
“Kau jangan banyak tahu, datanglah ke tempatmu sendiri atau kau akan terima akibatnya,” hardik Rewindra sembari memberi ancaman agar orang dari arah seberang segera datang untuk menemui dirinya.
“Astaga, Win! Kau galak sekali! Oke fine aku datang ke sana lima belas menit lagi. Bisa menungguku?”
Sambungan panggilan terputus setelah Rewindra memberi ancaman pada pemilik Bar untuk datang menghadapnya.
Berselang lima belas menit kemudian sesuai dengan janji dari pemilik Bar tersebut pun datang seorang diri untuk menemani Rewindra sang sahabat tercinta.
“Ada apa kau menyuruhku datang ke sini, Win?” tanya David sahabat Rewindra.
Akan tetapi justru Louser menyahut pembicaraan mereka karena, Rewindra lebih banyak berdiam diri. “Dia sedang ada masalah.”
Sebelah alis David terangkat begitu mendengar sahutan dari asisten Rewindra yang menjadi sahabatnya juga. “Masalah apa lagi, Ser? Wanita atau Roland?”
“Tanya sendiri sana!” jawab Louser tanpa mengalihkan matanya ke arah Rewindra.
Lama menunggu Rewindra membuka suara ketiganya pun berdiam membisu dengan tak lupa David menikmati wine yang di tuangkan oleh Louser karena dirinya sendiri tak pernah meminum wine seperti sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Sampai akhirnya Rewindra membuka obrolannya dengan menceritakan kesedihan yang sedang melanda hati dan pikirannya. “Aku sangat takut Oland membenciku karena selama ini aku selalu mengabaikan keberadaannya.”
David yang mendengarnya itu langsung menghentikan sebuah tangan yang tengah memutari gelas kristal minumannya sambil menanyakan tujuan sahabatnya tentang arti kehidupan seorang anak. “Lalu kau ingin bagaimana, Win? Bukankah dia adalah titipan yang harus kau jaga.”
“Kau tahu sendiri ‘kan alasanku mengabaikan Oland karena apa? Seharusnya tanpa bertanya pun kau sudah paham maksudku!”
“Enggak begini juga, Ndra!” sahut Louser yang begitu kesal dengan tingkah laku Rewindra.
David setuju dengan Louser. Tak seharusnya sebagai seorang mengabaikan keberadaannya sebagai seorang anak. Namun, ia sedikit menyayangkan tindakan Rewindra dengan menanyakan arti kehidupan seorang untuk sahabatnya tersebut. “Kalau begitu arti Rolando untuk kehidupanmu seperti apa, Win?”
Rewindra terdiam membisu begitu mendapati sebuah pertanyaan yang di ajukan untuk dirinya.
“Si@lan kau, Dav!” umpat Rewindra geram. “Kau juga, Ser! Mengapa memojokkanku seperti ini, hah?”
“Siapa yang tega membuatmu merasa terpojok. Aku hanya ingin menyadarkanmu bo.doh!” omel David dengan mencebik kesal.
Mereka pun tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Rewindra menanyakan tentang cara untuk menghadapi kemarahan dari Rolando. “Bagaimana cara meluluhkan Ando untuk tak terlalu kecewa denganku, Dav? Kau ada saran yang bagus tidak?”
__ADS_1
“Sory, Wind aku belum menikah dan tak begitu memahami tentang anak kecil.” David angkat ketika harus mendapat pertanyaan untuk meluluhkan hati anak kecil.
Rewindra pun terdiam membisu setelah mendengar pernyataan dari David yang tak begitu mengerti tentang kehidupan anak kecil. Namun telinganya pun kembali mendengar ejekan yang dilontarkan oleh David.
“Dasar! Kau itu Win bisa buat anak tapi tak tahu cara meluluhkan hatinya bagaimana, sih. Heran! Dia juga kan anakmu sendiri bukan orang lain.”
David tak henti mengomeli Rewindra, dan membuatnya tertawa terbahak-bahak. Namun hal tersebut membuat Rewindra teringat dengan seseorang yang membuat Rolando begitu takut bertemu dengan orang lain.
“Apa kau mengenal Sonya, Dav?” tanya Rewindra yang sedang memastikan sesuatu.
Tawa David terhenti ketika pendengarannya tak sengaja mendengar sebuah nama yang terasa familier di telinganya. “Sonya, ya!”
Rewindra mengangguk yang tak lama kemudian ia menunjukkan sebuah foto di dapatkannya saat tengah melacak identitas dari wanita tersebut pada David sang sahabat tercinta.
“Bagaimana kau bisa mengenalnya, Win?” Bola mata David melotot lebar begitu melihat foto tersebut.
“Kau mengenalnya?” Rewindra mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
Akan tetapi David justru membalik pertanyaan yang ia lemparkan untuk Rewindra. “Dia selalu berwira-wiri masuk ke dalam Bar milikku. Apa kau mengenal Samuel Rajendra Nasution?”
“Oh, dia yang kau maksud adalah saingan bisnisku di setiap rapat antara klien dan aku selalu bertemu dengannya. Kenapa memangnya, Dav?”