukan itu untuk istri kedua atasannya.
__ADS_1
*
*
*
Di rumah sederhana milik Gunawan Gayatri Smith, sore hari dengan seorang gadis bermodel rambut ala mullet, saat ini gadis itu sedang mempersiapkan diri keberangkatannya di kampus, untuk menyerahkan semua tugas skripsi yang tertunda, kepada dosen killer sedang menunggu kedatangannya di sana.
Kakeknya yang kebetulan keluar dari kamar pribadinya, terkejut melihat keberadaan sang cucu, terlihat sedang terburu-buru karena sebelumnya pria senja itu, telah menerima laporan dari mata-mata yang ditugaskan, dan kemungkinan besar putranya tak akan mendapat maaf dari sang cucu tercinta.
Apakah kamu akan memaafkan semua kesalahan papamu, Nak? Karena kakek bisa merasakan luka hatimu, begitu terlalu dalam untuk diingat, dan sebagai gantinya papamu akan menanggung semua kebencianmu itu.
Akan tetapi, sang cucu tiba-tiba membuyarkan lamunannya, dan kebetulan gadis itu melihatnya sedang melamun itu. “Kakek sedang melamunkan apa?”
“Hanya sedang merindukan mendiang nenek, dan mamamu yang lebih dulu meninggalkan pria tua ini, Nak. Karena kakekmu terhukum rindu dengan mereka,” kata pria senja itu, sembari berkilah lidah.
Karena sejatinya, ia tak tega melihat, raut wajah yang menyimpan sejuta luka lara, dihati dan pikiran cucu kesayangannya itu.
“Bagaimana kalau aku menemanimu berkunjung ke makam mereka, Kek?” tawar gadis itu, sembari menanyai pendapat kepada kakeknya.
*
*
*
*
*
Demi mendapatkan biaya operasi sang ayah yang mengidap penyakit jantung, Nabila Kanaya terpaksa menikah dengan Sean Ibrahim, lelaki yang tak lain adalah suami dari sahabatnya.
Sandra Milea, seorang model terkenal yang
namanya sedang naik daun di dunia entertainment, terpaksa meminta sahabatnya untuk menikah dengan suami tercintanya demi mendapatkan seorang anak yang sudah lama didambakan oleh Sean dan juga mertuanya. Bukan karena Sandra tidak bisa mempunyai anak, tetapi, Sandra hanya belum siap kehilangan karirnya di dunia model jika dirinya tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang anak.
__ADS_1
Lalu, bagaimana nasib pernikahan Kanaya dengan suami sahabatnya itu? Akankah Kanaya menderita karena menikah tanpa cinta dan menjadi istri rahasia dari suami sahabatnya? Ataukah Kanaya justru bahagia saat mengetahui kalau suami dari sahabatnya itu ternyata adalah seseorang yang dulu pernah singgah di hatinya?