
Sesampainya di kamar pribadi Sonya. Wanita baya itu terkejut melihat keadaan kamar sang putri yang terlihat begitu berantakan, dan mendapati putrinya yang menangis sesenggukan di atas ranjang.
"Sayang!" panggil Mayang lembut sambil menghampiri sang putri dan duduk disampingnya.
"Aku tidak mau tinggal di mansion ini, Ma! Bahkan aku menolak kehadiran orang yang mengaku-ngaku sebagai papa kandungku! Bukan aku anak kandung papa Pras?"
"Tentu saja selamanya papa Pras adalah papa kandungmu," sahut Mayang sambil menghibur sang putri.
"Benarkah, Ma?" Sonya memastikan bahwa dia hanya menginginkan Prasetya, bukan pria lain yang menempatkan dirinya di mansion ini.
"Tentu saja meskipun sebenarnya ...."
"Sebenarnya apa?" sela Sonya dengan raut wajah bingung.
"Tidak jadi, Sayang," ucap Mayang. Namun, di dalam batinnya wanita itu membenarkan bahwa pria tersebut memanglah papa kandung putrinya.
__ADS_1
"Mama tidak sedang berbohong pada putri kesayanganmu ini bukan?"
"Tentu saja tidak, Sayang. Kamu mulai meragukan Mamamu sendiri?"
"Kalaupun Mama berbohong demi kebaikanku tidak masalah! Asalkan aku bisa keluar dari tempat ini! Karena aku sangat membenci dan tidak akan sudi untuk tinggal bersamanya!"
"Nanti kita pikirkan rencana ini ya, Sayang! Untuk sementara waktu mau tidak mau kita harus tinggal di sini sambil menunggu celah, agar Mama bisa membawamu kabur dan membuatnya menyesal karena berurusan dengan kita!"
Sonya mengangguk pasrah dan setuju dengan pendapat yang diucapkan oleh sang mama tercinta, sambil menunggu celah wanita itu sudah tidak sabar untuk segera meninggalkan mansion ini dan bukan itu saja dia pun akan, kembali membuat perhitungan dengan musuh bebuyutannya yang tidak lain seorang anak pembawa sial.
"Kau dengan sendiri bukan seperti apa sifat dan watak asli dari anak serta istriku?" sahut Bastian dingin.
"Lalu Anda inginnya bagaimana, Tuan Bastian?"
"Segera laporkan hal ini pada Morgan dan sampaikan juga pada Pangeran Devander, untuk memberiku beberapa pengawal dari kerajaan untuk berjaga-jaga, jika dua wanita licik itu melakukan hal gila mereka langsung bisa meringkusnya!"
__ADS_1
"Tuan ... apa Anda sangat yakin dengan keputusan yang Anda ambil? Bukankah selama ini Anda merindukan nona muda?"
"Aku mengurungkan niatku untuk dia! Karena setelah mendengar penolakan darinya, aku berpikir untuk tidak terlalu memaksa kehendaknya menerima keberadaanku. Namun, bukan berarti aku akan berhenti begitu saja ketika istriku berniat membawa kabur putriku! Sampai kapan pun mereka tidak akan pernah bisa lari dari tempat neraka yang ku' ciptakan!" tegas Bastian dengan nada dinginnya.
"Apa itu berarti Anda membiarkan mereka ditangkap oleh mereka?"
"Sudah seharusnya mereka mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukan oleh kedua wanita itu! Aku sudah tidak peduli dengan keadaan mereka setelah ini!"
Asisten pria baya itu tidak dapat berbuat banyak ketika mengetahui, apa yang diinginkan oleh tuannya mutlak tanpa bisa diganggu gugat.
"Kalau begitu saya pamit undur diri, Tuan!"
"Jangan lupa sampai permintaanku pada kedua sahabatku!"
Setelah membungkuk hormat yang tidak lupa menyampaikan pesan dari seseorang ditujukan untuk tuannya. Entah mengapa ada suatu hal yang ingin dibahas oleh pemuda tersebut, hingga membuat pria baya itu menuruti permintaan dari seorang pemuda yang mengajaknya bertemu.
__ADS_1