
Kaki gadis itu kembali berpijak di gerbang utama gedung sekolahan untuk menunggu sang putra keluar dari gedung itu.
Setelah Araela dari perusahaan yang dipimpin Millo, gadis itu berkunjung ke toko untuk membungkus kembali figura berisi foto yang dirobek, oleh dirinya dengan ia menuliskan surat ditujukan untuk anak lelaki tersebut.
“Mama harap kamu menyukai hadiah ini, bukankah inilah yang selalu ingin kamu tunggu? Aku harap setelah ini kamu tak, perlu membencinya meskipun dia memberikan luka itu.” Berbisik pelan dengan kedua tangan membelit tas erat, untuk menjaga agar hadiah yang akan diberikan tak terjatuh.
Satu jam menunggu di gedung sekolahan, sang putra yang ditunggu-tunggu itu pun berlari menghampirinya. “Mama datang untuk menjemput ‘ku, bukan?” Rolando menodong tanya dengan napas terengah-engah, membuat sang mama tergelak melihat tingkahnya.
“Hari ini Mama ingin mengosongkan waktu hanya untuk mengajakmu jalan-jalan ke Mall. Apa kamu mau ikut bersama Mama? Sekalian Mama mengajak anak-anak jalanan, nah bolehkah Mama melakukan ini sebagai hadiah ulang tahunmu?” Araela mengemukakan pendapat dengan kedua tangan gadis itu, menyodorkan bungkusan cantik seperti kecantikan di dalam hadiah tersebut. “Ini hadiah pertamamu dari Mama, buka di rumah saja! Ada surat dari Mama yang ku’ tuliskan untukmu.”
Rolando membalasnya dengan melesak masuk ke dalam tubuh mungil dengan, mengucap terima kasih atas hadiah dari sang mama tercinta. “Terima kasih, Mama. Aku pikir Mama tak ingat hari ulang tahunku ternyata kamu memberiku hadiah, dan hadiahmu jauh lebih berharga dibandingkan apa pun. Aku mau jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersamamu!”
Araela mengangguk dengan salah satu tangannya menempelkan benda pipih berlogo apel tergigit, yang tak lama terdengar nada sapaan di arah seberang.
“Ya, Honey. Kenapa menghubungiku? Kamu tidak masuk kerja? Aku tak melihatmu ada di kantor.” Sapaan dengan todongan tanya, membuat gadis itu enggan membalasnya.
“Aku ingin mengajak Oland menghabiskan waktu. Apakah kau mengizinkanku untuk Berlibur hari ini, Bee?”
“Kamu tak mengajakku juga, Hon?” Terdengar rengekan manja dari arah seberang. “Tega kamu, Hon!”
“Ini me-time ‘ku bersama putraku, aku tak mau kau mengacaukan kebersamaan kami!” Araela menegaskan yang membuat Rewindra mengalah.
“Baiklah, Hon. Lakukan sesukamu!” putus Rewindra dengan nada memelas. “Sebagai gantinya malam ini, aku ingin kamu menjadi milikku. Soal Oland biar titip di mansion mama, bagaimana nyonyaku apa kamu keberatan?”
“Tidak.” Tegas, singkat, dingin membuat Rewindra bernapas lega. Namun, gadis itu kembali melontar kata lain. “Kau tak perlu cemburu berlebihan, saat aku bertemu dengan David untuk kali ini. Bukankah itu sepadan?”
“Loh, bukankah kamu bilang ingin me-time bersama Oland?” Rewindra penasaran.
“Tentu saja me-time ‘ku tetap berjalan, hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersama Oland. Soal David itu tak akan lama.”
“Baiklah terserah ‘mu, Hon. Hati-hati! Aku mencintaimu, Nyonya Rewindra.”
“Me, too.” Balasan singkat, padat dan bersamaan dengan, Araela yang lebih dulu mematikan panggilan tersebut.
__ADS_1
“Ayo naik ke atas motor ini, Sayang!” Araela mengajak putranya dengan ia memberitahukan bahwa, mereka telah mendapat izin dari sang kepala keluarga. “Pegang perut Mama dengan erat ya, Sayang. Mama akan membawamu mengebut di jalanan!”
“Hmm.” Rolando bergumam pelan yang membuat Araela semakin tergelak.
Tak lama kemudian motor sport dengan warna merah-kehitaman itu, meliuk-liuk di jalanan bersamaan si pengendara sedikit mengebut ‘kan laju hingga sampailah mereka, di basement parkir Mall dan Ara menyuruh sang putra turun dari atas motor itu.
“Setelah ini kita tunggu teman-temanmu ya, Sayang.” Araela berujar dengan ia kembali menempelkan ponsel yang sedang disambungkan, di arah seberang hingga panggilan itu pun tersambung bersamaan nada sapaan dari panggilan. “Sssttt! Jangan berisik dulu, ya.”
