
“Oh, ya. Jadi, Mama harus membahas ini dengannya begitu, Win?” Dahlia melontar pertanyaan.
“Ya.” Rewindra mengangguk lalu netra manik mata hitam itu mengarah pada, manik mata kecokelatan yang masih setia dengan tatapan dinginnya. “Jika kamu tidak mau membagi bebanmu di hadapanku. Bahas ‘lah bersama Mama, dan tumpahkan semua itu di hadapan beliau.” Berbisik pelan di hadapan bibir ranum candu berbahaya itu, hingga suara sang mama tercinta menyahutnya.
“Biarkan Mama yang mengajak istrimu mengobrol, Win. Sana bawa masuk Ando karena sudah beberapa hari ini putramu merengek, dan sering menanyakan tentang kado di hari ulang tahunnya nanti.” Kemudian wanita paruh baya itu membuka suara, melontarkan pertanyaan tertuju untuk sang menantu. “Mau membahasnya di mana, Sayang?”
Mengangkat dagu yang menunjuk sebuah taman yang luas, ia pun bisa leluasa untuk melampiaskan perasaan gelisah itu.
Menikmati semilir angin yang berembus dua wanita berbeda generasi itu, saling berdiam diri dan enggan membuka obrolan.
Sampai membuat wanita paruh baya itu menyerah, dan ia sendiri yang memulai obrolan tersebut. “Jadi, apa yang ingin dibahas olehmu bersamaku, Sayang?”
Menghela napas gusar gadis itu mempersiapkan diri dan berhati-hati dalam melampiaskan perasaannya, mengingat ia tidak ingin mama mertuanya terkejut setelah perasaan gelisah itu terlampiaskan.
“Sebelumnya aku meminta maaf denganmu, Ma.” Araela melontarkan permintaan 'maaf' yang membuat, dahi Dahlia mengerut heran mendengarnya.
“Maaf untuk apa?”
“Masih belum bisa memberi Mama cucu selain Rolando. Aku juga harus benar-benar memastikan, bahwa dia adalah satu-satunya pria yang kucintai sepanjang napas ‘ku!” Araela mengungkapkan pernyataan dari lubuk hatinya.
“Kamu benar-benar mirip dengan mendiang mamamu.” Dahlia terharu dengan memberinya pujian. Wanita baya itu tidak pernah mempermasalahkan tentang cucu lain, yang masih belum bisa didapatkan dari rahim gadis barbar tersebut. “Masalah cucu lain yang berasal darimu, Mama tidak selalu mengungkit hal itu. Ada waktu lain yang bisa kamu pakai untuk, mengenal lebih dalam sisi lain Rewindra. Selama ini yang dia kejar hanya kenikmatan sesaat, aku takut tidak bisa memberinya nasehat. Sekarang ada kamu masuk ke dalam kehidupan anak nakal itu, sudah wajar untuk mengubah kepribadiannya yang, sekarang telah menjadi bucin hanya denganmu seorang. Mama sangat senang mendengarnya.”
Araela terharu dengan terbukanya wanita paruh baya itu, hingga tanpa sadar ia melesak masuk ke dalam pelukan.
Melampiaskan perasaan rindu untuk mendiang sang mama tercinta sebelum, ia membahas perasaan gelisah-nya pada wanita baya itu.
__ADS_1
“Sekarang katakan pada Mama, apa yang membuat perasaanmu gelisah?” Dahlia melontarkan tanya setelah, ia puas memberikan pelukan hangat untuk sang menantu. “Mama tidak akan membaginya di hadapan suamimu, jika itu yang kamu takutkan.”
“Itu memang ada hubungannya dengan masa lalu suamiku yang belum usai.” Araela berkata dingin. Membuat Dahlia terkejut mendengarnya.
“Maksud kamu?”
“Apa yang akan kamu lakukan, jika di lain waktu. Datang seorang wanita yang menyodorkan cucu selain Rolando di hadapan, Mama? Meskipun dia juga memberimu selembar bukti kecocokan gen dengan putramu.” Araela pun bercerita tentang seorang wanita yang sudah lama diselidiki oleh gadis itu.
“Jangan bercanda dengan Mamamu ini, Nak.” Dahlia terkejut dengan pernyataan yang diungkapkan oleh sang menantu. Kini ia pun paham alasan menantu yang terlihat gelisah dan tidak baik-baik saja. “Selama masa penjajahan segala lobang itu, tidak mungkin Rewindra meninggalkan bibitnya. Ini sungguh konyol yang pernah Mama dengar.”
