Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar

Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Tidak Menginginkan Bukan Berarti Tidak Mau Naik Tahta Kerajaan


__ADS_3

“Tidak apa-apa kau paham bukan jika aku sedang kedatangan tamu bulanan ... seharusnya kau memahami itu!” sahut gadis yang menolak permintaan sang suami yang mengajaknya mengobrol hanya untuk membuang-buang waktu. “Kita jemput putra-ku di rumah mama dan papa, dan juga saat aku tidur nanti jangan sampai tanganmu bermacam-macam, atau kau akan menerima hukuman lebih daripada ini!”


“Hanya satu macam saja kenapa tidak boleh, Nyonya? Tidak lihatkah si belalai gajahku sakit di kepala dan itu terasa sangat menyiksa ... aku akan membuktikan tidak akan mengulangi hal-hal yang tidak disukai olehmu!” Rewindra harap-harap cemas dengan rengekan manja yang, membuat gadis itu menggeleng tidak percaya dengan segala tingkah laku dari pria itu.


“Lalu aku harus apa dan bagaimana? Bahkan kau sendiri saja melanggar hukuman yang seharusnya dikerjakan olehmu, atau kau ingin mengajarkan hal-hal jelek pada putra-ku, hah?” Araela menyibir pria yang tidak berhenti merayu hingga gadis itu memenuhi permintaan pria di hadapannya.


Sampai membuat gadis itu mendapat serangan mendadak dengan sebuah tangan kekar menarik tengkuk, mencecap bibir ranum candu yang berbahaya sambil mengobrak-abrik dan saling membelit.


Membuat gadis itu, mendaratkan pukulan keras di dada untuk menghentikan pria yang tidak pernah berhenti mencecap bibirnya seperti saat ini.


“Bibir ranum milikmu ini benar-benar candu berbahaya untukku! Jadi, kamu tidak perlu terkejut dengan tindakan yang kulakukan untukmu, Nyonya!” Berbisik pelan di hadapan bibir ranum sang istri setelah pria itu, memberinya serangan mendadak tanpa takut akan sorot mata dingin. “Apa pun itu aku tidak akan pernah berhenti mencairkan hati dinginmu yang seperti kutub utara.”


Melihat sorot mata kesungguhan dari pria di hadapannya membuat gadis itu diam-diam, menyeringai sambil melihat seberapa keras pria itu menaklukkan kebekuan hatinya yang dingin.


“Kalau begitu aku ingin segera sampai rumahku! Tapi, sebelum itu kita harus menjemput putra-ku di sana!” Gadis itu enggan membalas pernyataan yang terucap, dari sang suami dengan memerintahkannya untuk segera menjemput putra-nya.


Bukan itu saja, hati Rewindra tidak pernah berhenti membuncah ketika mendengar sang istri menyebut putra-nya, seolah-olah Rolando telah menjadi bagian dari kehidupan gadis tersebut sampai dia menangis dalam diam.


Ketika hendak menjemput putra-nya dari luar ruang rahasia tersebut masih ada seseorang yang tidak lain Prasetya tersenyum semringah melihat raut wajah dari, putri kesayangannya tercinta hingga membuat pria baya itu berdehem keras untuk menghentikan langkah kaki dua insan yang hendak meninggalkan ruangan tersebut.


“Apa kalian sudah ingin pulang? Terutama kamu, Sayang ... sudah puaskah melihat suasana di dalam sana?”

__ADS_1


Gadis itu menganggukkan kepala. “Ruang rahasia itu ... tidak ada orang lain yang mengetahuinya selain aku bukan, Pa?” Araela melontarkan pertanyaan balik.


“Tentu saja tidak!” tegas pria itu bernada dingin dengan dia kembali mengajukan pertanyaan lain. “Lalu saat mereka memintamu naik tahta di singgasana ... apa sudah siap dengan keputusan yang kamu ambil, Sayang?”


Tentu saja gadis itu sangat terkejut mendengar jika pria baya di hadapannya sedikit mengetahui, bahwa dia akan menjadi pemimpin kerajaan yang sejak lama sudah ditakdirkan untuk itu.


“Bagaimana kamu bisa mengetahui hal ini?”


