
“Apa dia selalu mengancammu, Ser?” Dahlia tak begitu dengan Rewindra yang selalu menindas asistennya itu.
“Tidak juga, Nyon–” belum sempat menjawab pertanyaan itu.
Dari arah tangga terdengar langkah tergesa-gesa, dan dialah Rewindra sendiri berdecak kesal dengan sang Mama, selalu saja mencampuri urusan pribadinya. “Bisa tidak Mama jangan terlalu bawel seperti ini, hah!”
“Apa kamu akan memprotes Mamamu ini, hah!” Dahlia tanpa takut memprotes tingkah laku dari Rewindra itu sendiri.
Enggan mengidahkan apa yang san Mama proteskan itu, ia lebih memilih menyuruh Louser masuk ke dalam mobil untuk menjalankan perintahnya. “Jangan hiraukan apa yang Mamaku katakan, lebih baik segera atur mobil itu.”
Dahlia menatap pandangan sang putra dengan raut wajah yang sangat datar. Namun, tidak bagi Rewindra Wiratama tanpa pernah takut dengan sorot mata dari Mamanya. “Kamu mau pergi ke mana, penjahat si anu? Apa mau bermain-main lagi?”
Mendengkus kesal itulah yang dirasakan oleh Rewindra, ketika sang Mama selalu menyebutnya penjahat anu yang ternyata memang itulah jati dirinya, suka menjajankan diri dengan wanita sewaan alias ja’lang. “Ma, Indra mohon jangan pernah mencampuri urusan pribadiku.”
__ADS_1
Tak memedulikan raut wajah Dahlia yang sulit di artikan. Rewindra mengarahkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam mobil, dengan Louser yang sedari tadi menunggu dan hanya bisa mengumpatnya menggunakan batin.
Mobil yang di kendarai oleh Louser kini sedang membelah jalanan, tak lupa manik matanya melirik dari spion, menyaksikan raut wajah dingin yang di keluarkan oleh Rewindra.
“Ku arahkan ke mana mobil ini, Win?” tanya Louser seraya memecahkan kesunyian di dalam mobil tersebut.
“Arahkan mobil ini ke rumah sakit, dan juga hubungi Elvaro karena aku sangat membutuhkannya.”
Hampir sekitar dua puluh menit berlalu, mobil itu pun tiba di halaman parkiran rumah sakit. Namun, Rewindra belum mau turun karena di depan kursi depan ada Louser yang sedang menghubungi sepupunya itu.
“Halo ada apa kau menghubungiku?” tanpa menyapanya Elvaro berdecak kesal ketika sedang beristirahat tiba-tiba di ganggu oleh seseorang yang selalu membuat darahnya mendidih.
“Aku dan sepupu dinginmu itu ada di halaman parkiran rumah sakit. Kau ada waktu tidak?”
__ADS_1
“Ck, selalu saja seperti ini. Datang tak di undang pulang tak di antar. Dibutuhkan saat ada maunya saja, dan katakan itu pada tuanmu itu. Menyusahkan orang saja!”
Akan tetapi, saat Louser mau membalas perkataannya. Ia tiba-tiba mendapat ancaman mematikan dari sepupu dinginnya ini. “Sudah bosan hidup kau, El! Apa mau aku mengirimkanmu ke tempat jauh, tanpa ada alat canggih dan komunikasi, hm?”
“Lima menit dari sekarang aku tunggu. Jika tidak aku akan pulang!”
Panggilan terputus karena Elvaro mematikannya lebih dulu sambil mengumpat tingkah dari sang sepupu yang sama sekali tak ada ubahnya, baik dari dulu sampai sekarang masih tetap menjadi dingin semenjak di tinggalkan oleh mendiang istrinya itu.
Tak perlu membutuhkan waktu yang ditentukan, Rewindra pun telah tiba di ruangan sang sepupu untuk menanyakan tentang si belalai gajah.
“Kau itu ya selalu seperti ini saat membutuhkanku.” Elvaro memprotes tingkah laku dari Rewindra. “Ada perlu apa denganku?”
“Aku ingin memeriksakan si belalai gajah milikku. Apa kau bisa menjabarkan dengan jelas dan rinci?” Rewindra langsung pada intinya.
__ADS_1