“Itu hanya perumpamaan saja, Ma. Aku tidak bermaksud menakuti ‘mu, dan putramu itu memang belum ada yang usai dengan masa lalunya. Aku hanya berjaga-jaga saja dan alasanku, mengungkapkan hal ini di hadapanmu biar ke depan nanti tidak kaget, dengan kedatangan seorang wanita yang membawakan-mu cucu lain.”
“Jadi, itu yang membuat perasaanmu gelisah sebagai seorang istri?”
“Ya, Ma.” Araela mengangguk.
“Sebelum putramu masuk ke dalam kehidupanku, sudah lama aku menyelidiki identitas serta masa lalunya. Aku tidak menyangka menemukan suatu hal yang di luar nalar dan wanita itu, cepat atau lambat akan mengusik rumah tangga kami yang sudah beberapa bulan merangkai kisah.”
“Itu juga yang membuatmu meminta maaf karena masih, belum bisa memberiku seorang cucu?”
Kembali menganggukkan kepala sambil menyembunyikan perasaan, yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata.
Lawan gadis itu jauh lebih licik dari seorang Sonya yang, telah menikah dengan pria masa lalunya.
Dahlia kembali bersuara setelah ia tak mendapat balasan dari gadis yang begitu pandai menyembunyikan, kesedihannya dengan memberikan pelukan hangat untuk mengobati perasaan gelisah. “Mama tidak bisa berjanji, Nak. Untuk masalah perasaanmu, Mama akan mengusahakan berlaku adil. Kalaupun dia datang menghadap Mama dan menyodorkan seorang cucu, Mama akan membantumu diam-diam mencocokkan ulang gen darahnya. Apa itu tidak apa-apa, Sayang?”
__ADS_1
“Dia jauh lebih licik dari wanita ular itu, Ma.” Mengadukan perihal kelicikan di hadapan sang mertua hingga wanita paruh baya itu, tertawa keras membuat kedua pipi Araela menyembulkan semburat merona malu. “Aku juga sudah menyelidiki identitasnya sampai dalam, Ma.”
”Oh, ya?” Dahlia setengah tidak percaya dengan pernyataan yang diungkapkan oleh sang menantu. “Untuk apa kamu membagi bebanmu di hadapan, Mama? Bukankah Rewindra berhak lebih mengetahui segala tentangmu? Mama yang tidak paham dengan jalan pikiranmu.”
“Hanya Mama dan beberapa orang saja yang bisa menjaga rahasia tentang sisi lain di dalam diriku!” Gadis itu terlalu nyaman dengan Dahlia yang, merupakan sahabat dari mendiang mamanya. “Jangan beritahukan perihal tentangku, biarlah dia sendiri yang mengetahuinya. Bujang lapuk itu pun, sama sekali tidak mengetahui apa pun tentangku.”
“Astaga, Sayang.” Dahlia menggeleng tidak percaya dengan, pernyataan yang diungkapkan oleh sang menantu. “Bukankah dia jauh lebih posesif dari papamu sendiri, Nak?”
“Aku pusing dengan mereka, Ma. Setiap bertemu selalu ada bahan yang menjadi, perdebatan antara duda casanova dan bujang lapuk itu.” Tak lupa Araela mengadukan tingkah laku suami dan omnya.
“Kamu masih memanggil mereka dengan julukan masing-masing?”
“Itu julukan yang pantas untuk mereka.” Araela berkata dingin.
Tak lama kemudian, Rewindra menyusul sang istri yang terlalu asyik membagi beban bersama Dahlia, tanpa memedulikan raut wajah cemberut yang diperlihatkan oleh sang suami.
Justru, gadis itu menanyakan keadaan sang putra tercinta. “Apa Oland sudah tidur?”
“Dia menunggumu di kamarnya, kamu sendiri sudah selesai dengan Mama?”
“Ya.” Jawaban singkat dan padat membuat Rewindra tidak berani, menanyakan hal lebih di hadapan gadis itu. “Ayo masuk ke dalam, Hon! Perlukah bermalam di mansion ini?”
Araela menggeleng tegas. “Aku ingin pulang ke rumahku sendiri!”
“Baiklah!”
__ADS_1