
Duda Casanova itu dikejutkan dengan penampilan seorang gadis yang membuat belalai gajah meradang karena ulahnya.
Bisa dibayangkan seperti apa penampilan dari gadis bar-bar tersebut? Hanya memakai kaos oblong dipadukan dengan celana jeans robek itulah, yang membuat belalai gajah si casanova meradang.
Tak lama kemudian pria itu terkejut melihat sang putra yang telah turun dari mobil, dengan mengikuti langkah sang gadis yang dianggap kakak cantik oleh anak lelakinya.
Mau tidak mau terpaksa dirinya mengikuti langkah kaki sang putra, sambil menitipkan mobil yang dikemudikan sebelum memasuki area pasar malam.
“Jangan terburu-buru dulu, Boy,” panggil Rewindra dengan setengah berteriak.
“Nanti kakak cantik hilang, Dad.”
Mengembuskan napas gusar membuat sang duda itu mengikuti langkah kaki sang putra, setelah dia berhasil menitipkan mobil dan membeli dua tiket untuk mereka.
Tak berselang lama kemudian langkah kaki kedua pria berbeda generasi itu berhenti ketika mereka mengikuti berhentinya, langkah kaki gadis tersebut di sebuah permainan yang baru pertama mereka datangi.
Sebab, gadis itu sedang melakukan permainan di tempat dia berdiri dan membuat, salah satu anak jalanan mengamati kedua pria berbeda generasi dari kejauhan.
Karena takut kedua orang tersebut sangat mencurigakan ia menghampiri sambil menanyakan maksud, tujuan mengikuti langkah dari gadis bar-bar yang anak jalanan anggap sebagai dewi penolong.
“Hei, mengapa kau mengikuti dia?” tanyanya seraya menunjuk ke arah di mana sang gadis itu bermain.
“Memangnya ada larangan mengikuti kakak cantik, hah?” sarkas Rolando dengan kedua tangan terlipat di dada.
Membuat si duda casanova terkejut mendengar nada sarkas yang diucapkan oleh putranya. “Boy ... jangan seperti ini, Nak. Tidak baik mengucapkan kata itu. Paham!”
“Dia duluan yang memulai, Dad,” dengus anak lelaki itu dengan bibir mengerucut tajam.
“Sudah-sudah jangan marah, Boy ... ayo masuk ke dalam, sebelum kakak cantikmu menghilang.”
__ADS_1
Kedua pria berbeda generasi itu pun melangkahkan kakinya kembali, sampai mereka melihat sesosok gadis itu, bahkan keduanya seperti seorang penguntit yang tidak disadari oleh sang target.
Tak berselang lama kemudian mereka melihat gadis itu sedang memainkan sebuah permainan dan dengan, kelihaian jemari lincahnya menarik perhatian kedua pria yang tengah mengawasi entah apa dipikirkan oleh ayah dan anak tersebut.
Tanpa sadar sang target bersiap-siap meninggalkan tempat permainan itu, dengan membawa sebuah hadiah dalam genggaman tangannya yang membuat, seorang anak lelaki menatap dari kejauhan mempunyai ide untuk menyapa kakak cantiknya itu.
Mengikuti langkah kaki sang target dengan setengah berlari, sampai membuat anak lelaki itu terpaksa memanggilnya. “Kakak cantik tunggu!”
Sementara Araela merasa ada yang memanggilnya tanpa berpikir panjang gadis itu, membalikkan tubuh dan terkejut melihat Rolando dengan deru napas tersengal-sengal. “Sayang ....”
Akan tetapi, dari arah kejauhan sang duda casanova mengumpat geram karena dirinya benar-benar dibuat gerah oleh penampilan gadis tersebut, ditambah beberapa tetesan peluh keringat membanjiri tubuh ramping menambah siksaan untuk si belalai gajah miliknya.
Sialan! Mengapa harus bertemu seperti ini? Kau benar-benar membuat si belalai gajahku meradang. Hei, sadarlah dia bukanlah gadis-gadis yang selalu menghangatkanmu. Bersabarlah cepat atau lambat kau akan masuk ke dalam sana.
Batin duda casanova dengan melawan hawa napsu yang tercekat ditenggorokannya.
Kembali dengan Araela sedikit mendongak kepala karena tubuh anak lelaki itu, lebih tinggi dari tubuh mungilnya sambil, menanyakan kabar dari anak lelaki dianggapnya adik.
