
"Ampun, Mama!" rengek Rolando dengan wajah melasnya yang berhasil membuat, gadis itu menghentikan tarikan telinga pada putranya. Namun, tidak berlaku untuk mantan duda casanova itu pun harus menahan sakit, dan kebas karena tarikan yang dilakukan oleh sang istri tidak main-main luar biasa sakitnya.
Kedatangan ibu mertua yang tidak lain Dahlia, membuat gadis itu terkejut dan sekaligus sedikit malu. Mengingat ini pertama kali dia memperlihatkan sisi lain yang selama ini tidak pernah orang lain pun mengetahuinya.
"Kenapa Mama datang kemari?" tanya Rewindra bernada sewot. Hal tersebut membuat pria itu mendapat, cubitan pedas yang dilakukan oleh sang istri tercinta.
"Mama kemari untuk melihat Ando dan dia ... kenapa kamu yang jadi sewot begini, Win!" jawab Dahlia dengan mencebik kesal. "Sayang, ada apa dengan telinga kamu?"
"Daddy nakal, Oma!" adu Rolando dengan mencari pembelaan.
Siapa yang menduga pernyataan dari mama-nya membuat, anak lelaki tersebut tidak bisa membohongi sang nenek. Bahkan hanya melihat sorot mata dingin itu sudah membuat Rolando tidak dapat berkutik banyak.
"Jadi, kalian dijewer karena berebut perhatian darinya?" tanya Dahlia sambil menahan tawa.
Sepasang ayah dan anak itu kompak mengangguk, bahkan salah diantara mereka tidak berani membuat masalah.
"Maaf hanya ini yang bisa ku' hidangkan untuk, Mama!" Sambil meletakkan secangkir teh dari nampan. Gadis itu menawari ibu mertua untuk meminum teh panas yang tersedia di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa mesti repot-repot membuatkan teh untukku, Sayang?"
Enggan membalas pertanyaan, hanya senyuman yang mampu membuat sepasang ayah dan anak ikut senyum semringah, ketika melihat kedekatan antara dua wanita yang masih saling berdiam membisu.
"Mama, ada perlukah dengan istriku?"
"Apa kamu takut istrimu aku serobot, hah," sentak Dahlia dengan nada sinis.
"Mama seperti cenayang saja," ucap Rewindra sambil meringis, menampilkan deretan gigi putih yang rapi.
"Rewindra!" teriak Dahlia yang membuat gadis itu menatapnya, dengan sorot mata dinginnya.
"Jangan, Honey!" sahut Rewindra lirih.
"Kalau begitu diamlah!" titah gadis itu tanpa ada bantahan.
Tidak ingin kehilangan jatah malamnya. Rewindra pun tidak lagi mencari masalah dengan sang istri, sampai urusannya bersama sang mama tercinta selesai. Pria itu lebih banyak diam hingga membuat dia mendapat bisikan pelan dari putranya.
__ADS_1
"Ternyata mama bisa jadi galak ya, Dad?"
"Ssttt, Boy ... jangan macam-macam kalau tidak ingin kena marah oleh dia!"
"Telingaku jadi kebas kena jewer mama, Dad! Daddy yang memulai dulu," cetus Rolando sambil mengerucut kesal.
"Bukan kamu saja yang kebas, Boy! Lihatlah telinga Daddy sampai memerah seperti ini!" imbuh Rewindra sambil memperlihatkan daun telinga masing-masing.
Obrolan sepasang ayah dan anak itu pun menarik perhatian seorang gadis serta, seorang wanita baya yang berdecak kesal dengan tingkah laku keduanya.
"Apa kamu merasa pusing dengan tingkah mereka?" tanya Dahlia sambil menggelengkan kepala.
"Aku tidak memusingkan tingkah laku Oland. Namun, tingkah laku pria itu yang membuatku pusing dan juga dia tidak ada rasa malu sedikit pun. Meskipun dia melakukan hal gila di hadapan putranya sendiri." Sambil melipat kedua tangan di dada. Gadis itu mencurahkan segala isi hatinya tentang tingkah laku, dari sang suami yang membuat darahnya mendidih.
"Adakah rasa sesal yang membelenggu hatimu saat ini, Sayang?"
"Apa yang menjadi keputusan ku' ambil! Tidak ada rasa sesal sedikit pun, atas apa yang terjadi pada diri ini. Kalaupun boleh memilih ... aku hanya ingin seseorang menganggap keberadaanku ada! Meskipun luka yang ditorehkan tidak akan pernah bisa membuatku membencinya."
__ADS_1
"Sayang ....