
Sebuah pukulan keras mendarat di dada bidang Rewindra yang membuat sang istri tercinta mencebik kesal dengan godaan dilayangkan untuknya, hingga tak lama kemudian usai melakukan perc1nt4an panas di dalam kamar mandi yang sempit mereka memutuskan untuk mengistirahatkan diri, sembari mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun yang diselenggarakan pada siang hari di mansion kedua orang tua duda casanova itu.
*
*
*
Siang itu di mansion terdapat sebuah pesta yang tengah diselenggarakan sepasang suami — istri, tak lain sedang merayakan ulang tahun cucu kesayangan dengan kehadiran anak dan menantu yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh mereka, begitu hal yang dirasakan oleh William Wiratama merasakan kebahagian untuk pertama kali melihat cicitnya tak sabar merayakan ulang tahun tersebut.
Akan tetapi, kekacauan terjadi ketika pesta itu berlangsung tiba-tiba saja datang seorang tamu tak diundang sembari menyodorkan amplop yang berisi kecocokan DNA, hingga dada William mendadak merasa sesak sampai membuat pria senja sebaya dengan Gunawan tak sadarkan diri.
“Kakek ....” Rolando yang berada di atas panggung pesta merasa dikecewakan dengan kemunculan seorang wanita, bahkan tak tahu malu memberitahukan pada seluruh tamu jika sang daddy memilik anak lain-selain ia sendiri. “Oma, kakek uyut ....”
Pria kecil itu mati-matian menahan tangis dengan sorot mata kebencian untuk daddynya. “Aku kecewa denganmu, Dad!” Teriakan lantang yang terucap dari bibirnya membuat Ara bungkam, enggan bersuara atas kedatangan seorang wanita, dan menyodorkan anak lelaki dengan jarak usia berbeda dari pria kecil itu.
“Maaf atas kelalaian kami yang tak dapat, mencegah wanita itu masuk ke dalam.” Salah seorang satpam penjaga yang bertugas mengucap sepatah maaf atas kelalaian mereka.
__ADS_1
Hal tersebut membuat Dahlia dan juga Pramana membubarkan pesta ulang tahun yang sedang berlangsung, bersamaan dengan datangnya perawat yang mendorong brankar untuk membawa William Wiratama ke rumah saki agar segera mendapatkan pertolongan, dengan Rolando yang memutuskan untuk mengikuti kakek buyutnya bersama sang mama tercinta yang sama sekali, enggan membahas apa pun tentang kedatangan seseorang yang sudah diprediksi sebelum wanita itu menghancurkan rangkai kisah dibangun oleh gadis itu sendiri.
Bibir Rewindra terkatup rapat tanpa berani membuka suara dengan keadaan suasana mencekam dan ini kesekian kali, pria itu melihat tatapan kekecewaan dari orang-orang di sekitar mansion terutama tatapan milik sang istri tercinta, ternyata jauh lebih mengerikan dibandingkan tatapan dingin yang biasa dilakukan oleh istrinya.
“Honey, aku ....” Bibir terkatup rapat itu pun bersuara sembari menggigit dan, bingung menjelaskan situasi yang terjadi karena kekacauan itu. “Aku sendiri tak ingat maupun mengenalnya, kamu pasti mengerti semua masa laluku bukan?”
Gadis itu benar-benar enggan membalas pertanyaan pria itu, dengan berjalan melewati tanpa menatap setelah ia memberikan sorot kekecewaan untuk Rewindra, dan langkah kaki itu terhenti di dekat brankar sembari memerintahkan beberapa perawat segera membawa pasien ke rumah sakit. “Biarkan dia menemani kakek buyutnya ke rumah sakit! Ingat segera lakukan pertolongan untuk beliau!” Kemudian gadis itu mengarahkan sorot mata dingi dan meminta, kakeknya tak lain sahabat pasien untuk menemani putranya. “Aku mau Kakek menemani dia, menjaga uyutnya di rumah sakit!”
“Baiklah, Kakek tak akan mencampuri urusan rumah tanggamu,” putus Gunawan sembari mendessah pasrah, mengetahui tatapan dingin milik cucunya yang tak biasa bahkan pria senja itu menduga, jika cucu kesayangannya itu seperti sudah menebak apa yang akan menimpa ruamah tangganya.
“Ayo kau bujang lapuk, biarkan dia menyelesaikan masalahnya! Jangan pernah untuk mencampuri urusan mereka, atau kau kupisahkan dengan calon istrimu. Mau mencobanya?” Tak lupa pria itu mengajak Morgan untuk segera beranjak dan memberikan ancaman mematikan, hingga mansion itu menjadi sepi hanya ada empat orang yang berada di ruangan tersebut.
