
“Tentu saja aku harus mengambil keputusan itu, sebelum semuanya terlambat. Bagaimana sih, Pa!” omelnya dengan mencebik kesal. Namun, ia hampir melupakan sesuatu, terpaksa langsung mengutarakannya. “Lalu permintaan apa yang ingin Papa sampaikan denganku?”
“Sebenarnya hal ini bukan permintaanku sendiri, Win. Namun, apa yang akan ku’ tanyakan, denganmu merupakan permintaan dari mendiang nenekmu sendiri. Kau tak-kan keberatan?” Pramana membalik pertanyaan yang diajukan untuk putranya.
“Baiklah aku akan mendengarkan permintaan dari, nenek!”
Pramana kembali menceritakan sebuah kejadian yang sangat menggemparkan publik, dengan mengingatkannya kembali kejadian yang bertepatan bersamaan meninggalnya mendiang sang istri tercinta, “jadi kejadian itu bersamaan dengan istriku begitu, Pa?”
“Ya, Win.” Ingatan Pramana menerawang dengan kejadian yang anak mendiang sahabatnya, setelah kehilangan orang yang melahirkannya itu.
Gadis itu tak lain seorang anak yang tak dianggap oleh Prasetya mendapat sebuah fitnahan, karena dituduh membunuh nenek kandungnya sendiri, sampai-sampai membuatnya disembunyikan dari kalayak publik. “Apa kamu masih ingat dengan seorang gadis yang mampu membuat putramu masih bayi merah itu menjadi diam?” Pramana tak lupa mengingatkan kejadian yang tak perlu dilupakan semua orang.
“Aku ingat sekali, Pa. Apa mungkin gadis yang Papa katakan adalah orang sama?”
“Benar, dialah yang Papa maksud. Bahkan mendiang nenekmu sendiri telah membuat permintaan untuk Papa, yang sekarang akan ku’ sampaikan denganmu.” Ia juga ingin memastikan bahwa sang putra tak menolak keinginan yang ditinggalkan mendiang ibunda. “Apa kamu akan menerima perjodohan yang ditinggalkan oleh mendiang nenekmu, Win?”
“Papa tak bercanda denganku, kan?” Rewindra dibuat terkejut dengan permintaan dari mendiang sang nenek. “Apa aku mengenal gadis yang dijodohkan mendiang nenek, Pa?”
“Bahkan tanpa aku beritahu pun. Kamu sudah mengenal dan bertemu dengannya.” Pramana tak akan memberitahukan tentang gadis yang sudah lama dijodohkan itu, dan tanpa campur tangan siapa pun gadis yang membuat Rolando tersenyum itu adalah orang yang sama.
__ADS_1
“Bagaimana apa keputusan yang diambil olehmu, Win?” lanjut Pramana, sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.
“Kalaupun aku menolak permintaan dari nenek. Tentu saja jodohku tak akan ke mana-mana, ia pasti akan datang dalam waktu yang dekat. Aku benar-kan, Pa.”
“Papa tak peduli dengan keputusan yang kamu ambil, tapi permintaan mendiang nenekmu ini tidak bisa kamu tolak sembarangan. Ada alasan lain mengapa harus memintamu melakukan ini.” Cepat atau lambat menurut Pramana, putranya ini akan segera mengingat gadis yang telah mengembalikan senyum ceria di dalam diri Rolando Wiratama.
Setelah kedua pria beda generasi membicarakan hal serius, dengan langkah terburu-buru Rewindra berlalu meninggalkan sang papa, tanpa memedulikan raut wajah bingung papanya yang sedikit heran dengan tingkah lakunya.
Maafkan papa yang telah egois mendesakmu menginginkan perjodohan ini, yang pasti tanpa campur tangan siapa pun, jodohmu akan selalu ada didekatmu karena putramu sendiri ikut andil, dalam hal menyatukan kalian berdua dan aku sangat yakin itu.
Sesampainya di dalam kamar sang putra. Kening Rewindra mengerut heran ketika melihat kamar putranya yang terlihat tertata rapi. Hal tersebut membuatnya bingung selama ini setiap kali diam-diam menengok ke kamar ini selalu dalam keadaan berantakan. Namun, kamar milik Rolando terlihat sangat bersih tanpa ada mainan yang berserakan di mana-mana.
Matanya memicing ke arah ranjang di mana terdapat sang putra tertidur dengan lelap, tak ingin semakin penasaran ia mendekati ke arah ranjang itu, dan alangkah terkejut ketika mendapat seseorang tidur dan memeluk putranya begitu posesif.
Mengumpati tingkah laku si belalai gajah ketika mendapati seseorang yang begitu terlelap disamping putranya, dan untuk menghilangkan rasa dikepala tanpa membuang waktu banyak ia langsung ikut merebahkan diri disamping gadis tersebut, sembari memeluk erat dan menelusupkan-kan diri diceruk leher Araela, menghirup aroma tubuh gadis itu sampai membuatnya tak bisa menahan hasrat dengan menggigit pelan yang kemudian tercetaklah sebuah tanda biru keunguan.
Hasil karya yang tertempel diceruk leher Araela, tak menyadari ia diam-diam telah menandai gadis itu sebagai miliknya, yang juga dirinya tak menggubris rasa sakit dikepala karena menahan hasrat, tanpa melampiaskan apa pun pada ja’lang yang selalu menghangatkannya di atas ranjang.
.
__ADS_1
.
.
.
.
📢
Sekali lagi jangan tanya lagi kapan alur ini kok konfliknya bertele-tele, dan kapan si MC bersatu, tenang saja mereka nanti akan disatukan oleh seorang anak lelaki
Dan kenapa aku update agak jarang, karena aku lagi ada di paizo
Sekali lagi aku ada di paizo dengan napen berbeda
Yuk mampir juga sekalian nunggu yang disini
Oke 📢📢
__ADS_1
See you next time
Love you all sekebon cabe