Rolando terkikik pelan, tanpa menjawab pertanyaan dari kakak cantiknya, justru anak lelaki itu mengarahkan telunjuk di mana sang dady berdiri.
“Jadi, kamu kesini dengan dia?” Araela memastikan. Namun, tatapan dingin menusuk yang berasal dari duda casanova itu, tidak membuatnya merasa takut terintimidasi karena bagi dia hal tersebut bukanlah hal yang penting, tapi untuk Rewindra sendiri dibuat geram dengan penampilan dari calon ibu anak-anaknya.
Menghampiri kedua orang yang tengah mengobrol dengan raut wajah begitu dingin, tapi itu tidak akan membuat Araela takut Menghadapinya karena dia sendiri, sudah terlalu kaku bertemu dengan calon jodohnya kelak.
Begitu sampai di depan sang putra, tanpa banyak kata duda casanova itu melepaskan jaket dipakai putranya, untuk dipakai oleh gadis tersebut karena dia sendiri tidak akan membiarkan siapa pun, melihat lekuk tubuh mungil dan hanya dirinya sendiri yang boleh melihat keindahan di depan mata.
“Jangan mengaturku, Pak,” sahutnya dengan nada ketus serta gadis itu kembali, memakaikan jaket yang terlampir dipakaikan ke anak lelaki itu.
“Hei, angin malam tidak bagus untuk tubuhmu ... apa salahnya memakai jaket Rolando.”
__ADS_1
Tak ingin melihat keduanya bertengkar, anak lelaki itu pun mengambil alih dengan memberi peringatan, agar sang dady tidak mencampuri urusan pribadi kakak cantiknya ini.
“Dad ....” Anak lelaki itu, memberi isyarat dengan gelengan kepala dan dia tidak ingin sang kakak cantiknya, merasa dikecewakan dengan tingkah laku yang dilakukan oleh dady-nya.
Membuat duda casanova itu mengalah dan membiarkan sang putra melakukan sesuai dengan keinginannya sembari, melihat kedua orang beda generasi tengah melakukan sebuah permainan yang, membuat keduanya melepaskan semua tawa begitu menyejukkan relung hati Rewindra Wiratama.
Beberapa jam kemudian kedua orang berbeda generasi itu saat ini tengah tertidur, di dalam mobil yang sedang dikemudikan oleh duda casanova di arahkan ke apartemen miliknya.
Sesampai di apartemennya, pria itu meminta bantuan para penjaga untuk menggendong anak lelakinya, sedangkan dia sendiri menggendong tubuh mungil yang membuat si belalai gajah meradang.
Akan tetapi, dia tak menyadari ada sepasang mata-mata yang memotret kegiataan yang dilakukan oleh pria itu, bahkan mata-mata tersebut merupakan orang-orang kiriman dari sang kakek tercinta.
“Sudah kau dapatkan gambarnya?” Salah seorang rekan mata-mata William, menanyakan tugas yang sedang mereka lakukan.
“Semuanya beres tinggal kita kirim ke Tuan Besar William,” ujarnya seraya menunjukkan beberapa gambar yang telah diambil oleh dirinya.
“Baiklah kau saja yang menghubungi asisten tuan besar.” Menyesap rokok di antara kedua jari sembari memberi perintah pada, rekannya untuk segera melaporkan hasil yang telah didapatkannya.
Tanpa membuang banyak waktu, ia menyambar ponsel untuk menghubungi asisten tuan besarnya, serta memberinya laporan hasil pantauan yang beberapa belakangan ini mereka lakukan.
“Jangan menghubungi kalau kau dan re ….
“Saya akan melaporkan hasil pantauan beberapa belakangan ini, Bos.”
“Katakan dengan jelas tanpa ada kekurangan dan kelebihan. Paham!”
Mata-mata itu menjelaskan secara rinci sesuai yang belakangan ini, mereka lakukan tanpa terkecuali.
“Saya akan mengirim beberapa foto sebagai petunjuk hasil pantauan kami, Bos.”
__ADS_1
“Baiklah lakukan tugasmu seperti biasa dan jangan sampai tuan muda kalian mengetahuinya.”
Setelah memberikan laporan mereka terus melakukan pantauan secara diam-diam sesuai dengan tugas dari tuan besar sendiri.