
Gadis itu menolak untuk menginap karena di dalam mansion ini dia ingin menghargai privasi seseorang yang pernah menjadi bagian dari keluarga pria di hadapannya.
Dia tidak ingin menjadi sesosok gadis egois hanya untuk sebuah rasa cemburu karena semua yang dirasa oleh dirinya mampu terpendam, dengan sendiri meskipun selalu melihatkan sikap dingin tapi jauh di relung hati terdalam memulai nyaman berada jangkauan pria tersebut.
Bukan itu saja, dirinya akan melakukan penyelidikan ulang para pemberontak kerajaan yang dipimpin oleh kakeknya sambil menunggu kabar, dari sepupu atas permintaan pertemuannya dengan Pangeran Devander yang tidak lain saudara kembar mendiang mama-nya tercinta.
Setelah urusan mereka selesai tidak lupa gadis itu mengembalikan semua data yang terkena virus tanpa ada satu pun, tersisa dari virus-virus dengan dia mengumpat kesal membayangkan sesuatu hal di luar nalar.
“Edan wes tenan wong geblok kae! Mosok saben enek tamuku teko ngene ... opo iyo aku kudu ngelakoni koyok ngono mau? Tapi lek enggak diwenehi malah ngetok.no gombalan sak arat-arat ... pancen.ne dudo messum enggak ketulungan sak dunyo, ki ae wes enek bukti nang awak malah akeh tatto gawean.ne dudo casanova iku! Angel tenan wes angel temen.” Menggunakan bahasa jawa untuk mengeluarkan unek-unek yang tertahan karena gadis itu, sangat kesal dengan tingkah laku sang suami yang tidak pernah berhenti membuatnya melayang-layang.
Sampai dia tidak menyadari raut wajah bingung hingga dahi pria itu mengernyit ketika mendengar luapan kesal dengan bahasa yang tidak dipahaminya.
“Sebenarnya bahasa apa yang kamu gunakan ini, Nyonya?” Rewindra menghampiri gadis itu dengan melontarkan pertanyaan hingga, membuatnya terhenyak kaget melihat dia yang sudah berdiri di samping gadis tersebut. “Aku benar-benar tidak memahami apa yang membuatmu meluapkan isi dengan bahasa itu?”
“Lebih baik tidak perlu mengetahuinya apa yang kuluapkan!” balas gadis itu dengan nada galak.
Rewindra tergelak lucu mendengar nada galak yang terucap dari bibir gadis di sampingnya, hingga dia menampilkan bibir yang berkedut ke atas tanpa disadari oleh sang istri. “Kamu sendiri tidak membersihkan diri dulu, Nyonya? Aku tidak ingin sisa laharku yang keluar dari bibir ranum ini, tercium oleh kedua orang tuaku dan sudah pasti mereka akan meledekmu habis-habisan.” Pria itu melanjutkan dengan memberi cibiran tertuju pada istrinya hingga Araela menunjukkan, sorot mata mendingin untuk menutupi semburat merona yang menyembul di kedua pipi gadis tersebut.
__ADS_1
Tawa pria itu pecah setelah berhasil membuat istrinya marah sampai membuat kedua pipi Rewindra memerah karena handuk yang melingkar merosot ke bawah, dengan si belalai gajah tertidur pulas sampai pria itu menyadari bahwa dia telah salah mengerjai sang istri dengan diri sendiri yang terkena sial atas tingkah lakunya.
“Sialan! Kenapa justru aku yang terkena karma karena mengerjaimu nyonyaku? Ckk! Sangat memalukan dan untung saja dia tertidur pulas karena sudah mendapatkan apa yang dimau!”
Bersamaan itu, dia sangat santai memakai kembali pakaian yang teronggok di lantai tanpa memedulikan si belalai gajah yang melenggak-lenggok dengan tertidur pulas.
Tidak berselang lama kemudian, sepasang suami — istri sampai di depan meja makan dengan mendudukkan bobot tubuh masing-masing, di atas kursi untuk menikmati sarapan dengan diiringi suara dehem keras dari kepala keluarga di mansion ini.
“Apa sarapan di kamar lebih penting daripada perutmu, Win?” Pramana melontarkan pertanyaan setelah pria baya itu yang, memberi kode deheman keras ditujukan untuk dua insan tersebut.
“Apa aku harus menjelaskan hal ramah-temeh seperti ini pada dirimu, Pa?” Rewindra membalasnya dengan membalik pertanyaan.
“Sepertinya waktu telah mengubahmu ya, Win ... aku tidak heran dengan sikapmu seperti remaja labil,” cibir Pramana dengan meledek.
Sampai saat Rewindra ingin membalas papanya terdengar nada dingin yang terucap dari sang istri, dan menyuruh untuk segera mengunyah sarapan tanpa ada drama apa pun di hadapan meja makan tersebut.
Di hadapan meja makan hanya terdengar suara denting sendok dan garpu tapi tidak untuk gadis itu menikmati sarapan menggunakan tangan dengan salah, satu kaki telah terangkat di atas kursi sampai membuat pria itu tercengang atas sikap ditujukan oleh Araela yang seperti berada di rumahnya sendiri.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian terdengar suara yang membuat kembali terkejut karena ini pertama kali dia melihat sisi lain di dalam diri gadis tersebut.
“Ada apa?”
“Apa kamu tidak dasar dengan sikapmu, Nyonyaku?”
Tanpa merasa bersalah gadis itu tetap acuh jika di sekitar meja makan masih terdapat tiga orang yang menggelengkan kepala melihat tingkah lakunya.
“Lalu mau apa kau?” Nada ketus dan galak yang terucap dari gadis itu membuat Dahlia meledakkan tawa yang sedari diam menyimak.
“Tidak perlu mengekang apa yang dilakukan oleh istrimu, Win ... dari yang Mama lihat, di luar sana sudah pasti dia melakukan tabbermaner baik tanpa harus belajar ... bukankah begitu, Sayang?”
Araela mengangguk tanpa membalas pertanyaan yang terucap dari mama mertuanya karena dia tidak perlu belajar tentang tata krama. Bahkan sejak saat gadis itu tinggal di tempat persembunyian dari publik, orang-orang dari desa tempat tinggalnya mengajarkan banyak hal hingga membuatnya bisa menguasai bahasa jawa.
Lebih penting tentang tabbermaner sudah sangat lama dipelajari oleh gadis itu sendiri sejak mendiang mamanya yang menjadi guru tersebut.
“Tapi, aku minta maaf padamu, Ma ....”
__ADS_1