“Halo, Ra. Ada angin apa kau menghubungiku?” David melontar tanya, setelah sapaan itu tak balas.
“Bisakah kau datang menemui ‘ku di Mall, Dav. Ada hal yang ingin kukatakan bersamamu.”
“Oke! Kirim alamat itu, sepuluh menit aku datang ke sana.”
“Jangan lupa bawa beberapa anak jalanan yang kau temui untuk menemanimu ke Mall.” Tak lupa Araela memberi perintah, dengan nada pinta dingin.
Hal tersebut membuat David di ujung seberang ponsel terperanjat kaget mendengarnya. “Untuk apa dengan anak jalanan itu, Ra?”
Tanpa menunggu balasan dari ujung, Araela kembali mematikan sambungan. Namun, ia tak menyadari jika di ujung sana sang sepupu, menggeram kesal atas permintaannya.
“Ayo, Sayang. Kita tunggu mereka di depan lobi Mall. Nanti kamu bisa bermain sepuasnya.” Araela mengajak sang putra berjalan kaki di depan lobi sambil, menunggu kedatangan sepupunya yang akan menemui gadis itu.
“Ulang tahunmu nanti, apa selalu dirayakan oleh oma?” Sambil menunggu Ara melontar pertanyaan.
Rolando mengangguk dengan mimik wajah sendu. Sendu yang tak mungkin dilupakan oleh anak lelaki tersebut. “Aku justru membenci hari ulang tahunku sendiri, Ma.”
“Kenapa?”
“Di hari yang sama mommy meninggalkanku di dunia dan karena, hal itulah yang membuat daddy membenciku.”
Sorot mata sepasang ibu — anak saling bertukar pandangan karena ingatan Araela, tertuju pada bayi merah yang pernah melesak begitu nyaman dalam dekapan hangatnya.
Sampai membuat mereka kembali berjodoh dan hanya di hadapan gadis itu Rolando Wiratama, berkeluh kesah dan melampiaskan yang selama ini dipendam oleh pria kecil itu.
__ADS_1
“Tidak ada orang tua yang membenci anaknya, Sayang. Mungkin saat itu, dia masih terguncang atas kematian mommymu. Ada alasan lain yang membuat dia membangun tembok. Mama tak bisa membahas ini sekarang karena, di dalam surat yang tertuang kamu akan menemukan jawaban itu.” Araela berujar tegas yang membuat Rolando menurut.
Sampai suara bariton bersamaan sapaan dari beberapa anak-anak yang, dibawa itu membuyarkan pembahasan antara ibu — anak tersebut.
“Maaf agak terlambat, Ra. Aku agak sedikit kesulitan menemukan mereka.” David mengeluhkan permintaan sang sepupu tak masuk akal. “Lalu untuk apa kau memintaku membawakan mereka?” tanyanya dengan rasa penasaran tinggi.
“Mentraktir mereka untuk merayakan ulang tahunnya.” Araela menegaskan dengan singkat, padat, jelas. “Ini sudah melewati kesepakatan kita, kapan aku bisa bertemu langsung dengan ayahmu, Dav?”
“Jangan di sini, Ra!” jawab David. “Kita bahas sambil makan, apa kau tega membiarkan mereka kelaparan?”
“Kau pesankan mereka untuk makan di KFC!” Araela memerintah David. “Sebelum main di time zone, kita makan dulu ya, Sayang. Kamu ingin apa?”
“KFC, Ma.”
Araela mengangguk, dengan ia kembali memerintah David. “Pesanan untuk Oland jangan disamakan dengan mereka, dia yang akan menunjuk sendiri. Kau cukup antarkan dia mengantri, dan juga jangan lupa pesanan mereka!”
“Ra ....” Terlihat begitu jelas jika, David berusaha untuk memprotes.
“Lakukan jangan protes.”
“Bayarnya bagaimana, Ra?”
“Kau!” Telunjuk gadis itu mengarah pada tubuh tinggi tegap yang tengah, ternganga syok yang membuat Araela semakin tergelak lucu. “Aku dan mereka akan menunggumu!”
“Tega kau, Ra.” David menggeram kesal. “Ayo ke sana sama Om untuk membuat pesananmu dan mereka!” ajaknya kemudian sambil berdecak kesal ketika, mengetahui jika sang sepupu begitu berani memerasnya. “Kelewatan sekali dia! Bisa-bisanya memintaku menemuinya hanya untuk diperas.”
“Jangan menghina mamaku, Om.” Rolando memberi teguran yang dilayangkan, untuk pria dewasa di hadapannya. “Anggap saja kau sedang bersedekah untukku dan juga mereka. Aku sebentar lagi ulang tahun, dan karena ini kami bisa me-time berdua.”
“Astaga, tidak anak dan ibu sama-sama menyebalkan.” David mengumpat pelan yang terdengar oleh Rolando.
“Aku akan mengadukan hal ini pada daddy!” Rolando menyahut dengan nada ancaman.
__ADS_1