Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Seperti Ditampar


__ADS_3

Setelah urusannya dengan Louser selesai, ia akan menengok keadaan Rolando di kamar pribadi. Namun, langkah kakinya terhenti ketika mendapati sang papa yang baru saja memasuki mansion. “Dari mana, Pa?” tanya Rewindra yang begitu penasaran dengan urusan papanya di luar.


“Jangan membuat jantung papamu terkejut begini, Win. Papa-kan jadi kaget.” Pramana terpekik kaget, ketika mendengar pertanyaan dari putranya.


“Dari mana, Pa?” mengulang pertanyaan yang sama, sambil terus menatap heran ke arah sang papa. “Enggak biasanya Papa ke luar jam segini! Dan melihat wajahmu seperti habis berdebat dengan seseorang. Siapa yang membuat papaku seperti ini?” todongnya dengan penuh selidik.


Hal tersebut membuat Pramana terkekeh lucu melihat todongan pertanyaan dari Rewindra, dan entah mengapa ia merasa sang putra sedikit berbeda dari biasanya. “Apa kamu ingin tahu sesuatu dari Papamu ini, hm?”


Rewindra mengangguk, sembari menunggu jawaban dari sang Papa, ia sedang mencari tahu seseorang yang telah membuat Papanya terlihat begitu marah. Namun, terlalu lama menunggu jawaban ia pun terus mendesak agar sang Papa mau memberi sebuah jawaban rasa penasarannya. “Ayolah jangan membuatku terlalu lama menunggu, pa!”


“Aku akan menjawab rasa penasaranmu, tapi bolehkah Papa memintamu suatu hal?” sambil bernegoisasi dengan putranya saat yang tepat inilah, ia akan membicarakan perihal tentang perjodohan untuk Rewindra Wiratama sendiri.


Kedua pria berbeda generasi itu pun telah duduk bersebelahan di sofa ruang kerja milik Rewindra, sembari ia kembali memberi pertanyaan untuk papanya. “Coba katakan denganku, apa yang bisa ku’ lakukan dari permintaanmu itu, Pa?”


“Ck, dasar duda casanova. Kenapa tak sabaran begini. Heran!” sebelum melanjutkan kembali ke awal ia bercerita, sembari menghirup udara yang diembuskan itu. Pramana menceritakan pertemuan pentingnya dengan Prasetya, pada sang putra yang juga memberitahukan bahwa papanya itu benar-benar kecewa dengan sahabatnya sendiri.


“Jadi, itu yang membuatmu marah, Pa?” Rewindra yang masih menyimak cerita dari sang papa menggeram marah, dan hal itu juga membuatnya merasa tertampar ketika sang papa menceritakan seorang anak yang selama ini keberadaannya tak dianggap.

__ADS_1


Kenapa nasibnya jauh lebih mengerikan dari, Ando. Entah mengapa aku merasa tertampar dengan kehidupannya, sungguh jauh berbeda dengan putraku. Meskipun ku’ akui juga salah dengan putraku, tapi aku benar-benar tak sampai hati menelantarkan putraku sendiri. Maafkan atas kekhilafan dadymu, Boy. Lebih baik aku menanggung rasa kebencianmu, daripada terlambat menyadari bahwa selama ini kamu begitu merindukan belaian kasih sayang dari dadymu ini.


“Iya, dan itulah membuat Papamu tak habis pikir dengan jalan pikirannya, Win,” keluh Pramana, sembari menggeram marah.


“Apa kamu juga sedang menyindirku, Pa?”


“Menurutmu!” Pramana mencebik bibirnya, ketika mendengar pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan sang putra. Namun, justru putranya ini seperti merasa tersindir dengan semua yang telah didengar itu.


Rewindra meringis pelan. Semua cerita itu seperti mengarahkan dirinya, untuk lebih bisa menghargai pengorbanan yang dilakukan oleh mendiang istrinya sendiri. “Maafkan atas semua kelalaianku yang selama ini enggan memberi kasih sayang untuk Ando, Pa. Aku tak keberatan menanggung rasa kebencian di dalam dirinya, karena semua itu memang salahku yang terlalu dalam menorehkan luka hatinya.”


.


.


.


.

__ADS_1


.


Pasti semua pada kangen ya!


Maaf baru update, karena aku lagi ada di paizo


Yang punya bisa mampir di sana


Cari napen : Puput Purwanti


Itu nama asliku


Di sana aku juga ngadain GA loh buat kalian semua


Ku tunggu ya


See you next time.

__ADS_1


__ADS_2