
Setelah tidak melihat punggung sang bujang lapuk yang menghilang dari pandangannya gadis itu kembali memprotes tingkah laku, kakek yang begitu terang-terangan ingin mengungkapkan jati diri sebagai seorang peretas handal.
“Kenapa Kakek mau membongkar, identitasku di hadapan dia?”
Gunawan yang duduk di atas kursi roda tergelak lucu, ketika mendengar pertanyaan bernada protes dari cucunya. “astaga anak nakal kamu masih marah dengan pria senja ini?”
“Aku tidak marah, Kek. Namun, kali ini kuʼ mohon jangan biarkan dia mengetahui hal apa pun tentangku … seharusnya bujang lapuk itu memiliki anak buah yang bisa, diandalkan untuk mengorek informasi latarku sebagai peretas handal yang dicari-cari.”
“Apa itu berarti kau akan membiarkan dia, mencari statusmu sekarang?”
“Ya.” Jawaban dari sang cucu, membuat pria itu mengangguk. Namun, sedetik kemudian dia agak terkejut ketika mendengar gadis itu memberikan sebuah pertanyaan tentang, rahasia lain yang sampai sekarang masih disembunyikan. “Aku tidak mempermasalahkan alasanmu menyembunyikan rahasia terbesarmu, Kek … kuʼ harap itu bukan suatu hal yang membuatku kecewa … kalaupun mau aku bisa menarikan jemariku di atas keyboard laptop, tapi aku sangat menghargai keputusan yang Kakek ambil.”
“Apa kamu benar-benar penasaran dengan kejutan itu, Nak?” Gunawan memastikan, tapi anggukan dan gelengan kepala sang cucu, membuat pria senja gemas dengan tingkah laku anak nakal itu.
Semenjak dia mengetahui sang cucu sebagai peretas yang handal, pria senja itu dibuat tercengang dengan tingkah lakunya. Oleh karena itu, sahabatnya William tidak salah memilih anak nakal itu sebagai cucu menantu, seperti yang pernah mereka bicarakan sebelumnya karena sang cucu sebagai dewi keberuntungan.
Bukan itu, saja jika saja anak buahnya tidak melapor bahwa sang cucu diam-diam menyelidiki, ada penggelapan dana di perusahaan milik sahabatnya sudah dipastikan perusahaan tersebut akan tumbang dengan mudah.
Maka dari itu, William sudah begitu sangat lama ingin mengikat bayi mungil bujang lapuk-nya, bukan karena hal lain yang membulat tekad mempererat persaudaraan mereka.
“Kapan kamu menghubungi Satria, Nak?” Setelah keduanya lama termenung pria senja itu, kembali menanyakan orang kepercayaannya, tapi ada maksud lain di dalam diri Satria menjabat, sebagai orang kepercayaan sang nona muda.
“Kenapa menanyakan dia lagi … bukankah orangmu itu sehari-harinya, melaporkan kebiasaan anak nakal ini kepadamu, Kek?”
“Kakek cuma bertanya, Nak … kenapa kamu mengambil risiko melindungi perusahaan itu?” Perusahaan yang dimaksud adalah milik sahabatnya.
“Kalian mungkin dulu saling tolong-menolong dalam merintis usaha yang dibangun, tapi aku sangat membenci orang-orang tamak dan serakah, lalu alasanku mengambil risiko ini karena aku tidak ingin perusahaan sahabat Kakek kehilangan investor.”
“Lalu kamu memberatkan pekerjaannya begitu bukan, Nak?”
“Aku sudah mendapatkan beberapa nama yang terdaftar, sisanya kuʼ serahkan kepadamu orangmu.”
“Lalu apa kamu akan marah lagi dengan pria senja ini, Nak? Menempatkan Satria di posisi yang sulit.”
“Aku tidak akan pernah bisa marah denganmu, Kek … sejak aku hadir di kehidupan kalian sampai sekarang, membuatku berpikir kalau Kakek yang selalu mengerti posisi cucumu ini.”
Menahan air mata yang berkaca-kaca, gadis tersebut kembali teringat pesan kakek yang memintanya pergi ke butik, untuk memilih sebuah pakaian yang akan dikenakan karena dia benar-benar tidak bisa pakai gaun.
__ADS_1
Mengambil benda pipih bergigit apel sebelah, Araela menghubungi nomor ponsel seseorang, tak lama kemudian terdengar sahutan dari arah seberang.
“Hallo, dengan siapa saya berbicara? Ada yang bisa dibantu?” Orang yang dihubungi gadis itu dialah Louser, asisten pribadi Rewindra yang begitu terkejut mendengar nada dingin dari lawan bicaranya.