Belum sempat Rewindra membalas perkataan Araela, sebuah tamparan keras melayang pada salah satu pipi sampai membuat sudut bibirnya mengalir darah segar, dengan Pramana yang pertama kali memberikan tamparan untuk sang putra tercinta yang telah mencoreng nama baiknya.
“Pa.” Memanggil dengan nada pelan sembari menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya. “Aku sama sekali tak mengenal, bahkan mengingat pun tak pernah ada dipikiranku.”
“Jika, begitu apa maksudnya dengan ini!” Pram melemparkan amplop yang telah dibuka oleh pria baya itu, dengan sorot mata kekecewaan yang sama dipancarkan oleh Araela atas kejadian yang menimbulkan tanda tanya dibenak semua orang.
__ADS_1
“Papa benar-benar kecewa dengan sikapmu, Win! Seperti inikah yang kau harapkan dari rasa sakit akibat ditinggalkan mendiang istrimu? Saat kau membangun rumah tangga dengan Ara, tapi ternyata kau menghadirkan wanita lain yang belum usai dengan urusanmu.”
Kemudian pria baya itu menatap datar, seorang wanita yang tiba-tiba datang dan merusak suasana, hari bahagia sang cucu sembari melontarkan pertanyaan. “Kau ingin bagaimana dengan putraku? Yakin anak itu darah daging Rewindra? Aku sanksi dengan kedatangan yang terlalu mendadak, tapi bukti tes kecocokan DNA ini tak akan bisa membuatku percaya begitu saja. Bisa saja kau hanya seorang wanita dari sekian yang dijelajahi oleh putraku.”
Kristal nama sang musuh Araela yang mengacaukan pesta itu tak puas dengan pernyataan yang terucap dari Pramana Wiratama, sehingga membuat wanita itu memikirkan cara untuk bisa menjadi nyonya yang sejak lama diimpikan, terdengar nada dingin yang terucap dari bibir seseorang yang dibenci oleh wanita itu yang ternyata membukakan jalan pintas untuk wanita itu.
“Yakin atau tidak itu terserahmu, Pa. Namun, aku tak ingin nama baikmu semakin tercoreng karena sikapnya, jadi lebih baik penuhi permintaannya dari pada terjadi hal tak kita inginkan!”
Rewindra berdecap kesal mendengar pernyataan yang terucap di bibir gadis itu, hingga membuat pria itu menggendong tubuh mungil seperti karung beras, membawa masuk ke dalam kamar pribadi sang putra karena istrinya itu, sangat menghargai keberadaan mendiang mommy Rolando, tanpa memedulikan teriakan Pramana yang memanggil namanya maupun menatap wanita selain istri kecilnya sendiri.
“Kenapa membawaku ke mari? Selesaikan dulu urusanmu dengan dia!” Sesampainya di kamar Rolando, Ara melayangkan protes dengan nada dingin membuat gadis itu mendapat serangan dadakan dari sang suami. “Bee!” Gadis itu memukul keras dada bidang Rewindra karena ia, tak siap mendadak serangan mematikan dari suaminya. “Aku justru kecewa dengan sikapmu yang lari dari tanggung jawab.”
“Sstt!” Mengusap bibir ranum candunya sembari menyuruh sang istri diam, mengingat ia sendiri benar-benar terkejut dengan kedatangan wanita lain yang menyodorkan seorang anak lelaki, dengan keyakinan jika anak lelaki itu tak mengalir darah kental di dalam dirinya. “Bisakah kamu tak membahas maupun menyuruhku untuk menikahi dia? Kamu pun mengerti luar-dalamku seperti apa dan bagaimana, jadi mohon tak membahas apa pun yang berhubungan dengan wanita itu.”
Air mata Araela meluruh sendiri maksud hati ingin menguji keimanan di dalam pria itu tentang kegelisahan menjadi kenyataan, membawakan gadis itu rasa cinta yang begitu besar untuk sang duda casanova, tanpa menjelaskan apa pun jika suaminya itu berpegang teguh pada pendirian meskipun cinta mereka saat ini diuji dengan kehadiran wanita tersebut.
“Bee, aku tresno kowe saklawase.” Menghapus air mata secara kasar sembari mengecup bibir singkat sang suami, membuat pria itu menyambut mesra serangan mendadak secara menggebu-gebu.
__ADS_1
“Kamu bicara apa, Honey?”