
Tengkuk Bastian yang sedang memegang setir kemudi pun mendadak merinding ketika dia mendengar, nada ancaman diucapkan oleh sang putra mahkota tentang putri kandungnya, telah bersinggungan dengan sebuah kerajaan dari negara begitu terkenal di negaranya.
“Bisa tidak jangan membuat buluku berdiri seperti ini, Van? Kau itu tak perlu mencemaskan perihal putriku. Sebab, dia telah menjadi urusanku meskipun pada akhirnya anak itu tetap me ….”
“Bahkan tanpa malunya pun dia berani terang-terangan, merebut perjodohan yang memang hanya diperuntukkan keponakanku tersayang.”
“Bagaimana kau mengetahui hal ini juga, Van?”
Pangeran Devander berdecih sinis, “bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya kepadamu, bahwa semua tentang putrimu aku begitu sangat tahu. Jadi, dia masih bermimpi ingin merebut kebahagian yang dinantikan oleh keponakanku? Salah besar dia melawanku, Bung!”
Sampai Bastian tidak menyadari mobil yang dikendarai oleh dirinya, telah sampai di depan pintu gerbang Villa milik sang raja.
“Dasar selalu saja begini tingkah lakunya,” gumam Bastian sambil kembali melajukan, mobil yang dikendarai oleh pria baya itu.
Sementara itu, di dalam gerbang Villa sang pangeran pun mendapat sapaan, dari beberapa penjagaan yang bertugas sampai akhirnya, pria baya itu mendapat tatapan mematikan dari sang permaisuri.
Hal tersebut sukses membuat nyali pria baya itu menciut dibuatnya. Karena takut akan kemarahan dari sang permasuri itu sendiri.
“Sa … yang ….”
“Masih ingat jalan pulang ke sini?” sindir wanita itu dengan kedua tangannya berkacak pinggang.
“M … af,” cicit sang pangeran dengan terbata-bata.
“Setidaknya jika ingin mengunjungi rekan kuliahmu dulu … berpamitlah kepadaku, Mas. Mungkin aku akan mempertimbangkan kemarahanku untukmu.”
“Baiklah aku akan menerima hukuman darimu.” Tanpa membantah, Paingeran Devander begitu pasrah dengan hukuman yang akan dijalankan oleh pria baya tersebut.
__ADS_1
“Selama berada di Villa … kamu tidak kuʼ izinkan sekamar bersamaku. Sampai disini paham, Mas?”
Inilah yang sering ditakuti sebagian kaum adam dan mau tidak mau dengan terpaksa, Pangeran Devander melakukan apa yang telah diminta oleh sang permaisuri tercinta.
Setelah itu, mereka telah mendaratkan bokong di atas kursi di ruang makan, serta ada Raja Goerge menggelengkan kepala melihat tingkah laku dari kedua insan tersebut.
“Salam hamba, Ayahanda.”
“Makanlah terlebih dahulu karena ada yang ingin kuʼ bahas denganmu.”
Tidak ingin membuat sang raja menunggu terlalu lama, pria baya itu memakan sarapan pagi mereka dengan tenang, sampai akhirnya dia mengajukan sebuah pertanyaan.
“Maaf telah membuat Ayahanda menunggu. Apa yang ingin Anda sampaikan?”
“Nanti sore temani Ayah menemui pertemuan antara Gunawan dan sahabatnya dan kita buat pertemuan, mereka menjadi sebuah kejutan yang tak terduga atas kedatanganku kemari. Bagaimana menurutmu?”
“Dari seorang pengawal yang melaporkannya kepada Ayahmu ini, Nak. Sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mereka?”
“Tentu saja aku sangat tidak sabar bertemu dengan bujang lapuk itu, Yah!”
Sementara sang permasuri yang sedari tadi diam menyimak obrolan mertua, dengan sang suami tidak kuat menahan tawa, yang ingin diledakkan akibat tingkah laku suaminya itu.
“Jangan lupa minta para pengawal bertugas seperti biasa dan jangan, sampai media mengekspos kegiataan privasi kita di sini. Kamu mengerti apa yang Ayahmu katakan?”
“Baik!”
Lalu pandangan mata sang raja pun menangkap ekspresi, raut wajah permaisuri yang seperti sedang menahan tawa.
__ADS_1
“Ada apa?”
.
.
.
.
.
Blurd
Season 1
Bab 1- 127
Menceritakan awal mula dan perjalanan Kasih dalam menemukan tentang keluarga kandung dan balas dendam.
Season 2
Bab 128 - tamat.
Perjalanan cinta Kasih juga beberapa tokoh lainnya. Apakah mungkin masih bisa mempercayai dan menemukan cinta? Siapa lagi sebenarnya musuh yang masih mengganggu ketentraman keluarga ini?Rahasia apa lagi yang di tinggalkan kedua orang tuannya?
__ADS_1