“Tak perlu basa-basi karena aku tidak kenal denganmu … katakan kepada tuanmu untuk, segera menemuiku di butik. Ku tunggu sebelum acara itu dimulai!”
“Tunggu dulu ….” Belum sempat Louser melanjutkan, dia sudah lebih dulu menyela ucapan tersebut.
“Calon tunangannya menunggu di sana!”
Sambungan itu pun terputus dengan dia sendiri mematikannya. Tak lupa gadis itu berpamitan kepada sang kakek.
Sebab, dia tidak ingin membuang waktu lama sedangkan di tempat lain. Louser yang pertama kali berbicara melalui ponsel, dengan calon nona muda-nya lebih dingin dibandingkan sang sahabat sendiri.
Kuʼ kira gadis itu akan lembut pada para pria? Siapa yang menyangka dia akan menandingi duda casanova itu. Ini akan menjadi tantangan dia yang selama ini, mampu membuat wanita mana pun merangkak di atas ranjang, akan lebih susah menaklukan hati dingin calonnya sendiri.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Louser harus segera memberi kabar bahagia dinantikan oleh Rewindra.
Tanpa mengetuk pintu, pria muda itu menerobos masuk ke ruangan sang atasan, lebih mengesalkan duda casanova itu lebih memilih urusan pekerjaan, daripada pesta pertunangannya sendiri yang tak lama lagi akan segera dimulai.
“Kalau masuk ketuk pintu dulu, Ser. Jangan biasakan menerobos masuk.”
“Jadi, dia menghubungimu bukan menghubungiku? Apa yang dikatakan oleh dia?”
“Butik.”
“Maksudmu aku harus bersama dia datang ke butik begitu bukan, Ser?”
Menatap datar sang asisten, membuat pria muda itu begidik ngeri. Namun, suara getaran ponsel memecahkan keheningan.
Louser yang membuka kembali ponsel, terkejut mendapati sebuah pesan singkat, alamat butik yang harus di datangi oleh kedua orang tersebut.
“Mana ponselmu, Ser.”
Melihat isi pesan singkat membuat duda casanova itu menyeringai licik, diam-diam Rewindra menyimpan nomor ponsel tersebut.
“Hari ini tidak ada jadwal bukan?” Bertanya pada sang asisten, sambil menyerahkan ponsel itu kepemiliknya.
__ADS_1
“Khusus hari ini Tuan Besar William meminta beberapa karyawanmu, untuk tidak terlalu mementing pekerjaan … beliau pun sempat bilang acara pesta pertunanganmu di sebuah hotel.”
“Lalu kau dengar apa dari kakek?”
“Beliau juga ingin memberi kejutan hari bahagianya kar ….
“Kenapa kau malah membuat teka-teki seperti ini? Menyusahkan saja!”
Louser mendengkus kesal karena dia merasa ditindas, oleh dua orang yang mempunyai sikap dingin yang sama.
Melihat jarum jam rolex dipergelangan tangan kiri, membuat Rewindra memutuskan menemui calon istri. Namun, sebelum dia meninggalkan tempatnya dan membuat pria itu mematung, setelah mendengarkan ucapan dari sang asisten tentang anak sahabat papanya, begitu terang-terangan meklaim bahwa Rewindra Wiratama hanya milik Sonya seorang.
“Sepertinya aku melewatkan satu hal yang tak kuʼ ketahui mengenai-nya?”
“Jangan cemaskan hal ini, semoga saja wanita itu tidak membawa firasat buruk, yang bisa mungkin menimpamu. Terpenting berhati-hatilah dengannya sekarang!”
Tanpa menyahut duda casanova itu pun, akhirnya meninggalkan sang asisten yang sedang termenung.
Tak sampai butuh waktu yang lama, Rewindra telah sampai di tempat tujuan, bersamaan itu sampailah gadis bar-bar tersebut yang sedang menunggangi motor sport besar, tapi tubuh mungil itu pun mampu membawa kuda besi roda dua.
.
.
.
.
.
Marriage With(Out) Love
Author: MinNami
Elnara wanita cantik yang begitu pandai hingga dikagumi oleh banyak orang terutama kaum Adam. Sayangnya, kecantikan dan kepintaran Elnara tidak bisa menaklukan hati Zayan. Segala cara Elnara lakukan demi bisa menikah dengan Zayan, termasuk menggunakan kekuasaan keluarganya agar Zayan mau menikah dengannya.
Mampukan Elnara menaklukan hati Zayan? Atau justru Elnara memilih menyerah dan membebaskan Zayan dari belenggu pernikahan tanpa cinta?
__ADS_1