“Tentu saja sudah sangat lama aku mengetahuinya, Sayang ... bahkan aku harus selalu beradu skill dengan paman-mu itu, agar dia memberiku izin atas skenario yang telah kubuat sejak lama.”


“Apakah bujang lapuk itu mengetahui skenario yang kau buat ini?”


Prasetya menggeleng. “Aku yang menarik kehidupannya untuk menjadi tameng meskipun dia yang mengorbankan segalanya untukmu!”


“Kamu benar Ara ... aku dan adikku mencintai wanita yang sama, mendiang mamamu! Tapi, terlepas dari apa yang dilakukan oleh wanita dibenci olehmu, semua itu tidak luput dari pengawasanku yang sejak lama aku mengetahui permainan mereka.”


“Lalu apa kau menyesali keputusanmu yang memasukkan wanita ular itu, ke dalam kehidupanmu sendiri sampai kau memainkankan skenario ini?”


“Apa yang telah menjadi skenario itu, tentu saja sudah sejak lama aku harus berani mengambil risiko ... bahkan sebenarnya mendiang mamamu sudah lebih dulu dijodohkan dengan Morgan, tapi ibu bersikeras untuk tetap menjodohkannya dengan pria pengecut sepertiku.”


Araela bungkam ketika dia mendengar sebuah kebenaran yang semakin jelas bahwa gadis itu tidak bisa membenci pria baya di hadapannya terlalu lama.

__ADS_1


Oleh karena itu, dia memutuskan akan membuka hati dan memulai lembaran baru bersama dua pria yang telah diizinkan masuk ke dalam kehidupan pribadinya.


“Semua sudah terjadi dan apa pun itu ... mama selalu mencintaimu sampai napasmu berhenti berdetak, dan juga aku tidak akan bisa membencimu terlalu lama karena ... aku tidak akan pernah ada di dunia jika kau dan mama tidak saling mencintai, tapi aku sangat merasakan jika kalian benar-benar sangat mencintaiku sedalam rasa sakit yang kau pendam sendiri.”


Menghampiri lalu mendekap erat tubuh mungil bayi merah yang dulu dia hancurkan hatinya, tapi sekarang pria itu tidak menyesali semua keputusan yang telah menjadi bagian dari skenario dibuat oleh dirinya.


“Apa itu berarti kamu sudah mempersiapkan dirimu untuk naik ke atas singgasana di sana?” Prasetya mengulang dengan harap-harap cemas.


Akan tetapi, gadis itu belum terlalu ingin menggantikan kedudukan Raja George karena dia masih ingin menikmati kehidupannya yang sekarang.


“Aku tidak bermaksud menolak keputusan kakek ... hanya saja masih ada beberapa hal yang ingin kuselidiki sendiri, sebelum aku benar-benar naik ke tahta itu ... mengingat di kerajaan pasti ada beberapa pemberontak yang tidak menginginkan pemimpinnya diganti seorang wanita sepertiku, apalagi aku seorang gadis yang baru saja diumumkan sebagai penggantinya kelak.”


Pria baya itu tidak bersuara setelah putrinya memberikan sebuah alasan yang membuat dia tidak terlalu mencampuri sebuah keputusan yang diambil oleh gadis tersebut.


Tidak berselang lama kemudian gadis itu, pamit undur diri meninggalkan pria baya yang membetah melamun karena memang dia, benar-benar belum siap untuk itu dan juga dirinya sampai sekarang belum menyelidiki apa pun tentang situasi di sana.


Di dalam mobil yang dikendarai oleh Rewindra dengan sang istri yang masih, bungkam setelah dia mendengarkan arah pembahasan sepasang ayah — anak.


“Jadi, kamu benar-benar akan menggantikan baginda Raja, Nyonyaku?” Sambil menyetir Rewindra melontarkan sebuah pertanyaan.


Akan tetapi, gadis itu enggan menjawab pertanyaan hingga membuat pria itu mendengkus kesal. Niat hati ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan kerajaan, tapi dia disuguhkan wajah dingin sang istri yang lebih mematikan dari sebelumnya.

__ADS_1


Meskipun itu dia sama sekali tidak takut dengan sikap dingin sang istri sampai membuat bibir pria itu mengerucut kesal.



__ADS_2